
Alifah yang melihat teman sekaligus kakak iparnya itu segera memeluk tubuhnya Arifah,"jangan sedih insya Allah… saya akan mampir ke rumah jika ada waktu luang untuk menjengukmu,kamu seperti aku tidak akan pernah kembali lagi saja," tampiknya Alifah.
"Andaikan seperti itu aunty, aku tidak akan sesedih ini, karena ayah sudah pastikan kalian akan pergi jauh dari sini,ke Malaysia Kuala Lumpur daerah yang jauh dari Jakarta," cicitnya Arifah yang sudah menitikkan air matanya itu antara sedih dan bahagia yang dia rasakan.
Arifah tersenyum bahagia melihat kedatangan kedua sahabatnya di dalam area masjid. Fatir Muhammad Iqbal sudah duduk berdampingan dengan Alifa Arsana Khaerul di depan Pak penghulu.
Sedangkan Ariestya Fathia Lubis masih berada di dalam ruangan khusus untuk calon mempelai perempuan bersama dengan sanak saudaranya.
Fahmi Idris Sardi Khaerul berdampingan dengan kedua saudaranya yaitu Fauzi Sa'ad Anwar dan Faiz Aksan bersama istrinya Aqila Sera Wijaya menanti giliran dan menyaksikan acara sakral Alifah.
Fauzi tak bosan-bosannya mengecup punggung tangannya Arifah Azizah Oktarani Zainul, seakan memperlihatkan kepada semua orang-orang, jika pernikahan mereka sangat bahagia, penuh kemesraan, keromantisan.
Arifah melirik sekilas ke arah suaminya itu," kepura-puraan apa yang akan diperlihatkan ayah kepada semua orang dengan sikap kelembutannya kepadaku, baiklah saya akan meladeni permainan ayah dan berusaha untuk menutupi kisruh biduk rumah tangga kita," batinnya Arifah.
"Kamu baik-baik saja kan, apa kamu capek istriku?" Tanyanya Fauzi sambil mengelus perutnya Arifah yang masih datar itu.
"Insya Allah… aku masih sanggup untuk menjalaninya, jika aku nyerah dengan semua ini aku akan katakan pada ayah," imbuhnya Arifah yang seolah tidak langsung mengatakan kepada orang tentang keadaan rumah tangganya yang baru seumuran jagung itu.
"Kalian itu bikin cemburu saja, dimana-mana pasti memperlihatkan kemesraan kalian," ujarnya Faiz di depan kedua pasangan suami istri itu.
Fauzi langsung memeluk tubuhnya Arifah dengan posesif," kami selamanya akan seperti ini, setiap saat hanya kebahagiaan yang akan aku berikan untuk Istriku," pungkasnya Fauzi seraya mengatur anak rambutnya Arifah yang jatuh mengenai keningnya itu.
Arifah menatap intens ke arah suaminya dengan berusaha tersenyum alami," makasih banyak sayang, seperti ini lah hubungan kami kalian ada atau enggak keromantisan akan selalu kami perlihatkan, iya kan ayah?" Ucapnya Arifah sembari mengelus wajahnya Fauzi dengan penuh kelembutan.
Hatinya Arifah ingin menjerit keras dengan keadaan kehidupannya yang sama sekali tidak pernah sekalipun terlintas dari dalam pikirannya, jika pernikahannya dengan ayah angkatnya akan seperti ini kisahnya yang harus dilakoninya itu.
"Bagaimana Pak Fatir Muhammad Iqbal apa Anda sudah siap?" Tanyanya Pak Penghulu.
"Insya Allah siap lahir batin," jawab Fatir.
__ADS_1
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Fatir Muhammad Iqbal dengan ananda Alifah Arsana Khaerul binti Khaerul Hanif dengan mas kawin uang sebesar 50 juta, emas murni 24 karat seberat 20 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai,"
Pak penghulu yang bernama Pak Gunawan utusan dari KUA setempat menjabat kuat tangannya Fatir.
"Saya terima nikah dan kawinnya Alifah Arsana Khaerul binti Khaerul Hanif dengan Mas kawin tersebut dibayar tunai," ucapnya Fatir dengan sekali tarikan nafas begitu jelas dan penuh kesungguhan hatinya melafalkan lafaz akad nikahnya.
"Bagaimana para saksi, apakah sah!?" Tanyanya Pak Penghulu.
"Sah!!" Jawab serempak semua orang di dalam area ruangan masjid tersebut.
Setelah beberapa menit kemudian, tibalah pernikahan yang kedua yaitu Ariestya Fathia Lubis dengan Fahmi Idris Sardi Khaerul tanpa ada proses pacaran seperti saudaranya yang lain.
Raut wajah ketegangan terlihat jelas dari wajahnya Fahmi Idris,ia sesekali menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar.
"Bagaimana Pak Lubis apa sudah siap menikahkan anaknya?" Tanyanya Pak Penghulu yang bernama Gunawan Fattah Amin.
"Saya nikahkan engkau dengan putri kandungku yang bernama Ariestya Fathia Lubis bin Amir Andreas Lubis dengan seperangkat alat sholat, emas murni 24 karat 35 gram, uang sebesar 111 juta rupiah dibayar tunai," Pak Lubis menatap intens ke arah Fahmi Idris yang membuat Fahmi sedikit malu dan salah tingkah.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ariestya Fathia Lubis dengan emas kawin tersebut dibayar tunai!" Ucapnya Fahmi dengan sedikit grogi dan nerfeus.
