
Setelah menanggapi perkataannya Fajar, Arifah segera pergi dari dalam toko emas tersebut. Dia mempercepat langkahnya menuju ke arah luar Mall. Arifah saking sedih dan kecewanya sampai-sampai salah jalan bukannya turun malah semakin ke lantai atas saja.
"Ya Allah… ternyata mas Fajar sama saja dengan pria lainnya yang tidak bisa nenghargaiku seperti seorang perempuan yang disayanginya, bahkan aku mengira jika cintanya padaku ini begitu besar padaku," gumamnya Arifah yang semakin mempercepat langkahnya menuju ke arah lantai eskalator.
Fajar segera menyelesaikan pembayarannya dan mengambil kotak buludru persegi itu dari tangannya Casandra yang menatap keheranan melihat apa yang dilakukan oleh Arifah teman kuliahnya itu.
"What happened? Why did he run away like that?"
"It's okay, just relax, it's normal for PMS anyway," Fajar segera cabut dari tempat itu untuk mengejar tunangannya sekaligus calon istrinya itu yang akan dinikahinya besok pagi.
Fajar segera menghubungi anak buah kepercayaannya untuk melacak keberadaannya Arifah. Dia sudah mengedarkan pandangannya ke sekeliling mall tapi, tanda-tanda keberadaan Arifah sama sekali tidak nampak di sudut kelopak matanya itu.
"Firdaus, tolong lacak tempat keberadaan calon istriku, saya tidak ingin terjadi sesuatu padanya okey, sekarang!" Perintah Fajar.
Firdaus yang berada di seberang telpon segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh atasannya itu.
"Baik Bos," balasnya Firdaus yang segera melaksanakan perintahnya dari pria yang menjadi bosnya itu.
Fajar berusaha untuk menelpon nomor hpnya Arifah, tapi tidak pernah diangkat.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan cobalah beberapa saat lagi atau tinggalkan pesan setelah nada beet berikut," hanya operator seluler yang menjawab panggilannya Fajar.
"Sayang maafkan Mas sayang,saya sama sekali tidak berniat untuk melukai hatimu, Mas hanya bercanda," ucapnya Fajar yang mengirim pesan suara.
Arifah berjalan perlahan menuju lantai demi lantai, langkahnya semakin lambat saja karena merasa Fajar sudah tidak mengikutinya.
"Alhamdulillah semoga saja aku tidak ketemu lagi dengannya, aku hanya heran dengan sikapnya yang sungguh berubah tidak seperti biasanya, dulu yang selalu setia mengantar jemput aku pergi ke tempat kursus masak, tidak pernah berbicara kasar sedikitpun apa lagi untuk menyindirku, tapi hari ini setelah aku mengetahui siapa dia sebenarnya akhirnya dia mengeluarkan semua asli siapa dirinya yang sesungguhnya," gumam Arifah.
__ADS_1
Arifah melihat wahana bermain, raut wajahnya seketika berubah bersinar terang sebening embun pagi secerah mentari pagi hari.
"Bisa bermain sepuasnya nih, lagian baru jam tiga sore juga," cicitnya Arifah seraya melihat ke arah jarum jam yang terpasang di pergelangan tangannya itu.
Arifah berjalan ke arah antrian dan sesekali bersenda gurau dengan anak-anak kecil yang kebetulan ikut dalam antrian bersamanya. Berselang beberapa menit kemudian, setelah berhasil lolos dari antrian yang cukup panjang seperti ular raksasa itu.
"Hari ini aku harus bermain sepuasnya enggak ada yang larang juga,kalau ada yang larang aku gampar wajahnya," ucapnya Arifah yang cekikan mendengar perkataannya sendiri sembari memilih beberapa permainan yang akan dicobanya itu.
Tawa bahagia dari Arifah begitu luwes dan tanpa beban apapun serasa tidak ada beban pikiran dan masalah yang menghimpit beberapa jam yang lalu. Sedangkan di tempat lain, seorang pria tersenyum bahagia melihat rekaman video yang dikirimkan oleh anak buahnya ke dalam gadget nya itu.
"Terbuat dari mana ini hatinya anak, tadi marah-marah dan ngomel-ngomel sekarang tertawa terbahak-bahak seperti seseorang yang tidak punya keluh kesah sedikitpun," cicit Fajar.
Fajar baru saja hendak melangkahkan kakinya menuju ke tempatnya Arifah berada, langkahnya terhenti dengan suara interupsi dari seseorang, "Dengan Tuan Muda Fajar Arthur Prayoga," sapanya seorang perempuan.
