Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku

Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku
Bab. 34


__ADS_3

"Ya Allah… akhirnya Nona Muda memperlihatkan kekuatan dan kekuasaannya, aku hanya berharap kedepannya Nona Arifah akan menemukan kebahagiaannya setelah beberapa bulan mengalami kesulitan hidup yang membuatnya terguncang," batinnya Bu Hamidah.


Arifah mengelus perutnya yang sudah datar," anakku maafkan bunda yang tidak bisa menjaga dan mempertahankanmu, tapi mungkin ini yang terbaik untukmu Nak, semoga kamu bisa tenang dan bahagia di sana, Bunda akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, karena ayahmu sama sekali tidak pernah mengharapkan kehadiranmu sehingga Allah SWT mungkin mengambilmu untuk pergi jauh dari sisinya Bunda Nak," ratapnya Arifah yang menitikkan air matanya itu.


Bu Hamidah ikut terisak melihat kondisi dari Arifah yang akhirnya memperlihatkan sisi


Arifah segera menyeka air matanya itu dan berjanji pada dirinya sendiri dan bertekad tidak akan mudah tertipu dengan mulut manis dari pria manapun yang nantinya akan mendekatinya itu.


"Selamat tinggal kenangan, selamat tinggal masa lalu aku tidak akan pernah mengingat kalian lagi yang sudah menorehkan luka dalam hidupku ini yang membuat aku bisa melihat tentang arti hidupku," batinnya Arifah.


Lima hari kemudian…


Pukul 10.16 pagi, rumah sakit swasta.


"Nom Arifah apa tidak lapar? Sudah jam sepuluh lewat loh tapi belum makan juga," ujarnya Bu Hamidah yang selalu setia menemaninya selama di rumah sakit.


Arifah segera buru-buru menyeka air matanya karena sudah berjanji tidak akan memperlihatkan sisi lemahnya kepada siapapun juga. Dia akan sekuat tenaga untuk tegar dan kuat menjalani sisa hidupnya itu.


Arifah yang duduk bersandar di headboard ranjang bangkar rumah sakit menyentuh dengan lembut punggung tangannya ibu Hamida, "Ibu kalau aku ajak ibu dengan bapak Rahmat bareng aku ke Inggris, apa kalian bersedia ikut bersamaku?" Tanyanya Arifah yang bernada permohonan itu.


"Insya Allah… Non Arifah saya akan ikut kemanapun pun Non pergi," ujarnya Bu Hamidah.


Arifah tersenyum gembira mendengar perkataan dan kesanggupan dari Bu Hamidah.


"Syukur Alhamdulillah… kalau kalian setuju ikut bersamaku, kalianlah satu-satunya keluargaku yang aku miliki saat ini, aku bahagia karena kalian selalu ada disaat aku bahagia dan terpuruk sekalipun, kalian sama sekali tidak pernah pergi jauh meninggalkanku, makanya aku sangat bahagia mengenal dan memiliki orang-orang baik seperti kalian semua," terangnya Arifah.


"Jangan berkata seperti itu Non,kami sudah berhutang budi banyak sekali pada mendiang almarhum Papa dan mamanya Nona sejak dulu, jadi wajarlah kami membalas semuanya itu dengan kasih sayang dan perhatian yang tulus dari kami," tukasnya Bu Hamidah.


Arifah tersenyum hangat dan senang karena,Fu dunia ini masih terdapat banyak orang-orang yang berhati mulia, ikhlas, tulus dan baik hatinya. Arifah bersyukur karena dikelilingi oleh orang yang sangat berarti untuknya dan mengerti dengan kehaidupannya itu.

__ADS_1


"Walaupun Nona tidak meminta hal itu, kami pasti akan ikut bersama Non sesuai kesepakatan kami dengan Tuan Fajar yang sudah membayar kami dengan cukup mahal untuk menjaga dan melindungi serta merawat Nona," Bu Hamidah membatin.


