
Fauzi terus berusaha untuk masuk dan menerobos pagar besi menjulang tinggi itu.
Fauzi segera berusaha untuk mengejar mobilnya Arifah, tapi sia-sia saja.
"Arifah, ini ayah Nak! Tolong berhenti Ayah mau bicara!" Teriaknya Fauzi sembari ingin meraih mobil itu tapi percuma saja.
Pagar besi menjulang tinggi itu tertutup rapat, sehingga usahanya Fauzi percuma saja untuk mengejar mobil sedan hitam itu.
Fauzi menggedor pintu pagar kokoh tersebut dengan sekuat tenaganya, "Arifah! Ini ayah Nak, dengarkan ayah baik-baik, please aku mohon dengarkan aku dan ijinkan aku bertemu denganmu walaupun hanya sebentar saja!" Teriaknya Fauzi As'ad Anwar yang sama sekali tidak mau menyerah dengan keadaan dan keputusan yang sudah diambil oleh Arifah bersama tim pengacaranya itu.
Kang Hendra segera berjalan ke arah pagar besi bercat hijau itu, karena cukup terganggu dengan teriakan dan ulahnya Pria tidak berguna itu.
"Kamu seperti anjing saja terus menggonggong saja yang belum diberikan tulang oleh majikannya! Sampai-sampai telingaku hampir budeg mendengar teriakanmu!" Sarkasnya Kang Hendra seraya mengorek telinganya itu.
"Kamu hanya security disini, tapi belagu banget, kamu mungkin tidak mengetahui siapa aku sebenarnya! Saya ini suaminya Arifah jadi kamu tidak pantas memperlakukan aku dengan kasar, aku pasti akan mengadukan perlakuan tidak baikmu ini pada Arifah jika aku bertemu dengannya," ancamnya Fauzi yang menggebu-gebu dan berharap perkataannya nanti akan didengar oleh Arifah anak angkatnya sekaligus istrinya itu.
Kang Hendra tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari Fauzi," ya Allah… kepedean banget deh Tuan Fauzi yang terhormat ini, apa karena sudah amnesia atau hilang ingatan sebagian besar sehingga melupakan statusnya sehingga dengan sombongnya berkata seperti itu di depanku! Hey nyadar bung Anda itu bukan siapa-siapa lagi di rumah ini, saya akan bantu Non Arifah untuk menjelaskan kepada Anda, jika kalau Anda itu sudah resmi bercerai dengan Nona Arifah Azizah Oktarani Zainul dan hubungan Anda sebagai anak angkatnya pun sudah tinggal kenangan, jadi please yah Tuan jangan sekali-kali datang lagi ke sini," umpatnya Kang Hendra yang ikut tersulut emosinya melihat pria yang tidak bersyukur dan tidak tahu diri itu.
Fauzi membelalakkan matanya mendengar hal itu, ia berusaha untuk menarik tangannya Hendra," apa yang kamu katakan aku yakin banget itu kebohongan besar, karena Arifah itu sangat mencintaiku jadi buka pintunya aku akan berbicara langsung dengan Arifah dan aku pastikan akan memecat mu setelah aku berbicara dengannya!" Ketusnya Fauzi.
Sedangkan Aura Afidah Lukman hanya duduk dengan manis di dalam mobil sambil menunggu suaminya menyelesaikan urusannya itu.
"Aku tidak mau jatuh miskin, untungnya ada tabungan aku yang sama sekali tidak diketahuinya, aku juga harus menyembunyikan beberapa perhiasan emas yang sempat aku beli dulu," gumamnya Aura sambil berselancar di dunia maya untuk mencari teman ngobrol dimasa seperti sekarang ini.
Fauzi sama sekali tidak menyerah dan menunggu pagar itu terbuka lebar kembali. Dia yakin dengan sangat jika Arifah akan memaafkannya dan menerimanya kembali, karena menurutnya cintanya Arifah kepadanya sungguh begitu besar.
__ADS_1
"Kalau Anda tidak mau pulang dan berniat untuk disini seharian aku tidak akan melarang, tapi dengan satu syarat tolong jangan ribut apalagi berteriak histeris kasihan dengan tetangga yang terganggu dengan suara teriaknya Anda yang sungguh memekakkan telinga!" Cibirnya Mang Hendra.
Arifah diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh mantan suaminya itu sekaligus pria yang pernah menjadi ayah angkatnya. Karena, masih memiliki perasaan sebagai seorang anak yang berbakti sehingga satu unit apartemen yang ditempatinya Fauzi dan beberapa mobil dia tidak tarik kembali. Karena semua itu adalah miliknya Arifah.
"Kamu sudah berjasa besar untuk membesarkan aku selama ini, tapi aku membantumu bukan berarti aku masih sayang padamu, rasa cinta dan sayangku yang aku miliki untukmu pergi tak bersisa bersamaan dengan kepergian calon bayiku selama-lamanya jadi,jangan banyak berharap untuk kembali seperti dulu lagi," gumamnya Arifah sambil menutup kembali tirai gorden jendela kamarnya itu.
"Nona Arifah, sudah saatnya kita berangkat ke bandara, semuanya sudah beres dipersiapkan oleh pengacara Nona," imbuhnya Amelia anak sulungnya Pak Rahmat yang sudah diputuskan akan tinggal du rumah itu untuk menjaganya selama Arifah berada di luar negri untuk menyelesaikan pendidikannya.
Arifah melirik sekilas ke arah Amelia yang tersenyum tipis," apa pak Rahmat dengan Bu Hamidah sudah siap?" Tanyanya Arifah.
"Insha Allah…mereka sudah siap lahir batin berangkat ke London UK Non," candanya Amelia.
Arifah hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan dari mulutnya Amelia.
