Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku

Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku
Bab. 47


__ADS_3

"Tolong kedepannya jangan sekali-kali bandingkan aku dengan laki-laki lain terutama mantan suamimu yang brengsek dan lucknut itu, stop untuk mengingatnya, tapi saya berjanji akan menghapus kenangan pahitmu bersamanya kalau perlu semua kenangan apapun itu yang pernah kalian lewati bersama, cukup aku seorang pria yang wajib dan harus kamu Ingat dan cintai hingga hanya aku yang selalu berada di dalam kedua bola matamu dan hatimu bukan siapa-siapa, tapi hanyalah Fajar Arthur Prayoga saja seorang," jelas Fajar dengan keseriusan dan kesungguhan hatinya itu.


Perjalanan yang sempat tertunda kembali dilanjutkan oleh Fajar dan Arifah menuju tempat yang direncanakan oleh Fajar untuk memberikan kejutan kepada Arifah sebelum menjadi suami Istrinya esok hari.


"Ya Allah… semoga pilihanku untuk menerima pinangan Mas Fajar benar dan tepat,saya hanya takut bayang-bayang masa lalu itu kembali mengusik ketenangan hidupku kelak, jujur saja hatiku masih ragu dan bimbang untuk kembali membuka hatiku dan memulai lembaran baru bersama pria lain, walaupun mereka berbeda tapi, trauma ini masih terasa sangat menyiksaku hingga aku terlalu takut untuk melangkah," bathin Arifah sambil terus memandangi ke luar jendela mobil yang dipakainya yang tersiram air hujan sore itu.


Fajar melirik sekilas ke arah Arifah yang kebanyakan terdiam," aku tahu kamu masih bimbang dan ragu untuk menerima lamaranku tapi, aku berjanji akan membuat kamu jatuh cinta padaku hingga rasa sakit, kecewa dan sedihmu akan sirna dan hilang seiring berjalannya waktu," batinnya Fajar.


Fajar sudah memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk butik. Sedangkan Arifah tertidur sambil bersandar ke headboard jok kursi mobilnya.


"Kamu sungguh cantik dalam keadaan seperti ini, mau tidur, marah atau sedih kamu semakin cantik saja, tidak pernah sedikitpun kecantikanmu luntur bahkan semakin cantik saja," gumamnya Fajar.


Fajar berjalan terlebih dahulu ke arah dalam butik tanpa mematikan mesin mobilnya karena Arifah sedang tidur nyenyak dan Fajar sama sekali tidak ingin mengganggu kenyamanan tidurnya Arifah calon istrinya itu.


Fajar bertemu dengan pemilik butik langganannya jika berada di London UK Inggris. Pemilik dari butik itu adalah orang dari timur tengah yang sudah mengenal Fajar.


"Welcome Tuan Fajar Arthur Prayoga," sapanya penjaga butik itu yang sudah mengenal baik Fajar sebagai pelanggannya dengan senyuman ramahnya.


"Thank you Mrs. Ashley Cole," balasnya Fajar yang tersenyum tipis.


Setelah berbincang-bincang mengenai gaun pengantin yang akan dipakai oleh Arifah besok pagi dan juga pakaian yang akan dipakainya ketika ijab kabul dan ramah tamah sekaligus syukuran kecil-kecilan yang akan dilangsungkan oleh Fajar.


Bahkan diam-diam Fajar mengundang secara spesial sahabat terbaiknya dan juga mantan adik iparnya dari pernikahan pertamanya Arifah hingga ke asisten rumah tangganya Arifah yang ada di Jakarta. Mereka semua sudah berada di dalam perjalanan menuju London dari Jakarta airport Soekarno Hatta.

__ADS_1


Semua tugas dan tanggung jawab itu diserahkan kepada pasangan suami istri yaitu Fatir Muhammad Iqbal dengan istrinya yang tidak lain adalah mantan iparnya yang tidak lain teman baiknya Arifah yaitu Alifa Arsana Khaerani Khaerul adik sambungnya Fauzi As'ad Anwar.


Arifah terbangun dari tidurnya ketika pintu mobil tersebut kembali terbuka lebar karena ulahnya Fajar. Arifah mengerjapkan kedua matanya dan menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya itu.


"Mas Fajar kita sekarang ada di mana?" Tanyanya yang sesekali mengucek matanya seperti anak kecil saja yang baru terbangun dari tidur panjangnya sambil celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitarnya.


"Kita sekarang ada di depan butik,ayo turun kamu harus mencoba pakaian pengantin yang akan kamu pakai besok," imbuhnya Fajar sambil mengayunkan tangannya ke arah depannya Arifah.


