
Arifah begitu terharu melihat kedatangan orang-orang yang sangat penting dalam hidupnya malam itu. Kedatangan orang-orang yang dari masa lalunya yang selama ini hubungan, komunikasi dan silaturahmi mereka yang terputus, akibat dari pernjanjiannya dengan Fauzi As'ad Anwar mantan suami sekaligus ayah angkatnya itu.
"Non Arifah semakin cantik saja yah Bu," cicitnya Amelia anak sulungnya Pak Rahmat.
"Benar sekali apa yang kamu katakan Nak, selama Non muda memakai hijab semakin cantik pula penampilan dan hatinya itu," imbuhnya Bu Hamida.
"Ya Allah… saya tidak menyangka jika kalian bisa datang dan akhirnya kita bertemu lagi," ucapnya Arifah yang masih menangis tersedu-sedu melihat kedatangan sahabat sekaligus keluarga angkatnya.
Arifah dikelilingi kasih sayang dari teman-teman dan mantan adik iparnya serta beberapa anak kecil yang membuat semakin heboh pertemuan mereka.
"Arifah saya sangat merindukanmu, satu tahun lebih enggak ketemu serasa sepuluh tahun saja lamanya," ucap Ariestya Fathia Lubis istri dari Fahmi Idris Sardi.
"Sepertinya bincang-bincang dan melepas rasa rindunya di dalam saja Non,apa nona-nona yang cantik tidak ada yang capek atau mungkin lelah berdiri," candanya Bu Hamidah perempuan paruh baya yang selalu menemani Arifah dalam keadaan apapun.
"Betul pake banget tuh bi, mereka ini enggak takut apa kalau kakinya mereka timbul urat-urat yang bisa mengurangi kecantikan mereka lagi," pungkasnya Faiz Arafat yang sudah berjalan mendahului mereka yang lainnya, sambil menggendong anaknya yang sudah berusia enam bulan lebih itu.
__ADS_1
Fajar tersenyum gembira melihat kehebohan yang terjadi di dalam sana, ia bersyukur karena calon istrinya bisa tersenyum bahagia dan lega dengan kejutan yang dia sudah rencanakan beberapa hari yang lalu,malam itu jadi terkabul juga.
"Apapun Mas akan lakukan agar kamu bisa tersenyum bahagia lebih dari sebelumnya, ingat apapun itu asalkan jangan sekali-kali memerintahkan kepadaku untuk pergi menjauh dari hidupmu," bathinnya Fajar.
Mereka semua sudah berjalan ke arah dalam bagian ruang tengah rumahnya Arifah. Ruangan yang biasa mereka pakai untuk berkumpul dikala waktu senggang. Amelia melihat Fajar yang sedari tadi hanya berdiri bersandar di kap mobilnya berinisiatif untuk mengajaknya juga ikut bergabung dengan yang lainnya sudah duduk di posisinya masing-masing di atas sofa.
Fajar adalah pria yang mempekerjakan dirinya dan beberapa orang lainnya, tanpa sepengetahuan dari Arifah bahkan gaji dari kedua orang tuanya pun sumbernya berasal dari keuangan Fajar. Sedangkan uang yang dikeluarkan oleh Arifah setiap bulannya untuk gaji mereka disumbangkan ke panti asuhan dan panti jompo.
"Tuan Muda,apa hanya ingin terus-menerus berdiri di luar saja? Dingin loh di luar sini, yuk gabung dengan calon istrinya dan juga temannya Non Arifah," ajaknya Amelia.
Fajar tersenyum menanggapi perkataan dari Amelia," makasih banyak, tapi sebaiknya aku pulang saja enggak enak berlama-lama di sini lagian besok pagi aku juga bakal datang lagi kesini," tempiknya Fajar.
"Assalamualaikum," pamit salamnya Fajar yang pulang ke rumahnya menggunakan mobilnya sendiri yang kebetulan anak buahnya mengantarkan mobil untuk dirinya.
Di dalam ruangan tenght, suara tawa menggema memenuhi seluruh seantero rumahnya Arifah yang ada di sudut kota London.
__ADS_1
Fahmi menatap intens ke arah Arifah mantan kakak iparnya itu," Arifah, saya mewakili Abang Fauzi untuk meminta maaf kepadamu yang sebesar-besarnya atas kesalahan dan khilafnya Abang padamu, jujur saja sebenarnya aku sangat malu dan sungkan untuk berbicara seperti ini di depanmu, kalau boleh jujur aku pun sangatlah malu dengan perbuatan bejak dan kejinya Abang yang sudah dibutakan cinta dan harta sehingga berusaha menghancurkan hidupmu, padahal tidak seharusnya dan sepatutnya dia melakukan hal itu padamu mengingat jasa-jasa kedua orang tuamu Mas Zainul dan Mbak Aliya, tapi ya begitulah manusia jika terlalu serakah," ungkapnya Fahmi Idris.
