Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku

Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku
Bab. 9


__ADS_3

"Apa kamu serius jika kamu hamil?" Tanyanya Fauzi As'ad Anwar sambil menangkupkan kedua tangannya di kedua pipinya Arifah Azizah Oktarani Zainul.


Arifah jadi salah tingkah dan mulai ketakutan jika kebohongannya terbongkar. Sedangkan Fauzi sangat bahagia mendengar kabar gembira itu, tapi entah apa yang akan terjadi jika ia mengetahui jika, Arifah sama sekali tidak hamil.


"A-ku ha-mil anaknya ayah," jawabnya Arifah yang terpaksa berbohong demi tujuannya tercapai yaitu Fauzi batal menikah dengan Aqila Sera Wijaya.


"Kalau seperti itu, ikut ayah kita akan pergi ke suatu tempat," imbuhnya Fauzi malam itu.


Fauzi menarik tangannya Arifah hingga sampai ke carport mobilnya. Alifah Arsana Khaerul tanpa sengaja melihat apa yang keduanya lakukan.


"Kenapa Abang memperlakukan Arifah seperti itu,apa yang terjadi pada keduanya?" Gumamnya Alifah yang berjalan ke arah dapur karena mencari sesuatu benda yang tanpa sengaja ia jatuhkan di lantai sekitarnya meja makan.


Fauzi memilih secara acak mobil yang akan dipakainya di garasi rumahnya itu.


"Kamu masuklah dan tidak perlu banyak tanya! Kamu cukup patuh dengan apa yang ayah lakukan," Perintahnya Fauzi yang sudah duduk dibalik kemudi mobilnya itu.


Arifah yang awalnya ingin kembali bertanya, spontan mengurungkan niatnya," ikuti saja dulu apa maunya ayah gatengku,entar banyak tanya jadi dia marah dan mengurungkan niatnya yang mungkin baik untuk hubungan kami kedepannya," batinnya Arifah yang tersenyum tipis.


Mobil yang mereka pakai sudah melaju membelah jalan protokol ibu kota Jakarta dengan kecepatan yang cukup sedang dan bergabung dengan pengendara lainnya. Arifah sesekali memperhatikan raut wajah serius dari wajahnya Fauzi pria yang berstatus ayah angkatnya, tapi baginya pria dewasa berusia 35 tahun itu bukan ayahnya tapi, kekasihnya sejak dia duduk di bangku sekolah menengah atas perasaan itu sudah berubah seiring berjalannya waktu. Rasa itu semakin berbeda di dalam lubuk hatinya yang terdalam.


Hingga beberapa bulan yang lalu sekitar tiga bulan, ia merelakan keperawanannya dia persembahkan hanya untuk ayah angkatnya, dengan jalan dan cara yang cukup terbilang ekstrim karena, Arifah memasukkan obat peee raaang saaang di dalam teh yang dibuat khusus untuk Fauzi suatu malam kala itu.


"Makam ini aku akan meresmikan hubungan dengan menikahi Arifah walaupun hanya sekedar nikah siri saja dulu yang penting bisa menutupi kehamilannya dan semoga pernikahanku bisa segera aku batalkan," gumamnya Fauzi.


Sedangkan di dalam ruangan dapur, seseorang mondar mandir ke san kemari mencari kanton plastik kresek yang ia jatuhkan beberapa jam yang lalu.


"Ya Allah… kemana perginya kantong kresek yang berisi testpack itu? Gimana kalau ada orang lain yang menemukan dan melihatnya sedangkan di dalam rumah hanya aku yang hamil, bisa gawat kalau seperti ini, dimana Mas Fadil katanya besok akan balik dari Bandung," kesalnya Alifah Arsana Khaerul adik sambungnya Fauzi yang berbeda bapak itu.


Alifah sudah membongkar isi tong sampah hingga semua isinya tercecer di atas lantai keramik, ia juga sudah mencari hingga ke beberapa tempat yang kemungkinannya terjatuh,tapi hasilnya sama saja tetap nihil. Alifah hanya berharap semoga tespacknya tidak jatuh ke dalam tangan yang salah.


