Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku

Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku
Bab. 46


__ADS_3

"Baiklah saya setuju menikah dengan Fajar Arthur Prayoga," jawabnya Arifah ketika dimintai jawaban atas permintaan dari pria yang dekat dengannya sebagai sahabatnya itu.


Fajar menatap ke arah Fatir dan Alifah," Saya harap kalian bisa membantuku untuk menyelenggarakan akad nikah kami, karena jujur saja aku cukup sibuk seorang diri untuk menyelesaikan semuanya di Negara orang lagi," harapnya Fajar.


"Percayakan kepada kami masalah itu, insya Allah... kami berdua akan melaksanakan semua sesuai dengan petunjuk dari Pak Fajar," imbuhnya Fatir.


Fajar menarik tangannya Arifah," maaf kami pamit dulu," ucapnya Fajar yang berpamitan kepada kedua orang yang sedari tadi hanya duduk sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh keduanya.


Alifah dan Fatir tak berbicara apapun hanya melihat keduanya pergi dari hadapan mereka. Arifah hanya mengerutkan keningnya sambil mengangkat pundaknya ke arahnya kedua sahabatnya yang setahun lebih mereka baru bertemu kembali.


"Mas Fajar kita mau ke mana?" Tanyanya Arifah yang sudah berjalan beriringan dengan bergandengan tangan dengan Fajar pria yang baru sekitar beberapa menit lalu melamarnya di hadapan orang banyak yang berlutut sekitar kurang lebih setengah jam lamanya.


Fajar menolehkan kepalanya ke arah kirinya itu," kamu akan mengetahui jika sudah sampai di tempat itu," balasnya Fajar.


Arifah kembali terdiam dan mengikuti kemanapun perginya Fajar pria yang sudah Ia iyakan lamarannya, tetapi belum sedikitpun ia cintai dan sayangi.


Sedang di dalam kafe yang barusan ditinggalkan oleh ketua pasangan sejoli itu mereka tampak serius berbicara.


"Abang, kalau Arifah menikah dengan pak Fajar kehidupan Arifah hingga tujuh turunan pun insya Allah… tidak bakalan miskin, apa ini bukannya membuang benalu dalam hidupnya dan sekarang mendapatkan Pria yang akan membahagiakan selamanya hingga akan menjadikannya sebagai seorang ratu dalam hidupnya," ungkapnya Fatir Muhammad Iqbal.

__ADS_1


"Benar sekali apa yang Abang katakan, aku sangat kecewa dengan sikapnya Abang Fauzi yang telah menelantarkan istrinya dengan membawa masuk ke dalam rumahnya perempuan lain yang menjadi selingkuhannya itu, bahkan aku mengutuk keras tindakannya Abang Fauzi yang sangat kejam dengan melarang Arifah untuk kuliah melanjutkan pendidikannya dan juga menjaga jarak dari dunia luar," ungkap Alifa yang tersulut emosinya jika harus mengingat kembali keburukan dan kebusukan kakak kandungnya sendiri.


"Iya aku juga sayang sama seperti yang kau rasakan, tetapi itu sudah berlalu Arifah juga sudah bahagia dan menemukan pria yang baik sedangkan Abang Fauzi sudah menderita di rumah sakit jiwa dan menjalani sisa masa tahanannya juga, saya sih berharap dia segera sembuh total dari penyakitnya itu," ujarnya Fatir sambil menyeruput sisa minuman hangatnya.


Arifah sudah duduk di sampingnya Fajar, awalnya Arifah yang mengemudikan mobilnya ke Mall, sekarang Fajar yang bertindak menjadi supir khusus dan spesial dari gadis pujaan hatinya yang berusaha untuk dia taklukkan hatinya itu.


Arifah duduk dengan tenang tanpa ada sepatah katapun yang meluncur dari mulutnya Arifah, dia sibuk memikirkan keputusannya untuk menerima pinangan pria yang sama sekali belum menyentuh relung hatinya itu.


"Ya Allah… apa pilihanku ini sudah benar? Sedangkan aku sama sekali belum mencintai pria yang duduk di sampingku ini, apa aku bisa menjalani hubungan kami ini dengan baik, tapi apa kedua orang tuanya dan juga keluarganya yang lain jika mengetahui jika aku ini seorang janda yang berani memanjat ranjangnya ayah angkatku sendiri, apalagi mereka mengetahui aku menjadi pelakor apa mereka tidak akan menentang hubungan kami berdua," bathinnya Arifah yang mulai resah, takut dan cemas dengan tanggapan kelurganya Fajar.


