
"Tidak masalah kok bagiku, ayah memecat semua asisten rumah tangga dan juga tukang kebun aku mana protes sedikitpun, yang paling penting aku bisa ikut kursus dan melahirkan calon anakku nantinya itu sudah cukup aku tidak butuh yang lainnya asalkan kali ini jangan larang aku ikut kursus,"
"Oke, aku suka kamu yang penurut seperti ini, kamu manut dengan semua perintahku kamu akan selamat," terangnya Fauzi yang kemudian berlalu dari hadapannya Arifah
Arifah mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit di usia kehamilannya sudah jalan dua bulan itu.
"Insha Allah… Mama akan berjuang dan berusaha untuk kuat dan sabar menjalani semua ini demi kamu buah hatinya Mama, semoga kelak jika kamu lahir ke dunia ini, ayah akan berubah seperti dulu lagi yang selalu memanjakanku, kamu adalah alasannya Mama sehingga masih bisa kuat hingga detik ini menjalani kehidupan rumah tangganya Mama," cicitnya Arifah sambil melanjutkan membersihkan seluruh ruangan tamu itu dengan vakum cleaner.
Arifah sangat bahagia karena mendapatkan izin dari suaminya untuk keluar rumah dan mengikuti les pelatihan memasak. Setelah merapikan seluruh isi dapur dan beberapa perabot dapur yang dipakainya itu,ia segera membersihkan ruangan lainnya dan tidak lupa memasak beberapa makanan untuk kedua security dan satu tukang kebunnya. Hanya itu pekerja di rumahnya yang disisakan oleh Fauzi As'ad Anwar.
"Syukur Alhamdulillah… ayah mengijinkan aku keluar rumah ini, saatnya bebas dari penjara itu, semoga saja ini awal yang baik untuk kedepannya," gumamnya segera berjalan ke arah kamar ganti untuk berganti pakaian sambil sesekali berdendang dan bersenandung lagu kesukaannya itu.
Arifah segera berjalan ke arah pintu keluar dan tidak lupa mengunci rapat pintu rumahnya itu. Dengan hati yang gembira ria dia berjalan ke arah carport mobilnya. Tapi, alangkah terkejutnya melihat carport rumahnya kosong melompong satupun kendaraan tidak ada di dalam tempat itu.
"Ya Allah… kenapa ayah tega bener melakukan ini padaku, tapi namaku bukan Arifah Azizah Oktarani Zainul jika tidak bisa pergi dari sini yang hanya bisa mengandalkan mobil ataupun motor, sepertinya ada sepeda milik pak Rahmat semoga saja bisa dipinjamkan padaku," gumamnya Arifah yang segera mempercepat langkahnya menuju pos security.
"Assalamualaikum," sapanya Pak Rahmat yang langsung berdiri di depan Arifah setelah melihat kedatangan Arifah.
"Waalaikum salam," ucapnya Arifah yang membalas salamnya Pak Rahmat penjaga keamanan rumahnya itu.
Arifah celingak-celinguk mencari keberadaan sepeda yang selalu dipakai oleh Pak Rahmat jika datang bekerja di rumah itu.
"Maaf Non, sepertinya sedang mencari sesuatu?" Tanyanya Pak Rahmat yang ikut mengikuti arah penglihatannya Arifah.
"Eh a-nu Pak sa-ya cari sepedanya bapak rencananya saya pengen pinjam,tapi sepertinya sepeda yang aku maksud tidak ada," ujarnya Arifah yang malu-malu dengan niatnya itu.
"Kalau sepedanya kebetulan dipakai anakku Anne katanya hari ini ada lomba sepeda hias di sekolahnya, jadi aku libur pakai sepeda, tapi aku hanya pakai itu saja hehe," tuturnya Pak Rahmat yang tertawa cengengesan memperkenalkan motor bututnya itu.
Arifah gembira karena terbantu dengan motor itu yang sudah berusia sekitar hampir dua puluh tahun lamanya.
"Tidak masalah kok Pak, yang paling penting masih bisa dipakai dan dimanfaatkan kenapa gak aku tidak masalah kok," pungkasnya Arifah yang berjalan mengelilingi motor berwarna merah itu.
"Maaf yah Pak hari ini aku sudah merepotkan, insya Allah… kalau sudah punya motor sendiri mungkin baru tidak pinjam lagi Bapak tidak perlu khawatir aku akan jagain motornya seperti diriku sendiri dan pastinya akan isi bahan bakarnya kok," terangnya Arifah.
"Kalau gitu silahkan dipakai Non, hati-hati dijalan ini helmnya," ucapnya Pak Rahmat sambil menyodorkan sebuah helm berwarna merah pula senada dengan warna motor tersebut.
__ADS_1
"Makasih banyak Pak, assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan," Teriaknya Pak Rahmat.
"Kasihan banget yah dengan nasibnya Nona Arifah dulunya sangat disayangi dimanja tapi, setelah mereka menikah malah dijadikan pembantu saja di rumahnya sendiri, bahkan sudah berhenti kuliah dan dilarang pergi-pergi lagi," sahutnya Pak Adi tukang kebun.
"Benar sekali apa yang kamu katakan, seperti itu lah kehidupan roda terus berputar, tapi aku yakin suatu saat nanti Tuan Besar Fauzi akan mengalami penyesalan yang sangat dengan perlakuannya terhadap pemilik perusahaan dan segala kekayaan yang sekarang diakuinya menjadi miliknya itu," cercanya pak Rahmat yang kasihan melihat Arifah.