"Semoga saja testpack tidak ditemukan oleh orang lain, padahal rencananya itu entar aku ingin perlihatkan pada Fatir kalau aku hamil anaknya," gumam Alifah yang hamil bukan dari anak suaminya tapi, selingkuhannya itu.


Alifah sudah frustasi mencari benda kecil tapi sungguh ajaib hasil dari benda itu jika ketahuan oleh orang lain.


"Aku harus segera mengurus perceraiannku dengan Mas Fadil, aku tidak mungkin hidup terus menerus dengan suamia yang sama sekali tidak menginginkan aku dan berselingkuh dengan wanita lain di belakangku," kesalnya Alifah yang segera mengganti pakaiannya untuk bertemu dengan kekasihnya itu.

__ADS_1


Alifah pun mengambil mobil berwarna merah itu untuk ia pakai menuju apartemen milik Fatir. Dengan kecepatan rendah ia melajukan mobilnya menuju apartemennya Fatir Muhammad Iqbal karena, tidak ingin terjadi sesuatu pada calon bayinya yang ada di dalam kandungannya.


"Pakailah pakaian ini dan jangan lupa berdandan semua alat makeup akan Mbak Ririn sediakan untukmu kalau kamu kesulitan dalam memakainya,minta tolong saja sama Mbak Ririn, tapi Ingat jangan terlalu lama berdandannya," imbuhnya Fauzi.


Arifah hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dan persyaratan Fauzi. Ia segera menjalankan perintah dari ayah angkatnya itu tanpa perlawanan sedikitpun yang sering kali ia lakukan.


Fauzi meninggalkan Arifah di dalam sebuah ruangan, ia pun berjalan ke arah ruangan lainnya untuk bertemu dengan sahabat sekaligus pemilik butik itu.


"Jadi kamu akan menikahi anak angkatmu sedangkan kamu sudah bertunangan dengan perempuan lain yang akan kamu nikahi kurang lebih satu bulan lagi?" Tanyanya Rianti Zulham Effendi.


"Ini harus aku lakukan agar kedepannya aku bisa memutuskan pertunanganku dengan Aqila Sera Wijaya entah kenapa aku merasakan kebimbangan dan ada rasa tidak rela menikahi perempuan lain selain Arifah," ujarnya Fauzi.


"Kenapa baru nyadar sekarang jika anak angkatmu yang kamu sukai dan cintai malah melamar wanita lain hanya karena,balas budi kepada kedua orang tua Aqila Sera. Menurut aku kamu yang bego dalam hal ini lagian kamu itu sah-sah saja menikahi anak angkatmu secara hukum dan agama karena kalian sama sekali tidak ada hubungan darah sedikit pun, lagian di mata hukum negara kamu bukan tidak pernah mengadopsi Arifah hanya saja ucapan secara lisan bentuk tanggung jawab kamu sebagai saudara angkat dari papanya Arifah calon mertuamu," ungkap Rianti panjang lebar.


Rumah bercat hijau, pukul 20:10 malam.


Fauzi segera masuk kedalam rumah itu yang cukup sederhana. Fauzi sebelum sampai di rumah tersebut,ia membawa Arifah ke salah satu butik langganannya untuk mengambil dua pasang pakaian kebaya pengantin dengan warna putih bersih.


Arifah Azizah Oktarani selalu ingin bertanya, tapi selalu juga ia urungkan kembali niatnya itu dikarenakan ultimatum Fauzi sebelumnya yang melarangnya untuk berbicara dan mengungkapkan pendapatnya. Arifah hanya berusaha jadi perempuan penurut tanpa membangkang seperti biasanya.


"Waalaikum salam Pak haji Firdaus Adinata," balasnya Fauzi.


"Silahkan masuk semua yang bapak perintahkan pada kami sudah siap, kalau bisa jangan menunda ataupun mengulur waktu lebih lama lagi sebelum waktu baiknya berlalu," ujarnya Pak Firdaus Adinata.


"Silahkan, lebih cepat lebih bagus malah pak," balasnya Fauzi sambil bercanda.


Mereka pun berjalan mengikuti langkah kakinya Pak Firdaus Adinata. Arifah terbelalak melihat keadaan dalam rumah tersebut yang sudah dipenuhi oleh beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu yang berpakaian cukup cantik dan rapi menunggu kedatangan keduanya.


