Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku

Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku
Bab. 21


__ADS_3

"Aku yakin itu adalah Aqila Sera Wijaya calon istrinya ayah angkatku,tapi kok dia berpakaian pengantin lengkap?" Cicitnya Arifah Azizah Oktarina Zainul.


"Gimana kalau kita ke sana saja samperin supaya kamu enggak penasaran mulu," ajaknya Ariestya Fathia Lubis.


Arifah pun menuruti perkataan dari sahabatnya itu. Mereka membuka pintu mobilnya lalu bergegas ingin menyebrangi jalan, tapi langkah keduanya terhenti karena, klakson dari sebuah mobil yang cukup bising menghentikan langkahnya.


"Sial! Mobilnya sudah melaju," umpatnya Arifah sambil menghentakkan kakinya ke atas aspal karena apa yang dilakukannya terganggu oleh beberapa mobil yang berlalu lalang di sekitar jalan raya tersebut.


"Mas Arif ayo cepat masuk kita kejar mobilnya!" Teriaknya Ariestya.


"Siap Abang Aris," balasnya Arifah yang keduanya masih sempat bercanda dalam keadaan genting seperti itu.


Arifah melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, karena ia tidak ingin ketinggalan jejak dari mobil yang membawa Aqila Sera calon istrinya dari suami sekaligus ayah angkatnya itu.


"Kenapa meski menutup kaca jendela mobilnya, kalau enggak ditutup pasti aku sudah mengetahui siapa pria bersamanya dan kenapa mobilnya uncle Faiz Aksan yang dipakai Aqila,apa mereka saling kenal?" Tebaknya Arifah yang semakin menambah kecepatan mobilnya itu.


Keduanya sudah melupakan tujuan awalnya mereka, yaitu mendatangi rumah sakit khusus ibu dan anak untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan mengenai kesehatan reproduksinya itu.


"Arif, sepertinya aku kok merasa Uncle kau itu ada hubungan dengan calon istrinya suamimu, karena tidak masuk akal banget jika mereka tidak terlalu dekat tapi, bisa memakai mobil kesayangannya Uncle Faiz," terkanya Aristya Fathia Lubis.


"Semuanya akan terjawab jika kita bertemu langsung dengan perempuan yang bernama Aqilah Sera itu," tampiknya Arifah.

__ADS_1


Berselang beberapa menit kemudian, jarak keduanya semakin dekat saja. Arifah tersenyum penuh kemenangan, walaupun awalnya mereka sempat hampir kehilangan jejak mobil milik Faiz Ahsan Khaerul adik iparnya Arifah yang sebelumnya hubungan mereka antara keponakan dan paman.


"Arif, coba perhatikan mereka mengarahkan mobil mereka ke salah satu rumah sakit bersalin, itu kan rumah sakit yang hendak kamu kunjungi," tebak Ariestya sambil menunjuk ke arah rumah sakit tersebut.


"Ya Allah… aku sampai lupa rencana kita yang pengen bertemu dengan dokter Azalina Renata Fatahillah padahal aku sudah buat janji temu dengan dokter," lirihnya Arifah sembari menepuk jidatnya yang baru tersadar dengan sikapnya sendiri.


Arifah memarkirkan mobilnya di tempat khusus parkiran mobil tamu rumah sakit. Arifah dan Ariestya segera berlari kecil menuju ke lobi rumah sakit saat melihat Aqila Sera yang sudah berganti pakaian berjalan masuk ke area rumah sakit.


"Apa sebenarnya yang terjadi, tadi berpakaian gaun pengantin yang cukup cantik, sekarang ke dokter kandungan, apa jangan-jangan ayah angkatmu menghampiriku," ucapnya Ariestya asal jiblak saja yang langsung mendapat toyoran di keningnya itu dari sahabat terbaiknya.


"Jangan ngacau deh, ingat dia bukan ayah angkatku lagi tapi dia suamiku Fauzi As'ad Anwar adalah suamiku dan kamu jangan sembarang ngomong karena suamiku perjakanya diserahkan padaku bukan perempuan lain," tampiknya Arifah yang semakin mempercepat langkahnya menuju ke arah dalam rumah sakit.


Arifah kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut, tapi tidak menemukan keberadaan Aqila Sera dengan seorang pria yang sama sekali tidak dikenalinya karena memakai topi dan jaket hoodie. Sehingga kedua perempuan muda ini kesulitan untuk mengenalnya siapa gerangan pria itu.