Perut Arifah tiba-tiba berbunyi berdendang ria membuatnya tersenyum malu-malu sambil mengelus perutnya itu yang jahitan setelah operasinya masih basah.


"Ibu saya ingin makan pecel apa ibu bisa belikan?" Tanyanya Arifah yang hari itu sangat ingin makan pecel.


"Bisa kok Non, Ibu akan ke luar untuk cariin pecel seperti yang Nona inginkan," imbuhnya Bu Hamida.


Arifah hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan dari perkataan Bu Hamidah.


"Saya harus menghubungi Tuan Muda Fajar seperti perjanjian kami sebelumnya akan selalu menginformasikan kepadanya tentang apapun yang terjadi pada Non Arifah," gumamnya Bu Hamidah sambil merogoh saku bajunya untuk segera menghubungi nomor hpnya Fajar, karena dia sendiri yang meminta kami jika sewaktu-waktu Non Arifah butuh dan perlu sesuatu katanya hubungin saja dia gitu," cicitnya Bu Hamidah yang sudah berada di luar.


Hanya butuh sekitar lima belas menit saja, pesanan Arifah sudah berada di dalam tentengan tangannya Bu Hamida. Dia bersyukur karena, diam-diam ada pria yang selalu ada dan hadir menyelesaikan permasalahannya itu.


Arifah tersenyum bahagia melihat pecel yang sudah berada di depannya itu. Arifah tanpa sepatah katapun lagi langsung menyantap makanan itu dengan lahapnya.


Bu Hamidah tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut yang kebetulan juga tergiur dan tergoda dengan aroma wangi khas bumbu pecelnya. Mereka kemudian makan dengan lahapnya, dan masih ada sekitar empat bungkus mereka sisakan untuk Mbak Retno Wulandari, Mang Deni Ilhamsyah dan juga Pak Rahmat Widodo.


Arifah Azizah Oktarani Zainul dan Bu Hamidah makan dengan lahapnya seolah-olah makanan yang berada di depannya itu adalah makanan yang terlezat dan ternikmat yang pernah mereka makan selama hidupnya itu. Bagaimana tidak makanan itu dibeli di restoran bintang lima yang sudah terkenal rasa dan kualitas makanannya dengan harga selangit.


Sedangkan di tempat lain, seorang pria dan wanita mengamuk karena tidak diijinkan untuk masuk ke dalam rumahnya setelah beberapa hari tidak pernah kembali karena berada di rumah sakit terus.


Pak Rahmat dan Kang Hendra menghalau keduanya itu, "Maaf Anda tidak bisa masuk ke dalam rumah majikanku,kalian berdua tidak berhak untuk mengiklankan kaki Anda lagi di rumah ini!" Tegasnya Kang Hendra yang bertubuh tinggi dan gempal adik iparnya Pak Rahmat yang sudah dipekerjakan atas permintaan dari Arifah.


Fauzi menatap jengah ke-dua orang itu yang berpakaian seragam security," apa!  Jangan ngaco deh,sejak kapan saya pemilik rumah megah dan besar ini dilarang untuk masuk ke dalam rumahku sendiri!" Cibirnya Fauzi.


"Benar sekali apa yang dikatakan oleh suamiku, kenapa kalian sok berkuasa banget, apa kalian tidak mengetahui dan sadar jika rumah ini adalah rumah kami, jadi kenapa kami tidak boleh masuk dan menginjakkan kaki kami sendiri di dalam," sarkas Aura Afidah Lukman yang berkacak pinggang dengan sikap jumawahnya itu.


"Kami sangat tahu siapa Anda ini satunya mantan suaminya pemilik rumah dan satunya lagi pelakor!" Cibirnya Pak Hendra dengan tatapan mencemooh ia layangkan untuk keduanya.

__ADS_1


"Mantan suami!" Beonya Fauzi.


