Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku

Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku
Bab. 36


__ADS_3

Arifah hanya tersenyum sinis," Pak Fauzi aku bukan kacang yang lupa kulitnya, setelah dibantu malah menikam balik, aku masih punya hati nurani, makanya aku masih menerimamu bekerja di perusahaan aku dan juga beberapa aset milikku kamu masih pakai, apa Anda melupakan mobil yang sedang diduduki oleh istri tersayang Anda memakai uang perusahaan milik papaku pak Zainul Arifin Khalid dan juga satu unit apartemen yang atas namaku, apa semua itu kurang jika dibandingkan dengan sikap dan kejahatan Anda menggelapkan uang perusahaan demi membahagiakan istri sah Anda! Semoga apa yang aku katakan bisa membuka mata batin dan pikiran Anda untuk berhenti mengusik dan mengganggu ketenangan hidupku," terang Arifah panjang lebar.


Fauzi masih saja berusaha untuk mengejar mobil yang dipakai oleh Arifah dan yang lainnya. Hingga kakinya terpeleset dan tersungkur di atas aspal sore itu.


"Aahhh Arifah to-long ayah Nak!" Teriak pria tiga puluh lima tahun itu yang sudah tengkurap bebas di atas aspal sambil mengayunkan tangannya Fauzi seolah ingin menggapai mobil yang dipakai oleh Arifah.


Aura Afida Lukman yang melihat suaminya terjatuh bukannya menolong malah, hanya menatap dengan sinis apa yang dilakukan oleh suaminya itu.


"Terlalu bego sih jadi manusia, jadi terima nasib saja lah," cibirnya Aura Afidah.


Apa yang terjadi kepada Fauzi sungguh membuat beberapa orang menatap ke arahnya dengan berbagai macam jenis perasaan. Ada yang menatapnya nyinyir, sinis,acuh tak acuh dan juga masih ada yang iba melihat ketidakberdayaan Fauzi mantan Pria kaya itu dengan meminjam kejayaan dan kekayaan orang lain.


"Makanya jadi orang itu jangan sok tangguh, munafik dan sombong ini semua karena ulahmu sendiri sehingga hidupmu semenderita begini, andaikan kamu jadi pria dan suami setia saya yakin hidupmu tidak akan sesial itu, makan tuh cintamu pada pelakor tidak tahu diri itu dan karena kebodohanmu sendiri, hidupmu akan hancur dan menderita seperti ini," cibirnya Kang Hendra Setiawan yang bertugas menjaga rumah besar dan megah itu sepeninggal Arifah ke UK Inggris.


Fauzi masih dalam keadaan seperti semula dia masih berusaha untuk menarik simpatik dari orang-orang yang kebetulan melewati daerah tersebut dan juga Arifah yang tidak mungkin itu terjadi hingga akhir hayatnya.


"Semoga saja keadaanku seperti ini Arifah bisa memutar balik mobilnya dan menemui ku disini dan memaafkan segala kesalahanku padanya," gumamnya Fauzi.


Hingga berselang beberapa menit kemudian, tidak ada yang berubah sama sekali masih seperti sedia kala. Hingga Aura sudah jengah melihat sikapnya Fauzi suaminya yang sudah menarik perhatian dari beberapa warga komplek perumahan elit itu yang mencibir dan menghina serta menghujatnya tidak seperti bayangannya.

__ADS_1


"Mas Fauzi As'ad Anwar bangun! Jangan bertingkah aneh-aneh deh bukannya mendapatkan belas kasih dari orang-orang kamu malah mengundang amarah dan hinaan dari orang-orang!" Kesalnya Aura Adifa yang membantu suaminya untuk bangkit dari posisinya itu.


"Ternyata kamu sudah berubah Arifah, kau tidak seperti dulu lagi padahal biasanya jika kamu melihat ayah maka kamu akan kegirangan bahagia menyambut kedatanganku setiap kali aku balik dari kantor, tapi sekarang menoleh sekilas pun kagak kamu lakukan, entah siapa yang merecoki dan menghasut pikiranmu sehingga kamu begitu cepat berubah hingga memilih untuk menceraikanku, tapi aku bukan Fauzi As'ad Anwar jika aku dengan mudahnya menyerah dengan keadaan, aku akan setiap hari datang kesini untuk mencari perhatian dan simpati darimu karena, aku yakin jika suatu saat nanti hatimu akan luluh juga padaku," Fauzi membatin.