Arifah melajukan motornya dengan kecepatan sedang hingga ke alamat tempat kursus masaknya. Arifah menjalaninya dengan sungguh-sungguh dan penuh keseriusan hingga jam pulang.
"Alhamdulillah hari ini cukup melelahkan,apa kamu tidak kelelahan Nak?" Gumam Arifah seraya ngelus perutnya itu setelah membereskan segala perlengkapan yang dipakainya itu.
Berselang beberapa menit kemudian,ia berpamitan kepada beberapa teman kelasnya dan guru pembimbingnya.
"Alhamdulillah semoga pelatihan ku hari ini sudah bisa aku terapkan di rumah," lirih Arifah.
Arifah menyalakan mesin motornya, tapi sudah berulang kali tidak mau menyala juga, padahal sudah jam enam lewat sudah masuk waktu magrib.
"Ya Allah… kenapa dengan ini motor,tadi aku isi full tangki bensinnya kok, untung uang belanja bulanan aku bisa hemat setiap hari dan aku sisihkan sisanya untuk keperluan aku sehari-hari,"
Arifah berjongkok di depan motor milik pak Rahmat Husein itu,tapi ia belum menemukan permasalahannya juga.
Arifah sudah menyerah juga, akhirnya memilih untuk mendorong motor itu sambil mencari bengkel terdekat. Hingga suara klakson motor membuatnya menolehkan kepalanya ke arah sumber suara roda dua itu. Arifah melindungi kedua bola matanya yang silau.
"Maaf Mbak sepertinya motornya butuh ke tukang montir," imbuhnya pria yang seumuran kira-kira dengan Fatir dan Fahmi paman angkatnya.
"Iya nih Mas, cuma enggak tahu dimana ada bengkel di jalan sini," tukasnya Arifah yang masih mendorong motor bututnya Pak Rahmat.
"Coba parkir kan ke tempat itu, aku akan cek motornya,"
Arifah tanpa sepatah katapun segera menjalankan perintah dari pria yang barusan ia kenal dan melihat di tempat tersebut. Pria itu segera mengambil beberapa kunci-kunci perkakasnya di dalam sadel motornya.
"Mbak motornya setelah aku periksa businya kena air, jadi makanya mati nggak bisa nyala," jelas pria itu.
"Jadi gimana dong mas cara nyelesainnya gimana kalau seperti ini?" Tanya Arifah yang mulai panik dan khawatir jika ayahnya sudah pulang dan akan memarahinya yang pulang terlambat.
__ADS_1
"Tenang saja aku akan bantuin kamu Kok, tapi ada syaratnya,"
"Syarat! Kalau nolongin orang itu tidak pakai syarat, ngapain nolong kalo pake syarat segala," dengusnya Arifah.
Pria itu tersenyum mendengar omelan dan gerutunya Arifah yang menurutnya wajahnya Arifah sungguh manis dan lucu.
"Saya hanya memberikan syarat yang mudah, yaitu perkenalkan namamu saja dengan alamat plus nomor hp," ucap pria itu yang tersenyum memperlihatkan deretan gigi putih dan rapinya itu.
"Ya elah, saya kira apaan, namaku Arifah Azizah Oktarani Zainul, alamat jalan xx dan nomor hp maaf hp ku rusak jadi aku tidak punya nomor hp,"
"Nama yang sungguh cantik seperti pemilik namanya, kalau saya Fajar Arthur Prayoga, masih single belum nikah, nggak punya pacar apalagi tunangan," pujinya Fajar sambil memperkenalkan dirinya itu.
Setelah berbincang-bincang sambil memperbaiki motor itu hingga baik seperti sedia kala, Arifah pun berpamitan untuk pulang.
"Makasih banyak atas bantuannya Mas Fajar,maaf saya tidak punya uang yang cukup jadi untuk sementara saya ngutang dulu, insya Allah lain kali kita ketemu lagi baru aku bayar," ujar Arifah seraya menyalakan mesin motornya itu.
"Tidak perlu, katanya menolong itu syaratnya ada beberapa, yaitu harus ikhlas dan tulus tanpa meminta imbalan sedikitpun dan apapun," tempiknya Fajar.
"Kalau gitu saya pamit entar suamiku sudah pulang, assalamualaikum,"
Raut wajahnya Fajar langsung seketika itu berubah setelah mendengar perkataan dari Arifah yang mengatakan dia sudah punya suami.
"Sepertinya pertemuanku dengannya sungguh terlambat, tapi aku berharap suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi dan jika kita bertemu lagi berarti kelak kita akan berjodoh,"
Arifah mengemudikan motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi, hingga hanya butuh waktu beberapa menit saja,ia sudah sampai.
"Ayah sudah pulang rupanya, semoga tidak marah karena aku pulang terlambat," cicit Arifah lalu memutar knop pintu rumahnya itu.
Langkahnya terhenti setelah melihat suaminya bermesraan dengan seorang perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya itu.
"Astagfirullahaladzim," Lirihnya segera memalingkan wajahnya karena tidak sanggup melihat apa yang dilakukan oleh suaminya itu dengan selingkuhannya.
Air matanya luruh seketika,ia berusaha untuk tegar menghadapi cobaan dalam biduk rumah tangganya itu.
"Demi calon baby ku aku harus kuat menjalani kehidupanku ini,"
__ADS_1
Arifah segera berjalan ke arah tangga untuk menaiki undakan tangga satu persatu menuju kamarnya.
"Apa ini salah satu alasannya ayah sehingga dia tidak bersikap baik lagi padaku? kenapa juga tega banget melakukan hal ini padaku, seharusnya ayah melakukannya di dalam kamar atau di hotel boleh,"