Fajar yang melihat Arifah banyak pikiran dan sedang melamun segera menyentuh punggung tangannya Arifah dengan mengecup punggung tangannya Arifah tersebut.


Arifah segera menghentikan lamunannya itu," ehh a-nu sa-ya ti-dak memikirkan apa-apa kok, saya hanya melihat betapa sungguh indahnya pemandangan di luar yang terkena tetesan hujan," elaknya Arifah yang salah tingkah jika harus berbohong hingga telinga, hidung dan wajahnya memerah.


"Ohh gitu, Mas kira kamu sedang menghayalkan akad nikah kita sebelum malam pertama makan sahur pertama," ujarnya Fajar.


Arifah membelalakkan matanya saking terkejutnya mendengar perkataan dari calon suaminya yang mengatakan, jika dua hari lagi akan menikah dengan pria yang cukup dewasa darinya. Arifah dan Fajar terpaut sekitar dua belas tahun perbedaan usia mereka, padahal jika dilihat berdampingan wajahnya Fajar semuda dari usianya yang sebenarnya.


"Mak-sud-nya kita akan menikah hari rabu malam nanti," imbuhnya Arifah.

__ADS_1


Fajar segera memelankan laju mobilnya di atas aspal yang diguyur hujan lebat sore hari itu.


"Tepat sekali perkataanmu, saya tidak ingin menunda lebih lama lagi untuk menjadikan kamu satu-satunya permaisuri hatiku dan aku tidak ingin ada pria yang mengusik hubungan hubungan kita ini, aku mungkin sedikit egois dan terlalu terburu-buru menginginkan dirimu tapi, aku ingin membuktikan kepadamu jika cintaku ini sungguh besar tulusnya hanya untuk kamu seorang di dunia ini," jelasnya Fajar.


"Tapi, Mas ini terlalu begitu cepat untukku, sungguh aku masih tidak percaya dengan semua ini, seolah aku hanya mimpi saja, sedangkan Mas Fajar belum mengetahui apapun tentang karakter, statusku selama ini yang mas ketahui hanya kulit luarnya saja, sedangkan masih banyak hal yang belum Mas ketahui, karena aku ini bukan perempuan baik seperti apa yang Mas lihat selama ini," Jelasnya Arifah yang segera menarik tangannya dari genggamannya calon suaminya itu.


Fajar segera menepikan mobilnya ke badan jalan agar memudahkannya untuk berbicara dengan Arifah.


Fajar menangkupkan tangannya di dagunya," Arifah Azizah Oktarani Zainul saya semuanya tidak butuh dan tidak mau tahu tentang masa lalumu itu, ingat baik-baik aku ingin menikahimu tidak pernah pandang siapa kamu, bagiku kamu adalah orang yang paling istimewa dan penting dalam hidupku dan aku akan membuktikan padamu jika cintaku ini tulus padamu tak tergantikan hingga akhir waktuku dunia dan aku berharap kamu adalah calon bidadari surgaku dikemudian hari,"terangnya Fajar.


Arifah malah tertawa mendengar perkataan dari mulut pria yang katanya mencintainya itu.


"Kenapa kau tertawa?" Tanyanya Fajar.


"Mas Fajar Arthur Prayoga aku sungguh bahagia mendengarnya, saking gembiranya aku sampai-sampai tidak tahu harus berbicara dan bersikap bagaimana menanggapi pernyataan dan penuturan Mas Fajar, walaupun aku tidak memungkiri Mas Fajar lebih ganteng dari pada oppa Jhi Chan Wook dan mantan suamiku tentunya," tampiknya Arifah yang masih keheranan dengan pria yang sedang menatapnya intens itu.


Fajar sedikit tidak terima dibandingkan dengan pria lain terutama dengan mantan suaminya itu Fauzi As'ad Anwar. Fajar memegang kedua pundaknya Arifah yang tertutup baju hangat mantel bulunya itu.


"Tolong kedepannya jangan sekali-kali bandingkan aku dengan laki-laki lain terutama mantan suamimu yang brengsek dan lucknut itu, stop untuk mengingatnya, tapi saya berjanji akan menghapus kenangan pahitmu bersamanya kalau perlu semua kenangan apapun itu yang pernah kalian lewati bersama, cukup aku seorang pria yang wajib dan harus kamu Ingat dan cintai hingga hanya aku yang selalu berada di dalam kedua bola matamu dan hatimu bukan siapa-siapa, tapi hanyalah Fajar Arthur Prayoga saja seorang," jelas Fajar dengan keseriusan dan kesungguhan hatinya itu.

__ADS_1


Maaf banyak penulisan kata yang salah dan keliru atau typonya...


__ADS_2