
Acara syukuran berlangsung cukup meriah,kedua pasangan suami istri itu menunda acara resepsinya hingga waktu yang belum ditentukan, mengingat beberapa urusan pekerjaan yang membuat mereka terpaksa mengurungkan niat itu.
Arifah menunggu hingga acara itu selesai seperti janjinya Fauzi yang akan mengatakan kepada semua tamu jika mereka adalah pasangan suami istri bukan ayah dan anak angkat lagi.
Tetapi, hingga beberapa jam berlalu sampai para tamu undangan satu persatu berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing,apa yang dijanjikan oleh Fauzi sama sekali tidak ditepatinya. Padahal ia sudah menadatangani beberapa surat perjanjian yang dengan sukarela Arifah tandatangani tanpa membaca isinya terlebih dahulu dengan cerobohnya melakukan hal itu.
"Kamu harus kuat, aku yakin kamu perempuan tangguh dan bisa melewati semua ujian dan cobaan dalam hidupmu, saya dan Fatir tanpa kamu mengatakan sebelumnya pada kami, sudah mengetahuinya terlebih dahulu, Ingat kami selalu ada bersamamu walaupun kami akan pergi ke luar negeri meneruskan usaha kami masing-masing,tapi jangan pernah menganggap kamu itu seorang diri," ucapnya Ariestya Fathia Lubis terngiang-ngiang di telinganya Arifah.
Arifah menatap kepergian kedua sahabatnya itu dengan pasangan halal masing-masing. Arifah menyeka air matanya itu diam-diam agar tidak ada yang melihat kesedihannya.
"Kalian memang selalu menjadi sahabat aku yang mengerti dengan keadaanku yang sulit ini, sepintar-pintarnya aku menyembunyikannya kalian pasti akan mengetahuinya," gumamnya Arifah Azizah Oktarani Zainul.
Fauzi segera memeluk pinggangnya Arifah dengan posesif hingga membuatnya tersenyum merendahkan.
"Ayah tidak perlu lagi berakting, sepertinya tersisa kita yang ada di sini jadi aku mohon sudahi kepura-puraannya, season selanjutnya dilanjutkan jika kita berada di tempat umum," ketusnya Arifah yang segera menghempaskan tangannya Fauzi As'ad Anwar dari pinggang rampingnya itu.
Fauzi hanya menatap jengah ke arah Arifah yang berjalan berlalu meninggalkannya tanpa sepatah katapun.
"Aku akan bersikap seperti itu terus hingga kamu menyerahkan semua aset kekayaan kedua orang tuamu berada dalam genggamanku, baru sebagian kecil yang mampu aku ambil," gumam Fauzi yang sudut bibirnya tertarik ke atas.
Ariestya terus menatap ke arah belakang tepatnya ke arah Arifah yang berdiri mematung memandangi kepergiannya.
"Arif, aku tidak mungkin bisa meninggalkanmu dengan tenang ketika aku melihat wajahmu yang seperti itu, tanpa kamu curhat padaku aku sudah mengetahui keadaanmu, tapi aku berharap semoga kau bisa menjalani kehidupanmu sebaiknya, aku hanya berdoa agar kamu menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya," cicitnya Arestya seraya menyeka air matanya itu.
__ADS_1
"Ada apa sayang,apa yang terjadi padamu? Apa kamu menyesal menikah denganku?" Tanyanya Fahmi Idris Sardi Khaerul dengan penuh selidik seraya mengecup punggung tangannya Ariestya.
Aristya salah tingkah karena kedapatan sedang menangis, "Enggak kok Mas, aku hanya memikirkan Arifah yang harus hidup seorang diri dengan suaminya, sedangkan kita hari ini akan berangkat ke Jepang," elaknya Ariestya yang tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya apa yang dia rasakan kepada suaminya itu sekaligus paman angkatnya Arifah.
"Apa kamu enggan meninggalkan negara kita dan juga kedua orang tuamu atau ada sesuatu hal yang sulit kamu utarakan kepadaku?" Tanyanya Fahmi pria yang baru sekitar beberapa jam ia nikahi itu.
Ariestya menatap lekat ke wajah suaminya yang serius mengemudikan mobilnya tapi, sesekali menatapnya itu, "Insya Allah… tidak ada terbersit sedikitpun rasa penyesalan di dalam hatiku, aku malah bersyukur karena ada pria yang sangat baik begitu tulus menyayangi dan mencintai serta menghormati ku sebagai seorang Istrinya, aku hanya berharap agar kelak Mas tidak berubah apa pun yang terjadi hingga akhir waktuku di dunia ini, hanya itu yang saat ini aku harapkan dari Mas Fahmi," terangnya Ariestya dengan seulas senyumannya itu.
Keduanya hanya orang lain yang sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak sudah bertemu hingga detik ini. Persahabatan mereka bahkan melebihi rasa persaudaraan kandung karena, adanya ikatan darah diantara mereka.
Semua yang mereka alami dan rasakan tanpa terkecuali mereka mengetahui satu sama lainnya,tapi kali ini Arifah memilih untuk menyimpannya sendiri khusus untuk dirinya yang berharap suatu saat nanti, suaminya yang berubah itu karena ambisi akan hartanya,bisa berubah menjadi pria yang baru pertama kali bertemu dengannya diusianya yang baru sembilan tahun waktu itu.