"Silahkan kalian berdua duduk di depan pak penghulu agar kalian segera menikah," pintanya Pak Firdaus Adinata.


"Menikah," beonya Arifah yang bahagia sekaligus terkejut mendengar perkataan yang meluncur dari mulutnya pak Firdaus.


Fauzi dan Arifah duduk saling berdampingan, mereka sudah siap untuk dinikahkan.


"Bagaimana pak Fauzi apa sudah siap untuk menikah?" Tanyanya Pak Penghulu yang bernama Pak Hadi Prabowo.

__ADS_1


"Siap lahir batin," jawabnya Fauzi dengan penuh kesungguhan.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Fauzi As'ad Anwar dengan Arifah Azizah Oktarani Zainul bin Abbas Adiguna dengan mas kawin emas 24 karat seberat lima gram dengan uang tunai tiga puluh juta serta seperangkat alat sholat dibayar tunai," ucapnya pak Hadi Prabowo.


"Saya terima nikah dan kawinnya Arifah Azizah Oktarani Zainul dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Fauzi dengan suara yang cukup lantang dan menggema di dalam ruangan itu.


"Bagaimana para saksi, apakah sah?" Tanya Pak Hadi Prabowo sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut


"Sah!" Balas semua orang.


"Alhamdulillah,"


Air matanya Arifah tak terbendung lagi, tangis haru bahagia karena sudah resmi menjadi suami istri walaupun semuanya serba dadakan, tapi dimatanya seolah pernikahan itu sudah direncanakan dengan baik oleh ayah angkatnya yang berubah status menjadi suaminya malam itu juga.


"Kenapa bukan sejak dulu aku pura-pura hamil saja, pasti ceritanya dan kisahnya tidak akan serumit ini dan kemungkinan besarnya ayah tidak akan pernah bertunangan dengan Aqila Sera Wijaya perempuan penggoda itu," batinnya Arifah.


Pernikahan keduanya pun sudah berlangsung secara sederhana, tapi Fauzi sempat memesan catering untuk mereka yang hadir sebagai balas budinya karena orang-orang itu dengan sukarela datang menghadiri dan menjadi saksi pernikahannya.


Sedang di tempat lain, tepatnya di salah satu apartemen mewah dibilangan Kuningan Jakarta Selatan.


Setelah kegiatan mereka malam itu, Alifah pun menjelaskan tentang apa yang terjadi padanya. Alifah mengelus roti sobek milik kekasihnya itu dengan penuh kelembutan dan manja.


"Sayang aku hamil anak kita," ucapnya Alifah.


Fatir yang mendengar perkataan dari mulut pacarnya begitu terkejut sekaligus bahagia. Hingga Fatir langsung bangkit dari posisi rebahannya.


"Apa kau serius sayang? Kamu tahu gak aku sangat bahagia berarti kamu punya alasan untuk menggugat cerai suamimu," tuturnya Fatir.


Alifah sangat bahagia melihat reaksi dan respon dari Fatir Muhammad Iqbal, Alifah Arsana Khaerul tidak menyangka jika pacarnya sebahagia itu mendengar berita kehamilannya.


Fatir mengelus perut datarnya Alifah dengan penuh cinta hingga berulang mendaratkan ciuman ke puncak perutnya Alifah yang hanya tertutup kain tipis setelah rutinitas biasa mereka jika bertemu.


"Ternyata seperti ini rasanya punya calon anak, aku sangat bahagia ya Allah... walaupun apa yang selama ini kami lakukan tidak baik," gumamnya Alifah yang menitikkan air matanya saking bahagianya dan juga sedih dalam waktu yang bersamaan.


Sedangkan Fatir Muhammad Iqbal tak bosan-bosannya menghujani ciuman untuk calon babynya yang baru berusia dua bulan itu.

__ADS_1


"Sayang kita harus segera menikah, hal ini tidak boleh ditunda lagi, kamu berterus terang sama Abangmu agar segera membantumu untuk mengurus perceraian dengan pria bajingan itu," usulnya Fatir sambil memeluk posesif pinggangnya Alifah.


__ADS_2