Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku

Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku
Bab. 38


__ADS_3

"Aura Adifa," teriak orang yang sudah berdiri di belakangnya.


Aura refleks menolehkan kepalanya ke sumber suara tersebut. Matanya melotot dan membelalak saking terkejutnya melihat beberapa orang berpakaian seragam polisi sudah berdiri di depannya dengan tatapan tajamnya.


"Maaf Anda harus ikut kami ke kantor polisi," ucap dengan tegas seorang polisi diantara mereka.


"Kenapa saya harus ke kantor polisi bersama Bapak? Sedangkan saya sama sekali tidak punya kesalahan apapun," kilahnya Aura Adifa yang berusaha bersikap tenang dan tidak panik.


"Anda jelaskan di kantor polisi saja," sanggahnya polisi yang bername tag Doni Sumargo.


Aura berusaha berontak dengan mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan polisi tersebut.


"Tolong lepaskan tangannya dari pergelangan tanganku, karena aku bukan seorang penjahat yang harus digiring seperti ini juga," ketusnya Aura yang semakin berontak hingga beberapa paper bag yang semula ia genggam terjatuh ke atas aspal sore itu.


"Anda cukup patuh dan diam saja serahkan kepada kami, setelah sampai di kantor polisi barulah Anda menjelaskan semuanya," kesalnya pria yang disapa pak Heru itu.


"Tapi, pak aku bukan buronan bukan juga penjahat kenapa harus ikut Anda ke kantor polisi?" Elaknya Aura yang sama sekali tidak dipedulikan oleh keempat polisi itu.


"Masukkan saja di ke dalam mobil, saya capek dengar ocehannya yang selalu mengelak dan berusaha untuk menutupi kejahatannya!" Kesalnya Pak Heru.


"Pak Fedi borgol tangannya agar tidak berani berulah lagi, perempuan macam dia nih sudah berbuat jahat tapi berpura-pura untuk bersikap baik hanya karena ingin lepas dari jeratan hukum," sarkasnya Pak Jaka.


"Siap komandan!" Jawabnya Pak Fedi.


Raut wajahnya Aura sudah nampak berubah dari awalnya tenang sekarang sudah terlihat jelas ketakutan, kepanikan, kecemasan yang berlebih-lebihan menghampiri benak dan hatinya itu.


"Apa semua perbuatanku sudah tercium pihak berwajib? Tapi kenapa sampai aku bisa ketahuan jika aku yang menarik tangannya Arifah dan menyiramkan minyak goreng ke atas lantai, kan tidak ada bukti apapun akan perbuatanku itu dan juga Arifah kemungkinan besarnya sudah pergi jauh dari tanah air Indonesia tercinta," bathinnya Aura yang peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya dan pipinya itu.


Aura sudah digiring ke Mapolres Jakarta Selatan. Aura tidak lagi berkutik dengan melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Dia hanya berharap tidak ada bukti yang memberatkannya hingga bisa bebas dari jeratan hukum.


Sedang di tempat lain, Fauzi yang sedang berada di dalam apartemennya sedang bermain kuda-kuda dengan perempuan yang entah kenalnya dimana.

__ADS_1


"Sayang kamu semakin hot deh," racaunya perempuan yang bernama Asty itu yang sudah sekitar dua minggu lalu menjadi kekasihnya Fauzi.


Fauzi bukannya taubat dan menyadari kesalahannya malah bertidak diluar kendali dan semakin hancur dan bejat saja kelakuannya.


"Harus itu baby agar kamu tidak mencari pria lain di luar sana,"timpalnya Fauzi yang nafasnya ngos-ngosan.


Asty Reisa Dion adalah wanita yang akhir-akhir ini dikencani oleh Fauzi dengan alasan Aura sudah tidak semenarik dan secantik dulu lagi setelah rahimnya diangkat karena mengalami keguguran dua kali. Fauzi sudah bosan dengan Aura istrinya itu sehingga, Fauzi mencari pelampiasan di luar sana. Sehingga beberapa hari yang lalu tanpa sengaja bertemu dengan Asty di salah satu club malam langganannya semasa masih menikah dengan Arifah.


Keduanya saking asyiknya memadu kasih tanpa menyadari kedatangan beberapa orang di dalam ruangan apartemennya yang terkunci rapat itu. Dengan kemampuan dan keahlian dari anggota kepolisian, sehingga pintu apartemennya Fauzi terbuka lebar. Keduanya terkejut melihat kedatangan beberapa orang di dalam kamarnya yang tak disangkanya itu.


Fauzi dan Asty segera menghentikan kegiatannya itu dan betapa malunya karena, banyak orang yang melihat apa yang dilakukan keduanya hubungan terlarang tersebut disaksikan oleh banyak orang.


"Pak Fauzi As'ad Anwar Anda kami tahan atas penggelapan uang perusahaan milik Ibu Arifah Azizah Oktarani Zainul," ujarnya pak polisi.


