
Setiap hari seperti itu lah rutinitas sehari-harinya Arifah Azizah Oktarani Zainul. Dengan perutnya yang buncit dan sudah memasuki usia ke delapan bulan sama sekali tidak membuatnya terganggu dalam beraktifitas di dalam rumahnya maupun ke luar rumah yang hanya berkutat di dapur, kamar dan pasar.
Arifah selalu bahagia dan gembira serta berfikiran positif menjalani kehidupannya seperti itu. Seperti hari ini, setelah kembali dari pasar tradisional, ia bukannya langsung memasak makanan untuk sarapan pagi Aura Afidah Lukman dengan Fauzi As'ad Anwar suaminya itu.
Terkadang Arifah menertawai dirinya sendiri yang terlalu bego untuk dibodohi oleh suaminya sendiri. Karena statusnya sering kali ia pertanyakan pada dirinya sendiri, apakah dia pelakor atau istri sah. Sungguh ironis kenyataan pahit itu, jika dia harus menjadi istri kedua yang dinikahi siri oleh ayah angkatnya demi ambisi sang suami.
"Sungguh malang nasibku, aku jadi pelakor di rumahku sendiri," itu yang kerap kali muncul dibenaknya Arifah.
Hari ini, Arifah keheranan melihat kondisi dari beberapa ruangan rumahnya yang sejak dia tinggal pergi ke pasar rumahnya cukup bersih dan rapi. Tetapi, setelah pulang sudah tidak seperti itu, malahan banyak sampah yang berserakan di atas lantai, hingga beberapa perabot rumah yang tata letaknya sudah berpindah.
Arifah tanpa banyak pikir dan komentar segera mengambil alat pembersih, yaitu sapu,skop sampah dan kantong kresek berwarna hitam yang cukup besar. Dengan telaten Arifah memungut dan menyapu sampah-sampah itu.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga, waktunya memasak makanan untuk sarapan pagi, tapi ngomong-ngomong menu hari ini apa yah," gumamnya Arifah sambil berjalan ke arah dalam rumahnya setelah membuang sampah yang begitu banyaknya.
Fauzy yang melihat aktifitasnya Arifah hanya tersenyum menanggapinya," kamu harus banyak gerak dan beraktifitas jangan rebahan mulu, apalagi kamu itu sedang hamil besar dan menunggu kelahiran bayimu katanya dokter banyak gerak itu bagus untuk membantu proses persalinanmu," tuturnya Fauzi yang sama sekali tidak pernah menanyakan kondisi kesehatan dan kehamilannya Arifah.
Sekedar berbasa-basi saja untuk bertanya tidak pernah sekalipun apalagi berharap untuk mengantarkan Arifah memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan. Tapi, hal itu tidak membuat hatinya Arifah sakit, kecewa ataupun marah. Karena sudah memiliki rencana, apabila dia sudah melahirkan maka akan mendepak kedua benalu itu dari rumahnya.
Arifah sudah membicarakan hal tersebut dengan pengacara almarhum Papanya. Arifah hanya menatap sekilas ke arah suaminya, lalu melanjutkan perjalanannya ke arah dapur. Arifah melihat Aura yang menuruni tangga dengan perutnya juga yang sudah mulai menonjol karena sudah masuk bulan ke lima sedangkan Arifah hanya menunggu beberapa hari lagi. Usia kandungannya sudah delapan bulan lebih.
"Sepertinya kamu patut mendapatkan bonus dan pujian dari pekerjaan yang kamu lakukan ini, rumah selalu bersih, makanan selalu tersedia tepat waktu," sarkas Aura yang mengejek Arifah.
Arifah menghentikan langkahnya itu," aku kan istri keduanya Mas Fauzi Mbak jadi wajarlah aku bersikap seperti ini, dimana-mana istri kedua itu selalu teraniaya dari isteri pertama suaminya," balasnya Arifah yang memperlihatkan senyuman lebarnya.
Aura beberapa hari ini sangat benci dan murka melihat sikapnya Arifah yang sama sekali tidak kelihatan menderita dan prustasi. Padahal niatnya ingin membuat Arifah selalu marah-marah dan membuat kondisi kesehatan janinnya terganggu dan memilih pergi dengan sendirinya dari rumah itu. Sehingga dengan mudah mereka mengambil alih rumah itu.
Di dalam surat wasiat kedua orang tuanya Arifah yang sudah dirubah oleh Arifah sendiri secara diam-diam, yaitu mengatakan rumah itu akan menjadi milik suaminya jika,dia sendiri yang pergi dengan sukarela meninggalkan rumah itu.
Makanya Fauzi dan Aura semakin gencar menyiksa bathin dan mentalnya Arifah. Tetapi, Arifah bukanlah gadis bodoh yang membuat surat wasiat seperti itu karena akan marah dan terprovokasi dengan sikap mereka. Padahal Arifah sudah menduga bakal kejadian seperti ini.
__ADS_1
"Aku sudah melakukan seribu macam cara, tapi tetap gagal total,apa lagi yang harus aku lakukan agar dia bisa angkat kaki dari sini," cicitnya Aura seraya berjalan menuruni undakan tangga satu persatu.