"Butik! Tapi ini butik mahal loh Mas, apa kita sanggup untuk membayar semua pakaian tersebut?" Tanyanya Arifah yang masih belum mengetahui tentang kepribadian hingga asal usulnya Fajar selama ini yang dikira oleh Arifah hanya pegawai kantoran biasa saja.


"Insha Allah… dengan gajiku ini masih sanggup untuk membayar semua tagihan gaun pengantin yang akan kamu ambil," tukasnya Fajar.


Arifah masih ragu dengan perkataan dari Fajar, tapi dengan yakin dia meraih uluran tangannya Fajar calon suaminya itu yang tersisa sehari saja mereka akan menikah. Fajar dan Arifah berjalan ke arah dalam butik dan cukup dibuat terkesima dengan beberapa model potongan gaun pengantin yang terpajang di dalam manekin.


Seorang perempuan dengan memakai hijab gaya ala modern itu berjalan ke arah kedatangan keduanya dengan senyuman ramahnya. Madam Maryam langsung cipika cipiki dan memeluk tubuh Arifah dengan erat dan penuh kelembutan.


"Calon istrinya Tuan Fajar sungguh cantik," puji madam Maryam sambil menoel hidungnya Arifah.


"Thanks Madam, hanya melebih-lebihkan saja kok, karena menurut aku setiap wanita itu cantik tidak ada yang jelek di mataku," ujarnya Arifah dalam bahasa Inggris.


Bu Madam merangkul pundaknya Arifah seperti seorang sahabat saja, "Benar sekali apa yang Nyonya katakan, kalau begitu ayo kita masuk untuk melihat gaunnya apa sudah cocok atau butuh dirubah lagi,"


"Okey," balasnya Arifah Azizah Oktarani Zainul.

__ADS_1


Arifah segera masuk ke dalam ruangan ganti untuk mencocokkan pakaian tersebut, dibantu oleh beberapa pegawai butik tersebut.


"Makasih banyak atas bantuannya," ucapnya Arifah setelah berhasil memakai pakaiannya yang sangat pas dan cocok di tubuhnya dengan warna kulitnya itu.


"Woooo Anda sangat cantik Nona, pasti calon suaminya bakal terpesona melihat penampilan Anda yang sungguh cantik," pujinya Pegawai yang memakai hijab juga seperti Arifah.


Arifah berputar-putar di depan kaca yang sungguh tinggi dan melebihi ukuran tubuhnya itu. Dia berulang kali dirinya menatap pantulan dirinya dan dalam cermin tersebut yang sungguh kecantikannya terpancar padahal belum memakai make up sedikitpun dari penata rias.


"Masya Allah… subhanallah… Anda sangat cantik alami dan gaunnya sungguh sangat pas dan cocok menutupi tubuh anda yang tinggi semampai dan seksi," semua pegawai butik yang membantu Arifah untuk mencoba pakaiannya.


Arifah tersenyum gembira karena banyaknya pujian yang dia dapatkan dari orang-orang yang mengelilinginya. Kekaguman bukannya hanya dari pria saja yang melihat kecantikannya, melainkan semua orang yang tanpa sengaja berada di dalam butik Az-Zahra tanpa terkecuali.


Fajar yang berdiri tidak jauh dari tempatnya Arifah hanya tersenyum bangga mendapatkan calon istri yang sungguh cantik luar dalam.


"Kamu memang cantik sayang, tanpa memakai gaun pengantin yang sedang kamu coba pun sudah sangat cantik." Cicitnya Fajar yang sama halnya dengan yang dilakukan oleh Arifah.


Arifah berjalan ke arah luar dan berencana ingin memperlihatkan pada Fajar sesuai dengan saran dan masukan dari pegawai butik tersebut. Fajar sama sekali tidak berkedip sedikitpun melihat Arifah yang berdiri di depan matanya.


"Masya Allah… sungguh begitu indah ciptaanMu ya Allah…," cicit Fajar yang tanpa disadari langkahnya menuntunnya ke arah Arifah yang tersenyum malu-malu melihat reaksinya calon imam dalam hidupnya kelak.


Madam Maryam dan lainnya diam-diam memperhatikan interaksi kedua calon pengantin itu, mereka tersenyum bahagia melihat keakraban keduanya yang sama-sama saling mengagumi satu sama lainnya.


"Mas Fajar seperti pangeran dari negeri dongeng saja," lirihnya Arifah yang tanpa disadarinya memuji ketampanan pria dewasa yang terpaut sebelas tahun dengannya.

__ADS_1


__ADS_2