Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku

Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku
Bab. 31


__ADS_3

Air matanya menetes membasahi pipinya ketika melihat pria yang sangat dia cintai dan hormati itu sama sekali tidak peduli padanya. Suaminya bertanya sedikitpun tidak pernah apalagi untuk memeriksa kondisi kesehatannya yang sangat mengkhawatirkan.


"Ayah, tolong," lirihnya Arifah sambil mengulurkan tangannya ke arah Fauzi yang hanya menolong istri pertamanya itu.


Bukan hanya fisiknya saja yang tersakiti,tapi jiwa dan psikis serta hatinya yang hancur lebur berkeping-keping hingga seolah-olah tidak berbentuk lagi.


Hati perempuan mana yang tidak akan terluka jika, melihat pria yang setiap dalam doa dan sujudnya selalu melafazkan namanya untuk kebaikan suaminya itu, padahal setiap hari ia mendapatkan perlakuan yang sama sekali tidak mengenakkan dari suaminya itu.


Fauzi As'ad Anwar sekedar berbasa-basi saja tidak, apalagi berusaha untuk menolongnya. Air matanya semakin mengalir deras membasahi pipinya dan berusaha menahan rasa sakit yang semakin datang menggerogoti tubuhnya itu.


"Sabar yah Non Arifah, kita sudah berada di jalan menuju rumah sakit," ucapnya Mang Deni yang mengemudikan mobil sesekali menatap ke arah belakang melalui kaca spionnya.


"Auh sakit sekali Pak,saya tidak tahan lagi, Aahhh!!" Jeritnya Arifah sambil meremas kain daster batik yang dipakainya itu dengan sekuat tenaga.


"Iya Nona bertahanlah, insha Allah… bayi Nona pasti selamat,Non juga akan baik-baik saja," timpalnya Pak Rahmat.


"Pak Rahmat coba hubungi istrinya Bapak supaya ada perempuan yang menemani kita di rumah sakit, kalau hanya Retno aku takutnya dia kewalahan dan tidak mengetahui seluk-beluk rumah sakit nantinya untuk pengurusan data administrasi Nona," usulnya Mang Deni yang sudah menitikkan air matanya melihat anak dari pria yang berjasa besar dulu membantu kehidupan keluarganya selama ini.


"Pak Deni cepat tambah kecepatan mobilnya, darahnya Non semakin banyak yang menetes,saya takut jika terlambat," teriaknya Mbak Retno adik dari Pak Rahmat.


"Ya Allah… tolonglah Nona Arifah dengan bayinya, kasihan jika terjadi hal-hal yang tidak baik, pasti Non Arifah semakin hancur, terpuruk bahkan kesedihan tiada taranya," gumamnya Pak Rahmat yang memangku tubuh perempuan berusia 20 tahun itu yang sudah seperti anaknya sendiri.


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit berbarengan dengan kedatangan Fauzi dan Aura yang juga mengeluh kesakitan yang sangat tak tertahankan.


"Dokter tolong!" Pekik Fauzi yang berusaha menggendong tubuh istri pertamanya itu, dengan peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya dan wajahnya itu karena kelelahan yang sedari tadi berusaha untuk menahan berat bobot tubuhnya Aura yang tidak seperti biasanya selama ia hamil.


Perawat segera mendorong bangkar rumah sakit,tapi karena mereka berbarengan datangnya sehingga perawat dan suster itu saling bertatapan kebingungan dengan memilih dari kedua pasien yang sama-sama mengalami keguguran itu.

__ADS_1


"Maafkan kami Pak, sepertinya pasien ini yang lebih duluan harus kami antar ke UGD," imbuhnya suster tersebut.


Tanpa peduli dengan tanggapan dari Fauzi yang sudah kesal dengan sikap dari perawat tersebut yang lebih milih Arifah dibandingkan dengan istri sahnya Aura.


"Hey! Apa-apaan sih kalian saya yang memanggil kalian tapi, malah menaikkan tubuhnya perempuan itu, apa kalian tidak lihat dengan jelas ha!!" Bentaknya Fauzi.


Akhirnya beberapa perawat tersebut memilih untuk menaikkan tubuhnya Arifah ke atas bangkar sedangkan Fauzi malah harus menunggu kedatangan bangkar selanjutnya.


"Cepat persiapkan ruang operasi secepatnya karena kedua pasien ini harus segera menjalani operasi!" Perintah Dokter.


Perawat dibuat sibuk karena kondisi kedua pasien ditangani oleh mereka sama-sama mengalami kondisi yang hampir tidak ada bedanya.


Pak Rahmat dan Mang Deni mondar mandir kesana kemari seperti setrikaan di depan pintu ruang operasi. Sedangkan Mbak Retno hanya geleng-geleng kepala melihat keduanya yang seperti itu.


Istri Pak Rahmat yang bernama Hamidah juga sudah hadir bersama putri sulungnya yang baru beberapa bulan lalu menikah, tapi belum diberikan resky untuk hamil juga.


"Sebut namanya saja Pak Fauzi dengan lengkap, kalau masalah ijin operasi saya yang tanda tangan karena, kami katakan pada mereka jika Tuan Fauzi berada di luar daerah," terangnya Mang Deni.


