
Fajar terkekeh melihat sikapnya Arifah yang setelah melihat kedatangannya malah bereaksi diluar dugaannya. Tubuhnya Fajar terhuyung hingga jatuh ke dalam permainan yang dipenuhi dengan bola. Tubuhnya yang kurang siap dan tidak seimbang ketika di dorong oleh Arifah hingga terjatuh ke dalam permandian bola.
"Arifah Azizah Oktarani Zainul," ucapnya Fajar yang sudah berdiri di belakang punggungnya Arifah.
Arifah yang mengetahui jika suara itu calon suaminya,dia tidak peduli bahkan ia segera berpindah tempat. Tapi, tangannya segera ditarik oleh Fajar. Tubuhnya Arifah tertarik dengan kuat hingga menabrak dada bidangnya Fajar.
"Stop! Jangan sentuh aku!" Cegahnya Arifah sambil mendorong tubuhnya Fajar sekuat-kuatnya.
Fajar sama sekali tidak marah malahan hanya tersenyum tipis menanggapi sikapnya Arifah. Arifah hanya menatap sinis terhadap Fajar calon suaminya itu yang esok hari sudah sah menjadi suaminya jika tidak ada halangan dan rintangan yang menghalangi dan menghadang cinta mereka.
"Kamu tidak pantas untuk menyentuhku! Kau bukan siapa-siapaku jadi stop untuk dekatin aku lagi!" Tegasnya Arifah lalu hendak pergi dari wahana bermain itu.
Arifah segera berjalan ke arah luar, tapi baru beberapa langkah kakinya melangkah, tangannya ditarik dengan kuat oleh Fajar hingga tubuhnya Arifah tertarik dan terjatuh mengenai tubuhnya Fajar. Hingga beberapa bola yang terkena dengan kedua tubuhnya langsung berhamburan ke atas.
"Aahh!! Mas Fajar aku benci kamu!" Teriaknya Arifah sambil berusaha untuk memukul-mukul tubuhnya Fajar dengan sekuat tenaganya itu.
Fajar sama sekali tidak bereaksi untuk menghindar malahan semakin mengeratkan pelukannya itu ditubuh rampingnya Arifah yang tertutup pakaian cukup tebal itu.
"Silahkan kamu pukuli Mas, asalkan kamu bahagia dan senang, lampiaskan saja semua amarahmu, Mas tidak ingin rasa marah dan jengkelmu masih ada menyelimuti hatimu ketika kita menikah nanti esok pagi," imbuhnya Fajar.
Arifah menatap sekilas ke arah calon suaminya itu dengan tatapan mencemooh," males aah, siapa juga yang mau nikah denganmu, coba lihat ke jariku ini apa cincin kawin sudah kamu berikan dan sematkan dijari ku enggak? Berarti aku bukan siapa-siapa loh" Tanyanya Arifah sambil memperlihatkan tangannya ke depan tepat wajahnya Fajar yang cara bicaranya yang blak-blakan mulai muncul lagi.
Fajar segera merogoh sakunya untuk mengambil sebuah kotak buludru berwarna merah lalu segera mengambil isi dari dalam kotak itu. Dia segera memegangi tangannya Arifah lalu dengan cepat dan gesit memasangkan cincin itu ke dalam jari manisnya Arifah dengan paksa.
Fajar mengarahkan tangannya ke tepat matanya Arifah yang masih melotot dan membelalak itu tanpa berkedip melihat apa yang dilakukan oleh pria pemaksa yang ada di depannya.
"Gimana apa aku sudah resmi menjadi calon suamimu? Kau tadi ngomong kamu bukan calon istriku karena belum pakai cincin pertunangan dariku, sekarang sudah makai berarti kau adalah calon bidadari surgaku," ujarnya Fajar yang semakin memeluk tubuhnya Arifah.
"Mas Fajar Arthur Prayoga, lepasin aku kesulitan bernafas!" Teriak Arifah yang semakin berusaha untuk berontak meloloskan dirinya dari dekapan hangat pelukannya Fajar.
__ADS_1
"Arifah Azizah Oktarani Zainul, Saya tidak akan lepaskan pelukanku jika, kamu belum berhenti untuk marah padaku!" Ketusnya Fajar.
Apa yang mereka lakukan beberapa orang-orang memperhatikannya dengan seksama yang kebetulan ada di tempat tersebut.
"Ya Allah… apa yang kalian lakukan!? Kalau mau main kuda-kudaan bukan disini tempatnya,lagian kalian berdua juga belum halal," sarkasnya seorang pria dan perempuan yang tertawa terbahak-bahak melihat reaksi kedua orang yang kedapatan bermesraan di tempat bermain anak.
Fadil Arkana Steven, Audina Laila Bashirah Prayoga dan Fikri Haikal Prayoga adalah adik dan sepupunya Fajar yang sengaja hadir di Mall tersebut setelah mencari keberadaan kedua calon manten itu. Fajar segera bangkit dari baringnya sambil memperbaiki pakaiannya yang cukup berantakan.
