Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku

Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku
Bab. 43


__ADS_3

Tepukan dipundaknya Fajar membuatnya segera mengakhiri lamunannya itu. Fajar sudah sangat bahagia membayangkan apa yang akan terjadi dan sudah berfikiran kalau Arifah bersedia untuk menikah dengannya.


"Auh!" Keluhnya Fajar pria berusia 32 tahun itu.


"Apa yang terjadi dengan Mas Fajar, coba perhatikan sekeliling kita, gara-gara Mas Fajar yang melamun entah apa sehingga tersisa kita berdua di dalam bioskop, orang-orang pada pulang ke rumahnya," ketusnya Arifah yang malu terhadap perbuatannya Fajar sahabatnya itu.


Fajar hanya tertawa cengengesan menanggapi perkataan dari mulutnya Arifah," maafkan saya,"


Arifah segera beranjak dari duduknya, tidak menghiraukan permintaan maafnya Fajar.


"Baru kali ini ketemu dengan pria seperti itu!" Kesalnya Arifah yang malu sejak tadi diperhatikan oleh pegawai bioskop gara-gara sikap absurbnya Fajar.


Arifah berjalan mendahului Fajar sambil menghentakkan kakinya ke atas lantai keramik Mall tersebut.


"Aku baru kali ini perhatikan seperti itu selama tinggal di London, bisa-bisanya aku bisa kenal dengan pria seperti itu!" Kesalnya Arifah.


Arifah sama sekali tidak peduli dengan Fajar yang berjalan di belakangnya itu. Dia tetap ngomel-ngomel sambil berjalan dengan tujuan tak jelas itu. Hingga saking jengkelnya, langkah kakinya tidak diperhatikan dengan baik sehingga kakinya tersandung sesuatu benda.


"Aahhh!!" Teriaknya Arifah yang tubuhnya sudah hampir menyentuh lantai dingin sore itu.


Tapi, tangan seseorang masih cepat dan gesit untuk menyelamatkannya, sehingga ia tidak tersungkur ke atas lantai. Tangannya ditarik oleh seorang pria yang tersenyum lebar sejak melihat dengan jelas siapa perempuan cantik yang memakai hijab pashmina sifon motif dengan warna pink itu.


Arifah yang saking takutnya terjatuh di depan umum, sampai-sampai memeluk erat tubuh pria jangkung itu.


"Arif, kamu tidak perlu memelukku seperti itu kali, kamu sudah selamat tidak jadi nyungsep kok,"candanya seorang perempuan yang berdiri di samping keduanya dengan suara yang pastinya Arifah kenal dengan baik.

__ADS_1


Arifah segera membuka kelopak matanya yang sejak tadi terpejam, Arifah mengerjapkan kedua matanya berulang-ulang kali untuk memastikan siapa pria yang menolongnya itu dan wanita yang berbicara padanya.


"Aunty Alifah Amna Khaerul, Fatir Muhammad Iqbal!" Jeritnya Arifah yang sangat antusias dan eksaitik melihat kedua orang penting dalam kehidupannya yang sempat terpisah karena, keegoisannya Fauzi As'ad Anwar mantan suaminya sekaligus ayah angkatnya itu.


"Arifah Azizah Oktarani Zainul!" Balasnya Alifah yang sudah memeluk erat tubuhnya Arifah.


Fajar yang melihat kejadian itu hanya bisa mengelus dada bidangnya karena, bukan dia pria yang berhasil menolong Arifah sehingga pelukan tak terduga itu berhasil didapatkan oleh pria lain yang tidak dikenalinya.


"Siapa pria itu!?" Gumamnya Fajar yang sudah memperlihatkan tampang tidak bersahabatnya karena perempuan yang dicintainya harus diselamatkan oleh pria tidak dikenalinya itu.


Arifah saking gembira dan senangnya setelah setahun lebih tidak bertemu dengan adik dari mantan suaminya itu dan juga sahabat terbaiknya tanpa terduga. Arifah memeluk keduanya tanpa ragu di depan umum.


"Ya Allah… akhirnya aku bertemu juga dengan kalian," ucapnya Arifah sambil meneteskan air matanya ketika memeluk perempuan yang selalu disapanya dengan sebutan aunty cantik itu.


"Aunty cantik nangis sepelti anak kecil cegala," ketusnya anak kecil yang berada di sampingnya Fatir.


"Aku kan masih anak kecil," candanya Arifah.


Arifah segera menatap anak kecil berambut cokelat dengan berkepang dua itu yang memperlihatkan dia bukan asli pribumi Inggris. Arifah mengalihkan pandangannya ke anak itu.