"Kalau gitu aku pamit kembali ke sana untuk segera menyelesaikan administrasinya,"


"Bagaimana ibu, apa suaminya atas nama Nyonya Arifah Azizah Oktarani Zainul sudah datang?" Tanyanya orang bagian admin tersebut.


"Tuan Fauzi As'ad Anwar lagi di luar daerah Mbak, jadi kami sebagai orang yang bekerja di rumahnya yang menggantikan posisi suaminya dan ini kartu keluarga yang Anda minta," ungkap Bu Hamidah sambil menyodorkan selembar kartu kk ke hadapan pegawai administrasi.


"Fauzi As'ad Anwar," gumamnya pegawai itu sambil menatap ke arah rekan kerjanya.


"Ada apa, kenapa wajahmu seperti keheranan gitu," cercanya salah satu teman semejanya itu.

__ADS_1


Perempuan itu sambil melirik ke arah Bu Hamidah sambil berbisik-bisik," nama suami keduanya sama dengan pasien yang bernama Aura Putri Bakrie, coba lihat berkas keduanya, kondisi mereka pun sama yaitu sama-sama mengalami keguguran tapi, usia kandungannya berbeda kalau Nyonya Arifah sudah jalan delapan bulan sedangkan, Ibu Aura baru jalan empat bulan nama suaminya yaitu Fauzi As'ad Anwar, tidak mungkin ada kebetulan yang sama kan,pasti mereka ini istri pertama dan kedua, tapi heran kok keadaan mereka sama dia waktu yang bersamaan pula,apa jangan-jangan mereka lagi bertengkar sehingga mereka terjatuh gitu yah," terangnya perempuan itu.


"Kamu kepo banget dan malah punya banyak waktu luang untuk menerka kondisi keduanya, tapi kemungkinan besarnya yang bernama Aura itu pelakor iya gak sih," timpal yang satu.


"Sudah jangan ngegosip,ngibah, atau menduga hubungan ketiganya, Intinya ini pasien keduanya sungguh memprihatinkan dan kemungkinan besarnya mereka akan kehilangan calon bayinya dan satu lagi sepertinya akan diangkat rahimnya jalan yang dipilih oleh dokter," ucap seorang wanita yang memakai hijab yang baru bergabung kerena mengurus beberapa persyaratan dan berkas penting keduanya.


Beberapa menit kemudian, mereka berlima sudah duduk di depan pintu masuk ruang operasi dengan harap-harap cemas. Sedangkan Fauzi duduk tidak jauh dari tempat mereka. Karena letak ruang operasi tempat Aura dioperasi tidak terlalu jauh dari tempat mereka duduk.


Bu Hamidah melihat ke arah Fauzi yang duduk dengan raut wajahnya yang cemas dan takut memikirkan kondisi dari keselamatan Aura dan calon bayinya itu.


"Tuan Fauzi kok berubah banget yah, padahal aku dulu sempat lihat mereka itu sangat bahagia, tetapi tahu-tahunya Tuan Fauzi tidak sebaik yang kami lihat selama ini," batinnya Bu Hamidah yang sangat kasihan dan sedih melihat nasib malang yang menimpa Arifah anak dari majikan suaminya tempat ia bekerja beberapa tahun belakangan ini.


Kurang lebih dua jam kemudian, Arifah segera dibawah ke dalam ruangan ICU untuk sementara waktu untuk mengawasi kondisi perkembangan kesehatannya setelah dioperasi di ruang ICU. Apabila kondisi kesehatannya sudah membaik dia akan segera dipindahkan ke kamar inap perawatan.


Karena mereka sama sekali tidak memiliki biaya pengobatan, walaupun ada tapi jauh lebih dari kata cukup. Bu Hamidah sudah mencari beberapa sumber dana untuk meringankan biaya perawatan Arifah dengan mengumpulkan tabungan ketiganya.


Mang Deni sudah meminta uang kepada Fauzi tapi, malah mendapatkan makian dan hinaan dari Fauzi. Mang Deni mengingat baik perkataan itu.


"Maaf Mang Deni biaya perawatan perempuan itu tidak bisa aku tanggung, karena siapa suruh terjatuh dan ikut menarik tangannya Aura sehingga saya kehilangan bayi kami, jadi tolong jangan sekali-kali datang mengemis belas kasih ku,ingat baik-baik semua perkataanku ini!" Geramnya Fauzi.


"Jadi kita harus mencari biaya di mana lagi sedangkan,gaji dari kita bertiga hanya terkumpul lima juta saja, sisanya masih perlu butuh banyak uang tambahan lagi," jelasnya Pak Rahmat.


"Ya Allah… begitu miris dan kasihan nasibnya Non Arifah padahal selama ini ia selalu baik dan hidup berkecukupan tapi, disaat seperti ini malahan kita kesulitan, jadi Mas kita cari dimana lagi uangnya yang tidak sedikit itu," keluhnya Bu Hamidah.


Mereka di depan ICU sambil memperhatikan kondisinya Arifah yang dibantu oleh beberapa peralatan medis.


"Maaf saya akan membantu pelunasan semua biaya perawatan rumah sakitnya Arifah, tapi tolong jangan katakan kepadanya nanti jika aku yang membantu kalian," ujarnya.

__ADS_1


__ADS_2