"Kita belum berjodoh untuk mengetahui siapa pria yang bersamanya apa itu ayah eehh suamimu atau pria lain yang berhubungan dengan Aqila Sera selama," imbuhnya Ariestya.


"Karena kita sudah berada di sini, gimana kalau kita mendaftar saja untuk ikut antri menunggu giliran untuk dipanggil oleh dokter Azalia Renata, mungkin setelah kelar urusan kita bisa kembali membuntuti kedua orang itu," sarannya Arifah..


"Let's go," ucapnya Ariestya sambil mengalungkan salah tangannya ke lengannya Arifah.


Mereka sudah duduk di tengah-tengah banyak antrian siang hari itu. Arifah terenyuh hatinya melihat beberapa orang ibu hamil yang ditemani oleh masing-masing suaminya.

__ADS_1


"Ya Allah… aku juga pengen seperti mereka, bagaimana kalau aku nggak bisa hamil, pasti perhatian dan sikapnya ayah padaku bisa saja berubah dan yang paling parahnya akan menikah dengan wanita lain yang bisa memberikan dia keturunan," batinnya Arifah yang raut wajahnya langsung spontan berubah.


Ariestya sedari tadi memperhatikan perubahan mimik wajahnya Arifah,ia berinisiatif untuk menggenggam kepalan tangannya Arifah yang seolah mengetahui kegundahan hatinya Arifah.


"Tenanglah, jangan berfikiran macem-macem insya Allah… kamu juga bakal akan berada di posisi mereka yang nantinya perutmu akan buncit, tubuhmu melar karena pengaruh kehamilanmu itu, yang paling penting terus bersabar dan berusaha main kuda-kudaannya kalau bisa Intensitas waktunya semakin ditambah agar kamu juga bisa segera tekdung lagian umur kamu masih muda kali kesempatan untuk hamil itu masih terbuka lebar," tuturnya Ariestya yang memberikan motivasi, semangat dan dorongan yang kuat untuk menghadapi biduk rumah tangganya Arifah yang baru dalam hitungan hari itu.


Arifah memeluk tubuh sahabatnya itu dengan penuh haru," ya Allah abang Aris kamu bijaksana banget dah, sudah seperti emak-emak mertuaku saja yang berikan aku nasehat, tapi sayangnya ibu mertuaku sudah lama meninggal dunia," terangnya Arifah yang akhirnya bisa tersenyum lega berkat masukan dan sarannya Ariestya untuknya.


Berselang beberapa menit kemudian, hingga tiba lah gilirannya arifah untuk segera bertemu dengan dokter Azalia Renata.


"Nyonya Arifah Azizah Oktarani Fauzi," teriak perawat yang berdiri di sekitar pintu masuk ruangan praktek dokter kandungan tersebut.


Arifah pun berjalan bersama Ariestya menuju pintu masuk, tapi keduanya saling melempar pandangan dan mulut mereka menganga saking terkejutnya melihat siapa dua orang yang baru saja keluar dari pintu ruangan praktek tersebut.


"Uncle Faiz Ahsan Anwar!" Cicitnya Arifah.


Arifah mengarahkan pandangannya ke arah tangan keduanya yang saling bertautan dengan bergandengan tangan saling penuh kemesraan.


"Arifah, apa yang kamu lakukan disini?" Tanyanya Fariz yang berusaha untuk mengalihkan suasana yang cukup canggung yang tercipta diantara mereka.


Arifah melipat kedua tangannya di depan dadanya itu," saya yang seharusnya bertanya seperti itu kepada Uncle,apa yang adik ipar lakukan di rumah sakit dengan wanita yang sudah memiliki calon suami yang tidak lain adalah suamiku Fauzi As'ad Anwar," dengusnya Arifah yang tatapannya terus tertuju pada perempuan yang sudah nampak panik,grogi dan salah tingkah itu.

__ADS_1


Faiz Aksan menghembuskan nafasnya dengan cukup kuat," mungkin saatnya kalian tahu semuanya yang terjadi terutama kamu istrinya Abang Fauzi, tapi bukan sekarang, aku tunggu kalian di kafe tepat di depan rumah sakit, karena saya yakin kau punya urusan yang lebih penting yang harus kamu lakukan," tuturnya Faiz yang berjalan meninggalkan kedua perempuan berusia 20 tahun itu yang masih terbengong-bengong dengan semua yang sudah terjadi hari ini.


__ADS_2