Fatir Muhammad Iqbal pun tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Ariestya," ya Allah… aku kepikiran dengan kehidupan rumah tangganya Arifah sahabatku itu, apalagi dia sedang hamil, karena aku yakin ada masalah yang tidak beres di dalam rumah tangganya itu, walaupun Arifah sangat pintar menyembunyikannya tapi, saya sangat khawatir dengan hal itu karena aku yakin ada hal aneh yang dia alami selama menikah dengan Fauzi ayah angkatnya itu. Tapi, aku berharap semoga Arifah bisa kuat dan melaluinya dengan baik." Fatir membatin sambil sekali-sekali melihat ke arah Alifah Afsana Khaerul yang sudah terlelap dalam tidurnya itu.
Arifah bersyukur karena dia tidak seperti kebanyakan perempuan di luar sana yang mengalami morning sikcnes ataupun ngidam yang macem-macem. Malahan ia terkesan seperti perempuan yang tidak hamil,saja padahal bobot tubuhnya semakin bertambah.
Keesokan paginya…
"Apa menu sarapan hari ini?" Tanyanya Fauzi yang langsung duduk di kursinya.
"Hari ini saya masak ayam goreng kesukaan ayah dengan sambal terasi serta sayur sup semoga ayah menyukai apa yang aku masak," imbuhnya Arifah yang menyajikan makanan ke atas meja makan dengan meletakan satu persatu piring yang berisi beraneka macam laut pauk yang sudah susah payah Arifah masak.
Fauzi menatap ke arah beberapa makanan tersebut," lumayan tampilannya tidak mengecewakan,semoga rasanya juga enak secantik penampilannya itu," ujarnya Fauzi As'ad Anwar.
__ADS_1
"Semoga ayah menyukainya, tapi kalau enggak aku akan ganti dengan masakan lain asalkan ayah bisa bersabar menunggu masakannya mateng," tukasnya Arifah yang berdiri di samping kanannya Fauzi seperti layaknya seorang chef yang diperkerjakan olehnya.
Fauzi segera menyantap makanan itu dengan lahapnya tanpa ada kata yang meluncur dari bibirnya itu. Arifah hanya mengernyitkan dahinya melihat sikap Fauzi pria yang dulu sangat ia cintai, tapi perasaannya sekarang entah masih cinta ataukah obsesi semata saja yang tersisa dalam benak dan hatinya itu.
"Saya kira masakanku jelek, aku bahagia banget bisa membuatkan masakan untuk ayah hari ini dan ngomong-ngomong aku gembira, karena ayah menyukainya," tuturnya Arifah yang bisa bernafas lega telah berhasil memasak walaupun hanya melihat videtdi youtubes saja.
"Lumayan tidak mengecewakan, tidak seperti beberapa hari yang lalu,ketika kamu pertama masak, bukannya aku kenyang, tapi malah kamu masak makanan yang akan meracuniku saja," sarkasnya Fauzi yang sama sekali tidak berhenti mengunyah makanannya tersebut yang tersaji di hadapannya.
Arifah menundukkan kepalanya karena saking takutnya jika apa yang dia inginkan itu ditolak oleh Fauzi suaminya sendiri, "Ayah apa aku boleh ikut kursus memasak?" Tanya Arifah dengan hati-hati takut ia menyinggung perasaan dari Fauzi atas ucapannya itu.
"Kamu boleh mengikuti les apapun itu yang penting berhubungan dengan memasak, kamu pilih saja tempat yang kamu sukai dan ayah akan mengatur semuanya, asalkan kamu bisa memasakkan aku makanan yang enak dan lezat," timpalnya Fauzi sambil membersihkan sisa makanan di sudut bibirnya itu.
"Makasih banyak ayah," ucapnya antusias Arifah yang spontan langsung ingin memeluk tubuh suaminya itu tapi, langsung di cegah.
"Stop! Tidak perlu main peluk-peluk kalau hanya kita berdua saja, kecuali ada di tempat umum silahkan," cegahnya Fauzi sambil mendorong tubuhnya Arifah yang sudah menyentuh bagian tubuhnya Fauzi.
Arifah saking bahagianya dan senangnya sampai melupakan batasan dan perjanjian yang sudah mereka sepakati bersama sebelumnya.
Fauzi segera berdiri dari duduknya itu," sebentar malam akan datang sepupuku untuk tinggal di rumah kita ini, kasihan dia harus tinggal ngekos di luaran sana sedangkan rumah kita ini besar,apa salahnya mengajaknya tinggal bersama kita, kamu tidak keberatan kan dengan rencana ayah?" Tanyanya Arifah.
"Tidak masalah kok bagiku, ayah memecat semua asisten rumah tangga dan juga tukang kebun aku mana protes sedikitpun, yang paling penting aku bisa ikut kursus dan melahirkan calon anakku nantinya itu sudah cukup aku tidak butuh yang lainnya asalkan kali ini jangan larang aku ikut kursus,"
"Oke, aku suka kamu yang penurut seperti ini, kamu manut dengan semua perintahku kamu akan selamat," terangnya Fauzi yang kemudian berlalu dari hadapannya Arifah.
__ADS_1