"Kalian berdua kenapa bisa ada di sini? Kau tahu gak kalian berdua itu gangguin kami, kalau cemburu sana cari pria yang menyukaimu terus contohin apa yang kami lakukan," candanya Fajar yang membalas perkataan dari mulut adik satu-satunya itu.
"Belum ada yang cocok soalnya Abang," timpalnya Fadil.
"Belum ada yang cocok atau hanya sekedar menolak terus jika dijodohkan," sarkasnya Fikri.
"Betul pakai banget itu Abang, masa ketemu cewek cantik dari Bandung, eeh malah dijudesin anaknya orang nangis loh," pungkas Audina yang ikut menimpali percakapan mereka.
Audina segera berhamburan memeluk tubuh kakaknya itu, dengan penuh keharuan karena sudah hampir setahun tidak bertemu dengan abangnya sejak memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya S2 nya di London Inggris.
"Abang saya kangen sekali bertemu dengan Abang,hiks… hiks kangen banget aku loh Abang," ucap Audina yang sangat terharu setelah bertemu dengan kakak sulungnya itu.
Sedang Arifah malah minder dan salah tingkah setelah melihat kedatangan ketiga orang tersebut.
"Abang Fajar apa dia calon kakak ipar kami?" Tanyanya Fadil yang sudah berdiri di sampingnya Arifah.
"Insha Allah… besok pagi kami sudah sah menjadi suami istri jadi dia adalah kakak iparmu," jawabnya Fajar.
"Amin ya rabbal alamin," jawab mereka serentak.
"Ya Allah… Masya Allah cantiknya calon kakak iparku,abang memang pinter cari calon istri rupanya," timpalnya Audina yang memuji kecantikannya Arifah.
__ADS_1
Arifah yang dipuji seperti itu malu-malu, hingga raut wajahnya langsung blushing memerah seperti buah tomat.
Fajar segera merangkul pinggang rampingnya Arifah dengan posesif," ahh sudah mujinya kasihan bidadari surgaku wajahnya semakin memerah loh gara-gara ulah kalian," candanya Fajar.
"Abang gimana kalau kita ke restoran yang ada di lantai lima, kebetulan ada resto baru yang bersertifikat halal loh baru dibuka seminggu yang lalu, dan banyak makanan khas Indonesia yang rekomended banget," terangnya Audina yang segera melepaskan pelukannya Fajar dari tubuh Arifah lalu merangkul lengan calon istri dari kakak sulungnya.
Ketiga saudara itu sejak berusia masih duduk di bangku sekolah menengah atas dan menengah pertama papanya meninggal dunia dan tiga tahun kemudian maminya menyusul mendiang papinya. Dimana usia mereka masih muda dan masih remaja sehingga kakek dan neneknya yang mengambil alih perusahaan papinya sebelum Fajar dewasa.
"Kamu pilih tempat nya saja, ngomong-ngomong kakek dan nenek sudah sampai dari Jakarta enggak Audi?" Tanyanya Fajar.
"Alhamdulillah tadi pagi baru nyampe di rumah, mereka cariin Abang, tapi aku ngomong sama mereka,kalau Abang lagi sibuk urus pernikahannya Abang," jawabnya Audina yang sibuk bercengkrama dan bersenda gurau dengan Arifah hingga tawa gembira mereka terdengar.
Fajar tersenyum tipis menanggapi perkataan dari adiknya itu," aku harus pertemukan Arifah dengan kakek dan nenek semoga mereka saling suka biar restunya lebih terasa klop gitu," batinnya Fajar.
Mereka kemudian sudah duduk di kursi masing-masing. Audina segera mengambil buku menu lalu berbincang-bincang dengan Arifah masalah menu makanan yang akan mereka pesan. Hingga suara seseorang mampu mengalihkan perhatiannya Audina dari buku menu.
"Assalamualaikum, maaf Tuan Muda Fajar kedatanganku terlambat karena gara-gara hujan sehingga lambat datang," terangnya Fairuz Haliq.
"Mas Fairus," cicitnya Audina.
Fairus yang berbicara dengan Fajar tapi, sesekali melirik ke gadis yang rambutnya diikat satu itu yang duduk di sebelah kanannya Arifah.
Audina teringat kejadian beberapa tahun lalu ketika dirinya menyatakan perasaannya dan cintanya kepada pria yang bekerja sebagai asisten pribadi kepercayaan kakak sulungnya itu yang sekaligus sahabatnya Fajar.
Audina berusaha untuk menahan air matanya itu, dia berusaha untuk menahan air matanya saking sedihnya jika harus kembali mengingat kejadian penolakan pria yang sejak dulu dia cintai setulus hatinya.
"Mbak Arifah aku pamit dulu yah ke belakang," ucap Audina sambil berjalan cepat menuju toilet umum hingga tangan kirinya menyenggol lengannya Fairuz tanpa sengaja.
"Kamu jangan lama-lama yah, sudah lapar soalnya," kelakarnya Arifah sembari mengelus perutnya itu.
__ADS_1