"Bagaimana para saksi, apakah sah?" Tanya pak Gunawan.
"Sah!!" Jawab kedua kalinya dari para saksi sekaligus tamu undangan yang turut hadir di acara tersebut.
"Yes! Sah juga akhirnya berhasil juga menikahi Ariestya," gumamnya Fahmi yang masih mampu di dengar oleh beberapa orang-orang.
Perkataan dari Fahmi membuat seketika ruangan menjadi riuh dan heboh dengan suara gelak tawa dari beberapa orang.
"Syukur Alhamdulillah, mereka sudah sah dan resmi menjadi sepasang suami istri baru, aku pengen nangis melihatnya," ujarnya Alifah kakaknya Fahmi.
__ADS_1
"Iya aku juga bahagia dan terharu dengan pernikahan kalian aunty dan uncle kesayanganku, aku seperti tidak bisa berkata-kata lagi," pungkas Arifah yang menyeka air matanya itu.
Fauzi kembali membantu menyeka air matanya Arifah, sedangkan yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum simpul dan memanfaatkan momen yang ada. Arifah pun bermanja-manja dan tidak ingin memperlihatkan wajah sendunya walaupun
Arifah kemudian berjalan ke arah sahabat terbaiknya itu, dan langsung memeluknya dengan erat. Air matanya Arifah tidak terbendung lagi, bukannya terharu karena pernikahan keduanya. Tetapi, ia sedih karena setelah aunty, uncle, dan kedua temannya itu menikah maka perpisahan akan otomatis terjadi diantara keduanya sesuai persyaratan yang diajukan oleh Fauzi sendiri.
"Kenapa meski menangis bebs, aku tahu kamu terharu tapi, tidak perlu seperti ini juga kali nangisnya sampai-sampai wajahmu belepotan seperti ini," candanya Ariestya yang seolah mengerti dan memahami kekalutan, kedukaan hatinya Arifah.
"Saking bahagianya aku sampai seperti ini bebs, aku berterima kasih sebelumnya padamu karena telah bersedia menikah dengan uncle Fahmi," kilahnya Arifah yang berusaha sekuat tenaganya untuk menyembunyikan lara hatinya itu.
Aristya kembali menarik tubuhnya Arifah kedalam dekapan hangat pelukannya itu, sambil berbisik-bisik beberapa kata di telinganya Arifah.
"Bebs aku tahu ada sesuatu yang terjadi padamu sehingga kamu berhenti kuliah dan keluar dari grub wa, tapi kamu tidak perlu menyangkalnya ataupun menjawab semua perkataan ku ini, dari matamu sudah terlihat jelas akan hal itu, Arifah kita itu temenan sejak masih TK hingga detik ini jadi kau tidak mungkin menyembunyikannya dariku, aku hanya berdoa semoga apa yang terjadi padamu segera teratasi dengan baik dan tidak akan ada air mata kesedihan, saya berharap pilihanmu akan membawamu kedalam kebahagiaan yang hakiki,"
Air matanya Arifah semakin menjadi saja, sambil terus melirik sekilas ke suaminya berada. Dia tidak ingin Fauzi ataupun orang lain mendengar percakapan mereka. Fahmi segera menghampiri kedua perempuan yang sangat berarti dalam hidupnya itu. Mereka segera mengalihkan perhatian dan pembicaraan keduanya.
Fahmi merentangkan kedua tangannya ke arahnya Arifah, "Apa kamu tidak ingin memeluk tubuh uncle kamu kakak ipar?" Fahmi memperlihatkan senyuman lebarnya itu.
Arifah terlebih dahulu menatap ke arah Aristya sedangkan temannya itu mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Uncle aku sangat bahagia melihat unlce berhasil mengucapkan lafadz pernikahannya Uncle loh, padahal tadi aku sudah deg-degan melihat Unclr Fauzi yang seperti grogi ketakutan jika salah sebut gitu," candanya Arifah.
"Ya elah… apa kamu meremehkan aku hanya mengucap lafas ijab kabul, itu sangat mudah walaupun terus terang aku sempat rada-rada takut ketika saya saling bertatapan dengan Papa mertua seperti itu, mentang-mentang anggota TNI sehingga nyaliku menciut loh," balasnya candaan Fahmi.
Arifah berangkulan dengan Ariestya, "Intinya kalian sudah resmi menjadi suami istri, uncle dia ini sahabat aku yang paling ngertiin aku luar dalam jadi, aku mohon jangan buat dia sedih, membuang air matanya, saya mohon sayangi dia setulus hati Paman dan saya tidak ingin mendengar jika uncle menyakiti hatinya, janji yah Uncle!" Ucapnya Arifah sembari mengantungkan jari kelingkingnya ke hadapan Fahmi.
Apa yang dilakukan oleh Arifah hanya bercanda tapi, didalamnya tersirat keseriusan akan permohonannya dengan serius.
"Saya janji jika kelak aku berlaku kasar ataupun menyakiti hati dan perasaanmu maka tegurlah aku sesuai dengan kemauannya Ariestya sendiri,"
__ADS_1