"Nona sudah tidak seperti dulu lagi, yang selalu ceria dan kalau kami ajak bercanda pasti akan heboh dan antusias, tapi semenjak calon bayinya meninggal dunia, itu seolah sudah pergi bersama dengan kepergian cintanya untuk selamanya dari kehidupannya Non Arifah," cicitnya sendu melihat begitu malang nasib majikannya itu.
Arifah juga menginginkan bedrest di luar negeri saja dibandingkan dengan di tanah air. Ia ingin secepatnya melakukan terapi pemulihan setelah mengalami keguguran. Dia tidak ingin gara-gara kecelakaan itu membuat rahimnya kedepannya bermasalah.
"Selamat tinggal Jakarta, selamat tinggal masa lalu aku tidak akan pernah sudi lagi untuk menoleh sedikitpun ke masa lalu, cukup kenangan pahit yang membuatku lebih dewasa, bijak, sabar, tegar dan kuat menjalani sisa kehidupanku di dunia ini," cicit Arifah yang diam-diam menitikkan air matanya dan sembunyi-sembunyi pula menyekanya.
Arifah sudah bertekad untuk membuang jauh-jauh dan mengubur dalam-dalam lukanya dan kepedihan hatinya selama ini. Dia tidak ingin terus bercermin pada kesalahan masa lalunya yang terlalu naif sehingga mudah untuk dibodohi oleh laki-laki berkedok suami sekaligus ayah angkatnya.
Arifah mantap untuk melangkah jauh karena hidupnya tidak akan berhenti dan begitu-begitu saja, tanpa ada usaha keras dari dirinya sendiri.
"Pak Rahmat apa sudah siap otw?" Tanyanya Arifah ketika pak Rahmat menyambutnya dengan membuka pintu mobilnya itu.
__ADS_1
Pak Rahmat tersenyum ramah," insya Allah… Non Arifah saya dengan istri sudah siap untuk berangkat tanpa ada keraguan sedikitpun," imbuhnya Pak Rahmat.
"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu, kalau begitu kita berangkat ke UK Inggris," ucapnya Arifah yang sudah duduk dengan anteng di dalam mobilnya itu.
Arifah membuka kaca jendela mobilnya,dia sengaja ingin memperlihatkan pada mantan suaminya itu jika,dia akan pergi dari Jakarta untuk beberapa tahun. Arifah juga sudah mewanti-wanti orang-orang kepercayaannya untuk tidak mengatakan kepada siapapun akan keberangkatannya ke Inggris.
Fauzi yang mendengar suara klakson dan deru mesin mobil segera keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa. Dia melihat dengan jelas jika Arifah yang berada di dalam mobil tersebut.
"Arifah tunggu ayah! Aku ingin berbicara denganmu!" Teriaknya yang sudah berdiri di depan mobil yang dipakai oleh Arifah agar supir pribadinya itu segera menghentikan laju mobilnya segera.
"Berhenti Mang Deni!" Perintahnya Arifah.
Arifah segera memasang kacamata hitamnya itu diatas hidung mancungnya.
"Ada apa ayah terus teriak-teriak! Apa ayah tidak capek?!" Nyinyir Arifah sambil berkacak pinggang di depan Fauzi.
Fauzi ingin menyentuh lengannya Arifah tapi, segera ditepis oleh Arifah dengan kuat," stop! Please jangan sentuh aku lagi ingat kita ini bukan siapa-siapa lagi, jadi tolong jaga batasannya Anda!" Tegasnya Arifah.
Fauzi tersenyum kecewa dengan sikap dan perlakuannya Arifah terhadapnya yang sama sekali tidak pernah bersikap seperti itu. Dulu selalu bermanja-manja padanya tapi hari ini malah bersikap kasar padanya.
"Aku hanya ingin bicara padamu hal penting,"
Arifah tersenyum mencemooh," apa bicara hal penting denganku!? Hey kemana saja Anda selama ini, setiap kali aku mendekatimu dan pengen berbicara tentang perkembangan calon anakmu,kamu selalu menjauh seolah kamu tidak mendengar apa yang aku katakan, kamu selalu menghindariku seperti aku ini punya penyakit menular saja, kenapa baru sekarang punya waktu untuk berbicara denganku!" Sarkas Arifah.
"Kau tidak sepantasnya bersikap seperti ini padaku, apa kamu lupa siapa yang telah berjasa membesarkanmu, siapa orang yang telah menampung mu ketika kau menjadi anak yatim-piatu!? Apa kamu sudah lupa akan hal itu?" Tanyanya Fauzi yang sudah meninggikan volume suara nya itu.
__ADS_1
Arifah hanya tersenyum sinis," Pak Fauzi aku bukan kacang yang lupa kulitnya, setelah dibantu malah menikam balik, aku masih punya hati nurani, makanya aku masih menerimamu bekerja di perusahaan aku dan juga beberapa aset milikku kamu masih pakai, apa Anda melupakan mobil yang sedang diduduki oleh istri tersayang Anda memakai uang perusahaan milik papaku pak Zainul Arifin Khalid dan juga satu unit apartemen yang atas namaku, apa semua itu kurang jika dibandingkan dengan sikap dan kejahatan Anda menggelapkan uang perusahaan demi membahagiakan istri sah Anda! Semoga apa yang aku katakan bisa membuka mata batin dan pikiran Anda untuk berhenti mengusik dan mengganggu ketenangan hidupku," terang Arifah panjang lebar.
Arifah segera berlalu dari hadapannya Fauzi," Mang Deni jalan pak!" Pintanya Arifah yang dilihat raut wajahnya sama sekali tidak ada kesedihan dan penyesalan yang terpancar dari mimik wajahnya.