Fajar segera mengalihkan pandangannya ke arah samping kirinya itu, Fajar memperhatikan dengan seksama siapa orang yang sudah mengenalinya di negeri Ratu Elizabeth itu.
Perempuan itu tersenyum manis di depannya Fajar," mungkin Abang sudah lupa dengan saya, teman sekolahnya dulu Bang yang sering Abang temani nongkrong bareng," ungkapnya perempuan itu.
Fajar mengerutkan keningnya berusaha untuk mengingat siapa perempuan itu. Hingga sudut bibirnya terangkat ke atas pertanda ia baru teringat dengan teman seperjuangannya itu ketika putih abu-abu itu.
"Andita Ramadhani kan?" Tebaknya Fajar dengan antusias.
"Tepat sekali tebakannya Abang, saya pikir aku ini sama sekali sudah terlupakan dengan begitu banyaknya perempuan cantik di sampingnya Abang," imbuhnya Andita.
"Gimana kabarnya kamu? Ngapain di London?" Tanyanya Fajar.
"Sepertinya kita berbincang-bincang santai di dalam kafe itu, aku yakin berbicaranya lebih enak, santai dan leluasa dan paling penting tidak capek berdiri," ujarnya Andita teman masa kecilnya Fajar sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama putih biru itu.
__ADS_1
Mereka bercanda bareng bersama sampai-sampai melupakan tujuan awalnya Fajar untuk mencari keberadaan Arifah.
"Aku di sini sebenarnya sudah sekitar setahun lalu sih bareng keluarga kecilku," ujar Andita.
"Serius, kok aku enggak tahu yah kalau kamu ada disini juga, padahal aku sering bolak balik UK,"
"Gimana caranya mau ketemuan kalau kontak nomor hp dan segalanya sudah tidak ada sama aku, selama kita selesai sekolah dulu komunikasi kita sudah terputus dan akhirnya hari ini bisa bersua lagi dengan Abang, ini suatu keberuntungan dan berkah tersendiri untukku," tuturnya Andita.
Fajar menyeruput kopi hangatnya yang masih asapnya yang masih mengepul itu, "Iya juga sih, tapi ngomong-ngomong kamu ke sini dengan siapa?" Tanyanya Fajar sambil celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang yang mungkin bersama dengan Andita temannya itu.
"Saya ke sini sendiri kok, cuma sekedar hangout saja mumpung masih ada waktu libur sebelum balik ke Jakarta minggu depan," balasnya Andita yang menatap pria yang duduk di depannya dengan tatapan memujanya itu dengan tersenyum penuh arti.
"Kau sudah menikah?" Tanyanya balik Fajar.
"Menikah sudah, tapi entah status kami sekarang gimana karena suamiku sudah hampir tiga bulan enggak ngasih kabar apapun apalagi nafkah lahir bathin," terang Andita yang sedikit berbohong di depan Fajar setelah bertemu dengan laki-laki pujaannya semasa remajanya dulu.
Fajar berbicara tentang pernikahannya, barulah teringat tentang Arifah gadis yang akan dinikahinya esok hari jika, tidak ada halangan apapun.
"Kalau gitu aku pamit dulu yah lain kali kita lanjutkan bincang-bincangnya, kebetulan aku masih punya banyak urusan yang sangat penting dan urgen banget, ini kartu namaku kau bisa hubungi setelah balik ke Jakarta," terangnya Fajar sembari menyodorkan sebuah kartu nama ke atas meja tepat depannya Andita.
Fajar segera berjalan ke arah lantai tepat di atas tempatnya berada sekarang,ia menaiki tangga eskalator menuju tempat wahana bermain. Netra matanya melihat seorang gadis berusia dua puluh satu tahun tepatnya hari ini yang sedang bermain game tanpa peduli dengan sekitarnya. Dengan tawa riangnya yang memenuhi daerah sekitarnya.
"Arifah Azizah Oktarani Zainul," ucapnya Fajar yang sudah berdiri di belakang punggungnya Arifah.
Arifah yang mengetahui jika suara itu calon suaminya,dia tidak peduli bahkan ia segera berpindah tempat. Tapi, tangannya segera ditarik oleh Fajar. Tubuhnya Arifah tertarik dengan kuat hingga menabrak dada bidangnya Fajar.
"Stop! Jangan sentuh aku!" Cegahnya Arifah sambil mendorong tubuhnya Fajar sekuat-kuatnya.
__ADS_1