"Nanti aunty jelasin, gimana kalau kamu ikut kami ke kafe sambil cerita-cerita apa yang terjadi padamu selama setahun lebih terakhir ini," ucapnya Alifah blak-blakan sambil menarik tangannya Arifah menuju ke salah satu kafe yang cukup ramai dipadati pengunjung sore itu.


Mereka berempat berjalan ke arah kafe tersebut dengan perasaan yang berbeda-beda. Arifah sudah melupakan sosok pria yang menyebabkan kedatangannya di Mall tersebut saking bahagianya bertemu dengan orang-orang penting dalam kehidupannya selama ini.


Fajar yang ditinggalkan tidak tinggal diam dia pun melangkahkan kakinya menuju tempat tujuan mereka berempat. Fajar segera mengambil gambar pria yang menolong perempuan yang disayanginya itu secara diam-diam dan mencari tahu siapa sebenarnya pria itu dan hubungannya dengan Arifah.

__ADS_1


Hanya dalam beberapa menit saja asistennya yang ahli dalam bidang it itu sudah menemukan biodata ke tiga orang itu tanpa terkecuali gadis kecil yang menggemaskan itu dimatanya.


"Fatir anaknya Pak Iqbal Mananta Wijaya rupanya pengusaha muda yang sekarang menetap di Korea Selatan untuk melanjutkan salah satu cabang perusahaan milik papanya, Alifa Amna Khaerul istrinya yang sudah dinikahinya sekitar satu tahun lebih itu, sekaligus adik sambungnya Fauzi rupanya, berarti mantan adik iparnya Arifah, tidak membahayakan hubunganku dengan Arifah, kalau gitu awasi gerak gerik mereka saja," gumam Fajar.


Fajar walaupun sudah dilupakan oleh Arifah tapi,dia tetap mengekor di belakang mereka dan mengikuti kemanapun langkah kakinya Arifah melangkah.


"Fairus memang selalu bisa diandalkan, bonus menantimu Fairuz," cicitnya Fajar yang memuji kemampuan asisten pribadinya sekaligus adik sepupunya itu yang hanya terpaut tiga tahun dengannya pria mapan yang masih single yang belum menemukan perempuan yang mampu membuat hatinya cenat cenut dan jantungnya berdebar-debar.


Fatir sedari tadi diam-diam memperhatikan pria yang memakai topi berwarna putih terus mengamati dan mengikuti mereka.


"Siapa pria itu, kenapa dia seperti stalker yang menguntit kami berempat yah?" Bathinnya Fatir.


Arifah merangkul tangannya Alifah,"aunty aku sangat merindukan aunty loh," imbuhnya yang sudah menarik kursi untuk dia duduki di depan kedua pasangan suami istri bersama dengan bocil yang belum jelas asal-usulnya tersebut.


"Bukan hanya kamu kok yang kangen dengan kami, tapi saya dan suamiku ini hampir setiap hari ingin mendengar suaramu dan ingin mengetahui kabarmu gimana," timpalnya Alifah yang juga mendudukkan bokongnya ke atas kursi.


Fatir segera memesan beberapa makanan dan minuman yang akan menemani santai sore mereka yang saat itu,kota London di guyur hujan dengan intensitas sedang saja.


Alifa menggenggam kedua tangannya Arifah, "Arif, maafkan Abang Fauzi yah yang sudah berlaku tidak adil dan jahat kepadamu, saya sebagai adiknya sebenarnya sangat malu setelah mengetahui perbuatan jahatnya Abang padamu yang tega sekali menikahi Aura Adifa perempuan matre dan jahat itu dan mengabaikan ketulusan cinta dan kasih sayangmu yang sudah dibutakan oleh obsesinya terhadap harta kekayaan yang jelas-jelas bukanlah miliknya," jelasnya Alifah yang menitikkan air matanya setelah kembali teringat akan perbuatan bejak kakak sulungnya itu dari asisten kepercayaan suaminya.


"Kami tidak menyangka jika Fauzi pria brengsek yang tidak tahu diri itu sudah ditolonongin oleh papamu tapi, masih saja tamak terhadap kekayaan yang bukan miliknya itu," imbuhnya Fatir yang ikut tersulut emosinya memikirkan tentang apa yang terjadi pada sahabatnya it.


Arifah berhenti menyeruput minuman hangatnya, dan menatap jengah kedua orang yang duduk di hadapannya.


"Apa kalian mengajakku ke sini hanya untuk mengingatkan aku dengan semua masa lalu yang seharusnya aku sudah lupakan dan buang jauh-jauh! Semua ini gara-gara kalian sehingga nafsu makanku hilang," ucapnya sinis Arifah.

__ADS_1


__ADS_2