"Benar apa yang dikatakan oleh Fahmi, kami sebagai adiknya begitu malu dan tidak menduga jika bang Fauzi mengkhianati kamu, padahal kami semua mengaggap dia sungguh-sungguh mencintaimu sebagai istrinya, bahkan saking pintarnya kami tidak ada yang curiga dengan kelakuan jahatnya yang terselubung itu, bahkan pernikahannya dengan perempuan lucknut itu tidak terendus dan ketahuan oleh kami saking lihai dan pintar menyembunyikan dan menutupinya kejelekan dan kejahatannya," umpatnya Faiz suaminya Aqila Sera Wijaya mantan tunangannya Fauzi.
Arifah hanya terdiam memperhatikan interaksi dan reaksi mereka semua yang sungguh di luar dugaan dan ekspetasinya yang ternyata mereka mengecam keras perlakuannya Fauzi.
Alifa memegang kedua tangannya Arifah dengan penuh penyesalan, "Iya Arifah, saya sebagai adiknya sungguh menyayangkan hal ini bisa terjadi, benar-benar waktu aku tahu kejadian tersebut aku sangat marah dan benci dengan tingkah lakunya abang bahkan, aku sama sekali tidak menginginkan menjadi adiknya dari laki-laki munafik dan penipu itu,tapi aku lebih malu padamu Arifah karena aku yang selama ini selalu memberikan dukungan kepada hubungan kalian untuk segera menikah, dan berharap kalian selalu bahagia, tapi ternyata malah menghayati kamu hingga calon bayi kalian harus pergi untuk selamanya," ratapnya Alifah Andita Khaerul yang mengecam perbuatannya Fauzi sekaligus sedih dan malu.
Air matanya Alifah menetes membasahi pipinya saking sedihnya jika, harus kembali mengingat kejadian itu.
Ariestya Fathia Lubis angkat bicara," kalau boleh jujur sebenarnya, sejak Arifah memutuskan untuk berhenti kuliah dan memblokir nomor hp kami sebagai sahabatnya kala itu, saya sudah punya feeling jika ada yang tidak baik-baik saja dan pasti ada yang tidak beres sudah terjadi, bahkan itu sungguh aneh setelah Arifah menjelaskan kepada kami dengan alasan karena katanya mau fokus dengan rumah tangganya itu, tapi aku selalu berusaha untuk berfikiran positif saja dan berdoa yang terbaik untuk sahabatku," imbuhnya Ariestia.
Arifah segera pun angkat bicara dan tersenyum penuh haru, betapa care, pedulinya semua orang-orang yang baik yang berada di sekelilingnya itu yang selalu menginginkan dan mendoakan yang terbaik untuk kehidupannya.
"Saya munafik kalau saya tidak marah dan benci dengan ayah,tapi aku berusaha untuk berdamai dengan masa lalu itu tapi untuk memaafkannya awalnya sangat sulit aku lakukan tapi, setelah aku bertemu dengan seorang pria yang begitu tulus menyayangi dan menghormatiku bahkan selalu membantu dan mendukungku dalam segala hal, Pria itu selalu memberikan aku nasehat, masukan dan sarannya agar tidak membalas kejahatan ayah dengan kejahatan pula," Arifah menjeda perkataannya karena semakin terisak dalam tangisannya padahal sudah berusaha untuk melupakannya tetapi, hari itu harus kembali mengorek luka lamanya itu.
__ADS_1
"Kamu wanita tangguh dan kuat, saya yakin akan datang pria yang begitu menghormati dan menyayangimu dengan tulus bahkan saya yakin pria itu akan berkorban apapun demi kebahagiaanmu," timpalnya Aristya.
Arifah sesegukan dan kembali melanjutkan perkataannya itu," bahkan tanpa aku kenal orang itu dia selalu hadir dalam hidupku untuk selalu menjadi penyangga hidupku dikala aku terpuruk setelah mengetahui aku harus kehilangan bayi yang membuat aku selama ini kuat, tabah, ikhlas dan tegar menghadapi ujian dan cobaan dari Allah SWT ketika bayiku pergi untuk selamanya karena ulah dari istri pertamanya, bahkan aku tidak menyangka jika aku menjadi pelakor di dalam rumahku sendiri, itu sungguh membuatku sering terkekeh jika harus kembali mengingatnya, jika ayah hanya menikahiku secara siri saja," Arifah sesekali menyeka air matanya itu yang sudah membanjiri wajahnya saking marahnya, kecewa, sedih dan benci menjadi satu bagian dalam hati dan pikirannya itu.