Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku

Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku
Bab. 52


__ADS_3

Fajar berdiri dari duduknya sambil menarik salah satu kursi yang masih kosong, "Fairuz silahkan duduk bareng kita, kebetulan kami mau makan," ajaknya Fajar kepada sahabatnya itu.


"Mbak Arifah aku pamit dulu yah ke belakang," ucap Audina sambil berjalan cepat menuju toilet umum hingga tangan kirinya menyenggol lengannya Fairuz tanpa sengaja.


"Kamu jangan lama-lama yah, sudah lapar soalnya," kelakarnya Arifah sembari mengelus perutnya itu.


"Makasih banyak Pak, tapi aku ke belakang dulu," pamitnya Fairus.


"Ihh oke, jangan pakai lama kalau bisa ajak Audy juga sudah lama enggak balik-balik dari toilet umum, apa ketiduran lagi," guraunya Fajar.


Fairus bukannya ke toilet karena ingin buang air, tetapi hanya ingin berbicara dengan Audina yang baru hari ini memiliki kesempatan untuk berbicara setelah setahun lebih komunikasi diantara mereka putus.


Fairus berdiri sambil bersandar di tembok, dengan mengangkat kakinya hingga sebelahnya sambil menunggu kedatangan Audina. Sedangkan perempuan yang dicari dan ditunggunya masih duduk di atas closed sambil menitikkan air mata kesedihannya, jika harus kembali teringat kejadian tidak mengenakkan terjadi padanya.


"Ya Allah… kenapa aku harus bertemu dengannya lagi, satu alasanku untuk tidak balik ke Indonesia karena dia, karena Mas Fairuz, tapi hari ini aku malah ketemu dengannya, padahal aku sudah berusaha untuk menghindar terus," cicit Audi yang sesekali menyeka air matanya itu.


Fairuz kembali mengingat semua perkataannya benar bulan lalu.


"Saya tidak suka dengan gadis manja, cengeng sepertimu, saya suka cewek yang mandiri dan tidak selalu hidup bergantung dari saudara-saudaranya," ketusnya Fairuz kala itu.


Fairus melempar setangkai bunga mawar merah, dan sepotong kue tar pertama yang diberikan oleh Audy khusus dan spesial untuk Fairus laki-laki yang disukainya itu.


Peristiwa itu terjadi di depan beberapa teman kuliahnya Audina ketika dia merayakan ulang tahun yang ke dua puluhnya ya itu. Setelah kejadian itu, Audi segera memutuskan untuk segera menyelesaikan perkuliahannya di dalam negeri lalu meminta tolong kepada kakaknya untuk berangkat ke London, UK Inggris.


Fikri melihat ke arah jam tangannya,"keduanya perginya lama banget padahal jujur saja aku sudah lapar," ucapnya Fikry sambil mengelus perutnya yang sudah berbunyi keroncongan.


Fajar menyentuh punggung tangannya Arifah yang sedari tadi menjaga image nya karena, sebenarnya masih ingin bertengkar dan berdebat dengan Fajar.


"Bagaimana sayang, apa kita makan duluan atau nunggu mereka berdua?" Tanyanya Fajar.

__ADS_1


Arifah mengarahkan pandangannya dari layar hpnya ke arah calon suaminya itu," aku yes saja Mas karena jujur aku sudah lapar soalnya," ucapnya Arifah dengan malu-malu kucing.


"Mereka berdua nyusul saja, kalau nungguin bisa-bisa ada yang pingsan lagi," canda Fadil.


Mereka pun makan malam bersama malam itu, karena cukup lama menunggu sehingga mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu.


Hingga beberapa menit kemudian, Audy baru saja selesai dari dalam kamar mandi yang ada di dalam lokasi restoran. Tapi, netra hitam kecokelatannya melihat ada seseorang yang berdiri di sekitar pintu keluar sudah sejak tadi menunggunya.


"Mas Fairuz! Kenapa dia disini apa yang sedang dia lakukan?" Gumam Audina yang berjalan mengendap-endap menuju pintu keluar agar langkahnya tidak ketahuan sewaktu keluar dari dalam toilet umum.


Tetapi, upaya yang dilakukannya terganggu dengan suara intrupsi dari seseorang pria dengan suara bariton khas pria dewasa.


"Tidak perlu main petak umpet seperti itu juga, kenapa seperti selalu menghindariku, jika kita berpapasan di jalan, kenapa kamu seperti itu Audyna Laila Bashirah?" Tanyanya Fairuz.