"Benar sekali Non Arifah sudah memutuskan untuk menceraikan Anda, apa Anda tidak mengetahui hal itu?" Terkanya Pak Hendra sedangkan Pak Rahmat hanya berdiri mematung dengan santainya melihat respon kedua orang tidak tahu diri itu.


"Itu tidak mungkin! Pasti kalian semua ini hanya mengada-ada dan mengarang cerita saja, kalau kalian bohong aku akan melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian karena tindakan kalian tidak mengenakkan bagi kami!" Ancamnya Fauzi yang kalang kabut dengan situasi yang terjadi di depan kedua matanya itu.


"Sekedar informasi kami sudah mengeluarkan semua barang-barang peninggalan Anda berdua di pos sana jadi,kalau minat silahkan dicek sebelum meninggalkan rumah Nona Muda kami ini," sinis Hendra lagi yang sejak kedatangan mereka sudah mengantisipasi kedatangan mereka dengan berbagai hinaan karena sudah tersulut emosinya mendengar kisah pilu Arifah.


"Kalian akan aku tuntut seberat mungkin setelah aku berbicara dengan Pengacara Pak Daniel!" Gertaknya Fauzi yang segera menghubungi nomor hpnya Pak Daniel pengacara keluarga besar Arifah selama ini.


"Silahkan Pak, malahan itu ide yang bagus agar kalian lebih cepat dan mudah mengetahui jika apa yang kami katakan benar adanya," timpalnya Pak Rahmat yang sudah jengah melihat sikap mereka ini.


"Apa!! Itu tidak mungkin Pak Daniel saya adalah orang kepercayaan dari mendiang almarhum Abang Zainul dan Istrinya Almarhumah Mbak Aliya, jadi tidak mungkin posisi saya dy perusahaan sudah dicopot dan hanya bekerja sebagai karyawan biasa saja!" Tolaknya Fauzi yang semakin terpuruk dengan fakta baru di dengarnya itu.


Aura semakin marah mendengar suaminya sudah jatuh miskin," sial Mas Fauzi sudah melarat dan tidak memiliki harta lagi, aku kira rencanaku dulu berhasil untuk mengusir Arifah dari rumahnya ini tapi, malah kebalikannya kami yang harus hengkang dari rumah mewah ini, aku tidak mau miskin dan hidup melarat bersama Mas Fauzi!" Umpatnya Aura.


Pembicaraan mereka terhenti ketika mendengar suara klakson mobil dari arah belakang mereka. Aura dan Fauzi tepaksa menghindar dari arah jalan. Arifah segera menurunkan kaca jendela mobilnya ketika menyadari siapa orang yang telah mengacaukan dan membuat keributan di depan pagar rumahnya itu.


Arifah membuka kacamata hitamnya yang bertengger di hidung mancungnya itu dan hanya melirik sepintas lalu ke arah Fauzi pria yang pernah berstatus suami sekaligus ayah angkatnya itu.


"Dulu kamu ayahku, kemudian berubah menjadi suamiku tapi, karena ketamakan dan kemunafikan serta keegoisanmu sehingga sekarang berubah menjadi ayah angkat saja perlu digaris bawahi dia suamiku bukan ayah angkatku tetapi Itu berlaku dulu sebelum hatiku terluka," gumamnya Arifah sebelum berlalu dari sana.


"Mang Deni jalan!" Perintahnya Arifah kemudian menutup rapat kembali jendela mobilnya itu.


Fauzi segera berusaha untuk mengejar mobilnya Arifah, tapi sia-sia saja.


"Arifah, ini ayah Nak! Tolong berhenti Ayah mau bicara!" Teriaknya Fauzi sembari ingin meraih mobil itu tapi percuma saja.


Pagar besi menjulang tinggi itu tertutup rapat, sehingga usahanya Fauzi percuma saja untuk mengejar mobil sedan hitam itu.

__ADS_1


__ADS_2