Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku

Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku
Bab. 42


__ADS_3

Arifah berjalan beriringan dengan Fajar ke arah dalam Mall tersebut. Mereka sesekali bercanda bersama.


"Mas Fajar ngomong-ngomong kita ke Mall untuk apa? Apa Mas pengen beli baju?" Tanyanya Arifah yang asal nebak saja.


Fajar bukannya menjawab pertanyaan dari Arifah, melainkan Fajar menarik tangannya Arifah tanpa meminta izin terlebih dahulu.


"Mas ngapain harus tarik-tarikan segala sih? Saya kan bisa jalan sendiri, Insya Allah nggak kesasar," pungkasnya Arifah yang langkah kakinya semakin cepat saja mengekor di belakangnya Fajar yang langkah kakinya yang cukup panjang dan lebar.


Fajar sama sekali tidak menggubris perkataan yang sudah mirip dengan teriakannya Arifah.


"Ya Allah… apa Mas Fajar sudah budeg yah! Sampai-sampai tidak menggubris semua perkataanku!" Dengusnya Arifah.


Arifah kebingungan dengan apa yang terjadi pada Fajar pria yang dikenalnya sejak kurang lebih setahun yang lalu mereka saling bertemu tanpa sengaja. Fajar hanya saja tersenyum tipis menanggapi perkataan dari Arifah.

__ADS_1


Arifah melihat tempat yang didatangi oleh Fajar," bioskop!" Cicitnya Arifah.


"Tepat sekali apa yang kamu katakan, hari ini kita akan nonton film itu fast and furious terbaru," balasnya Fajar sembari menunjuk ke arah spanduk kecil yang bertuliskan judul film tersebut.


Arifah antusias dan eksaitik banget melihat film apa yang akan ditontonnya bersama dengan Fajar. Arifah segera melepaskan pegangan tangannya Fajar dengan menghempaskan tangannya sekuat-kuatnya. Dia segera berlari kecil menuju tempat pemesanan tiket bioskop mendahului langkah kakinya Fajar.


Arifah segera memilih tempat duduk yang paling bagus dan cocok untuk mereka duduki. Arifah tak lupa memesan beberapa makanan sebagai teman nontonnya. Ada popcorn dan minuman kaleng sudah berada di dalam pelukannya. Fajar hanya melongok tak percaya melihat banyaknya makanan dan minuman yang dipesan oleh Arifah.


"Aku tahu Mas pasti lagi ngomentari semua belanjaan aku kan? Tanpa Mas ngomong langsung aku tahu isi hatinya Mas," tebaknya Arifah asalan saja.


Fajar berjalan di sampingnya perempuan yang disayanginya setulus hatinya itu," Arifah Azizah Oktarani Zainul sepertinya sudah beralih profesi sebagai cenayang rupanya," candanya Fajar.


Hahaha," Mas Fajar kok tahu, jangan-jangan kita seperguruan lagi Mas," guraunya Fajar yang membuat keduanya tertawa lepas tanpa ada beban apapun yang menghimpit kehidupan mereka berdua.

__ADS_1


Mereka sudah masuk ke dalam bioskop, untuk menyaksikan film favorit keduanya itu. Film yang akan dirilis di tanah air bulan Juni mendatang


Arifah begitu serius menonton film kesukaannya yang sebenarnya sudah lama ia ingin tonton hanya saja belum punya waktu luang dan ia juga paling malas jika harus menonton seorang diri di rumahnya atau pun ke bioskop tanpa ada yang menemaninya.


Fajar hanya sesekali tersenyum menanggapi perkataan dan sikapnya Arifah yang kadang terbawa suasana hingga membuat dirinya tersenyum simpul menanggapi sikapnya Arifah yang berbeda jika sedang menikmati film kesukaannya itu.


"Dalam suasana hati dan keadaan apapun kamu selalu cantik di mataku kamu wanita kedua tercantik di dunia setelah bundaku," cicitnya Fajar sambil meraih tangannya Arifah seraya mencium punggung tangannya Arifah dengan penuh kasih sayang.


Apa yang dilakukan oleh Fajar membuatnya menolehkan wajahnya ke arah Fajar tanpa menarik tangannya dari genggaman tangan Fajar.


"Arifah ijinkan Mas menjadi seorang yang penting dalam hidupmu dan menjadi lentera cinta yang akan menerangi hatimu yang harus hidup dalam kegelapan," imbuhnya Fajar.


Senyuman terbit dari sudut bibirnya Fajar yang tak pernah luntur sedikitpun, hingga tepukan pelan dipundaknya Fajar membuatnya tersentak terkejut dan lamunannya buyar dalam sekejap mata. Arifah hanya mengerutkan keningnya melihat tingkah lakunya Fajar yang aneh dimatanya itu.

__ADS_1


__ADS_2