Arifah sesekali bersenandung lagu kesukaannya ketika memasak, hal itu semakin membuat Aura marah dan tersulut emosinya.
Aura kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut dan melihat suaminya sedang asyik membaca majalah dan beberapa surat kabar.
"Sepertinya hari ini waktu yang baik untuk melancarkan rencanaku," lirihnya Aura.
Aura segera berjalan mengendap-endap menuju dapur,ia tersenyum penuh kelicikan ketika melihat ada sebotol minyak kelapa. Aura memperhatikan dengan seksama Arifah yang sama sekali tidak mengetahui kedatangannya di dapur itu. Aura menumpahkan beberapa minyak goreng ke atas lantai.
"Demi kesuksesan rencanaku dengan Mas Fauzi aku harus mengorbankan nyawa calon anak kami, lagian aku juga masih bisa hamil berapa kalipun nantinya, maafkan Mama yang sudah melakukan ini demi masa depan kita dan papamu Mama harus mengorbankanmu, lagian Mas Fauzi pasti kedepannya akan menyalahkan Arifah," cicitnya Aura sembari mengelus perutnya itu dengan senyuman penuh kelicikan.
Aura menuangkan beberapa tumpahan minyak goreng di sekitar kakinya Arifah. Dengan berjalan jongkok Aura melaksanakan rencananya itu. Setelah selesai ia berjalan ke arah tangga seolah-olah dia baru saja datang ke dapur.
Aura tidak mengetahui jika, Arifah sudah bekerja sama dengan pak Rahmat untuk menempatkan beberapa kamera cctv di tempat-tempat tersembunyi yang sama sekali tidak diketahui oleh Fauzi dan Aura. Hal itu dilakukan oleh Arifah untuk merekam dan mengambil beberapa bukti tentang kejahatan pasangan suami istri itu.
"Arifah kamu sedang masak apa?" Tanyanya Aura yang berpura-pura bertanya.
Aura mulai berjalan ke arah tumpahan minyak kelapa itu sambil tidak lupa menarik tangannya Arifah.
"Aaauuuhh!! Tolong!!" Teriaknya Aura yang sungguh melengking tinggi di dalam dapur itu membuat seisi rumah berdatangan yang hanya sekitar enam orang saja.
Arifah yang ikut ketarik pun terjatuh, untungnya kompornya sudah padam kala itu.
"Aaahh!!" Teriak Arifah yang sudah tersungkur ke atas lantai keramik.
Posisinya Aura yang terlentang sedangkan Aura tengkurap di sampingnya.
"Tolong!" Jerit keduanya.
__ADS_1
Fauzy, pak Rahmat, Mang Deni pun berdatangan dan berlari ke arah dapur seperti orang yang berlomba saja. Mereka terkejut melihat dua perempuan hamil itu tergeletak tak berdaya di atas lantai.
Arifah mengayunkan tangannya ke arah Fauzi," a-yah to-long!" Lirih Arifah sambil memegangi perutnya dengan kucuran darah segar yang semakin merembes membasahi dasternya.
Apa yang terjadi dengan Arifah tidak jauh-jauh berbeda dengan Aura. Dia juga meringis kesakitan bahkan berteriak-teriak meminta tolong.
"Mas Fauzi, sakit!"pekiknya Aura seraya memegangi perutnya itu.
Fauzi tanpa ragu segera menggendong tubuhnya Aura lalu berlari ke arah luar. Sedang Arifah masih tengkurap dengan keadaan yang sungguh mengenaskan dan mengkhawatirkan.
Air matanya menetes membasahi pipinya melihat kepergian Fauzy tanpa peduli sama sekali dengan kondisinya yang menderita itu.
"Ayah tolong," Lirihnya Arifah.
Pak Rahmat dan mang Deni mengangkat tubuhnya Arifah ke arah parkiran mobil. pak Rahmat dan Mang Deni saling bertatapan satu sama lainnya melihat dua perempuan hamil tergeletak tak berdaya di atas lantai.
"Apa yang terjadi, kenapa bisa Sampai seperti ini?" Tanyanya Mbak Retno tukang cuci di rumah itu yang dipekerjakan oleh Arifah sendiri.
"Kamu tidak perlu banyak tanya segera ambil beberapa berkas pentingnya Nona seperti KTP dan KK nya serta pakaian ganti untuk Nona, cepat!" Bentaknya Mang Deni.
Mbak Retno segera berlari menuju kamarnya Nona Arifah yang berada di atas lantai dua rumahnya.
"Sabar Non, bapak akan menolong Nona dan kami akan segera membawa Non ke rumah sakit," ujarnya Pak Rahmat yang sigap membantu Mang Deni.
"Bapak sakit sekali," keluhnya Arifah yang sudah tidak tahan dengan kesakitan yang dialaminya itu.
Fauzi hanya melirik sepintas ke arah Arifah tanpa berniat sedikitpun untuk menolongnya. Air matanya Arifah semakin menetes membasahi pipinya itu.
"Tolong selamatkan bayiku," ratapnya Arifah.
__ADS_1
"Sabar Non, kami akan segera membawa Nona ke rumah sakit," tutur Pak Rahmat yang sangat sedih melihat kondisi dari anak majikannya.