"Sa-ya ti-dak bersalah pak, saya tidak pernah melakukan hal itu," elaknya Fauzi sambil memakai pakaiannya dengan buru-buru.


Sedangkan Asty mengendap-endap menuju kamar mandi setelah berhasil melilitkan selimut kesekujur tubuhnya itu.


"Amankan juga perempuan itu untuk kita mintai keterangan dan kesaksiannya," perintahnya Pak Doni kepada bawahannya.


Kedua pasangan tidak resmi itu digelandang ke kantor polisi setempat setelah Mang Deni melaporkan tindakan kejahatan yang dilakukan oleh Aura Adifa dan Fauzi As'ad Anwar atas perintah dan petunjuk dari Arifah Azizah Oktarani Zainul.


Fauzi berusaha untuk melawan tapi, usahanya sia-sia karena langsung dilumpuhkan oleh polisi dengan memborgol tangannya secepat mungkin.


"Siap Kep!" Balas salah satu anak buahnya itu.


"Kalian tidak perlu buang-buang waktu dan tenaga untuk mengelak perbuatan kalian, cukup patuh dan ikuti apa yang kami katakan, jadi bekerjasama lah dengan pihak kepolisian,"imbuhnya Pak Fedi.


Aura sudah duduk di depan beberapa polisi yang mencatat berkas administrasi kasus yang membelit dan menjerat Aura isteri pertama sekaligus istri simpanannya Fauzi yang sekitar dua tahun lebih dia nikahi itu.


Kedatangan beberapa orang ke arah dalam kantor polisi membuat Aura memalingkan wajahnya ke arah kedatangan orang tersebut. Aura terkejut melihat kondisi Fauzi yang kedua tangannya juga terborgol dengan kondisi hanya memakai celana boxer saja sebatas pahanya dan tidak memakai baju dengan merek apapun itu dan kedua bola matanya melotot setelah menyadari jika,ada perencanaan yang bersama dengan Fauzi memakai pakaian yang cukup seksi.

__ADS_1


"Mas Fauzi siapa dia!?" Teriaknya Aura sambil menunjuk ke arah Asty.


Aura sudah berniat untuk bangkit dari duduknya tapi, segera dicegah oleh polisi.


"Ibu Aura Adifa Syam tolong jaga sikap dan kekakuan Anda ini kantor polisi bukan rumah pribadi Anda sehingga dengan seenaknya berteriak-teriak seperti itu!"geramnya pak Doni.


Aura segera terduduk kembali dan berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya, tapi tatapan mata yang tajam seakan ingin menerjang dan menerkam seseorang tetap diperlihatkan oleh Aura kepada Asty sedangkan yang ditatap seperti itu hanya tersenyum tipis menanggapi sikapnya Auira.


Sedangkan di UK Inggris 11:32 PM London.


Seorang perempuan menuruni tangga dengan senyuman yang merekah di wajahnya. Dari raut wajahnya sudah terlihat jika dia sedang bahagia.


"Alhamdulillah Nona Arifah sudah bisa tersenyum seperti dulu lagi, aku bersyukur karena nona Arifah bisa melewati hari-harinya dengan baik tanpa teringat kembali dengan masa lalunya," gumamnya Bu Hamidah sambil mengatur beberapa makanan yang sudah tersaji di dalam piring.


Penampilan barunya Arifah membuatnya semakin cantik saja. Sekitar lima bulan lalu, Arifah sudah memutuskan untuk memakai hijab untuk menutupi kepalanya dan sebagai pelengkap berbusananya setiap hari.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Nona Arifah," sapanya Bu Hamida.


"Waalaikum salam, sarapan paginya sudah siap Bu Hamidah?" Tanyanya Arifah sambil menarik sebuah kursi untuk dia duduki.


"Maaf Non ini bukan lagi waktu makan pagi, tapi sudah siang," tukasnya Bu Hamidah.


Arifah menolehkan kepalanya ke arah Bu Hamidah yang keheranan dengan pernyataan dari Bu Hamidah.


"Seriusan Bu, kalau sekarang sudah siang?" Tanyanya balik Arifah dengan tidak percayanya.


"Sudah hampir jam dua belas siang malah Non, Bibi pikir Non tidak punya kegiatan hari ini makanya bibi tidak bangunin," kilahnya Bu Hamidah.


"Tidak punya kegiatan di kampus sih bi, hanya saja aku ada janji dengan seseorang hari ini, tapi sudah lewat waktu janjian kami jadi sepertinya aku batalkan saja," sanggahnya Arifah.


"Oh gitu yah Non,saya kira mau ke kampus, kalau gitu selamat menikmati hidangan khas Indonesia asli, semoga makanannya disukai oleh Non Arifah Azizah Oktarani Zainul," imbuhnya Bu Hamidah yang segera berpamitan meninggalkan meja karena masih banyak kerjaan yang harus Ibu Hamidah kerjakan.

__ADS_1


__ADS_2