Audyna segera berjalan ke arah pria yang selalu membuatnya jengkel, marah dan merindukan senyuman pria yang selalu menjadi pria idaman hatinya itu.


"Siapa juga yang main petak umpet dari Anda Pak Fairuz,apa coba gunanya saya melakukan hal itu!?" Dengusnya Audina yang menatap tajam ke arah Fairuz.


Fairuz awalnya hanya mengecup agar Audina membuka akses agar dia mudah untuk melakukannya. Tangan kanannya memegang tangannya Audy sehingga semakin kesulitan untuk leluasa untuk bergerak.


Fairus mulai meee luuu maaat dengan kasar bibirnya Audi karena mendapatkan penolakan dari Audi, tapi usahanya Audy gagal total. Semakin lama ciiii uuu maan itu semakin menuntut hingga Audy lambat laun terbawa arus suasana untuk mengimbangi dan membalas perlakuannya Fairuz.


"Hemph auh," suara tidak jelas meluncur dari bibirnya Audina.


Fairus sudut bibirnya terangkat ke atas pertanda dia tersenyum penuh kemenangan karena mendapatkan balasan yang cukup baik dari Audina.


"Heemm!" Seru seseorang yang bertugas untuk mencari keberadaan kedua pasangan sejoli itu yang belum ada ikatan resmi diantara mereka.


Audi segera menginjak dengan kuat punggung kakinya Fairuz," rasakan sakitnya!" Geramnya Audi lalu segera berpaling dan meninggalkan tempat tersebut dengan raut wajahnya yang memerah saking malunya dengan apa yang sudah dia perbuat gara-gara ulahnya Fairuz Aqlan Harith.

__ADS_1


"Auh!! Sakit!" Keluhnya Fairuz yang cukup mengerang kesakitan saking sakitnya terkena injakan pantofel sepatunya Audina.


"Makanya kalau pengen gituan, dihalalin dong bro jangan jadi pecundang saja yang mencari kesempatan dalam kesempitan," sinisnya Fikri Haikal Steve kemudian berjalan berlalu dari hadapannya Fairuz.


Fairus mengelus ujung sudut bibirnya yang masih terdapat bekas saliva keduanya dengan senyuman smirknya.


"Kita berbeda Au, kamu satu-satunya perempuan di dalam keluarga besar Gusman Prayoga sedang aku hanya seorang pekerja yang bekerja di bawah pimpinan kakakmu Fajar Arthur Prayoga, kita tidak mungkin bersatu aku sadar diri," Lirihnya Fairuz.


Audina kemudian bergabung dengan kakak dan calon iparnya yang sangat lihai menyembunyikan perasaannya yang baru saja dialaminya itu. Walaupun dirinya marah, benci dan jengkel dengan sikap arogansi pria yang dicintainya,tetapi cukup pandai untuk menutupi kenyataan tersebut dari orang-orang.


Mereka kembali menyantap hidangan yang cukup menggugah selera makan mereka berenam dengan Fairuz yang baru datang setelah berhasil menetralkan perasaannya itu.


Audi sama sekali tidak melirik ataupun mencuri pandang ke arahnya Fairus, malah Ia dengan santainya bercanda dengan Arifah sambil menyantap makanannya itu.


"Mbak Arifah nama panjangnya siapa sih,?" Tanyanya Audy yang memecah suasana hening yang tercipta hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar dari mereka.


Arifah mengarahkan pandangannya ke arah Audy," Arifah Azizah Oktarani Zainul," jawab Arifah.


"Sepertinya aku pernah denger namanya deh, tapi dimana yah,kok aku lupa?" Cicit Arifah.


"Kalau lupa sudah tidak perlu berusaha untuk mengingatnya," ketusnya Fikri Haikal adik Kedung Fajar yang beda dua tahun lebih dengan usianya Arifah.


"Hahah, Abang Fikri sekali ngomong langsung menikam hati dan jantung," candanya Audina.


"Kalau masih ada yang ingin dikatakan ataupun ditanyakan sebelum semuanya terlambat karena Mbak Arifah sudah balik pulang ke rumahnya maksud saya," Imbuhnya Fadil.


"Usianya berapa Mbak?"


"Dua puluh satu tahun tepatnya hari ini," jawab Arifah dengan mantap.

__ADS_1


"Apa! 21 tahun!? Buset dah Abang Fajar dapat bronis nih brondong manis sedangkan Abang sudah tuir usianya tiga puluh dua tahun,woo amazing cinta memang gila dan buta," hebohnya Audi.


__ADS_2