Pesawat airlines yang ditumpangi oleh Arifah sudah berangkat menuju London Inggris. Arifah sudah bertekad untuk tidak akan meneteskan air matanya untuk orang yang tidak penting dalam kehidupannya yang selama ini tidak pernah menganggapnya.


Pria yang dengan teganya tak berperasaan meninggalkan dirinya seorang diri dalam keadaan yang mengenaskan berlumuran darah akibat kejahatan dari Aura. Laki-laki yang disapa ayah angkatnya itu hanya sekedar melirik sepintas lalu kerahnya ketika terjatuh ke atas lantai, akibat ulahnya dari Istri pertama suaminya. Arifah sama sekali tidak pernah mengetahui jika, dia adalah pelakor di dalam rumah tangga suaminya.


Belas kasih dan rasa ibanya sama sekali tidak muncul ketika Arifah harus menerima kenyataan pahit kehilangan calon anak pertamanya yang membuatnya selama ini harus hidup bertahan pada keegoisan suaminya itu, berusaha kuat dan tegar menghadapi sikap kasar, acuh tak acuh hingga hinaan dan cacian dari Aura hampir setiap hari selama enam bulan itu.


Bandara internasional Soekarno Hatta,pukul 15.24.


"Baik Nona Muda,saya tunggu info selanjutnya untuk menjalankan rencana ini," pungkasnya Mang Deni.


"Kenapa bukan sekarang saja Non Arifah kenapa harus nunggu waktu baik?" Tanyanya Bu Hamidah yang keheranan dengan apa yang dilakukan oleh Arifah.


Arifah tersenyum simpul menanggapi perkataan dari istri pak Rahmat Husein," saya ingin melihat dia di atas angin dulu, biarkan dia bebas berkeliaran ke sana kemari sesuka hatinya setelah puas terbang barulah kita patahkan sayapnya agar segera tersadar dari kejahatan yang sudah diperbuatnya itu," jelas Arifah.


"Itu ide yang sangat bagus Non, biarkan mereka sadari kesalahan mereka sendiri," timpal Bu Hamida.

__ADS_1


"Kalau itu tidak mungkin Mbak menurutku melaporkan mereka kepihak kepolisian barulah mereka akan menyadari kesalahannya jika sudah hidup mendekam dibalik jeruji besi," tukasnya Kang Deni.


Perbincangan mereka terhenti ketika bagian informasi mengumumkan jika, pesawat mereka akan berangkat ke London.


"Kang Deni aku titip rumah dan juga perusahaanku, kang Deni bisa bekerja sama dengan pak Denis pengacara keluargaku, ingat tolong awasi beberapa orang yang sudah aku catat dalam daftar list buku yang pernah aku berikan karena mereka bekerjasama dengan Fauzi untuk menggelapkan uang perusahaan, kalau mendapatkan bukti yang akurat kirimkan segera ke alamat emailku secepatnya," pinta Arifah.


"Insha Allah… saya akan menjalankan amanah Non Arifah dengan sebaik-baiknya, percayakan kepada kami masalah disini, fokuslah dengan pendidikan Nona di London, jangan banyak fikiran dan teruslah berserah diri kepada Allah SWT untuk meminta petunjuk jalan yang Allah SWT ridho dan semangat pastinya kebahagiaan tidak akan lama lagi mendatangi kehidupan Nona selanjutnya," imbuhnya Mang Deni yang ternyata anak buah kepercayaannya Fajar yang menyamar sebagai security itu sejak awal Fajar mengetahui seluk beluk kehidupan Arifah.


Fajar juga mengutus beberapa orang untuk membantu Kang Deni bekerja mengawasi perusahaan tersebut dari balik layar secara diam-diam, tanpa sepengetahuan dari siapapun termasuk Arifah Azizah Oktarani Zainul.


Arifah menatap ke sekeliling penjuru bandara internasional Soekarno-Hatta, ia seakan memuaskan pandangannya menikmati keindahan kota tempat kelahirannya selama ini yang sudah memberikan banyak kenangan dalam kehidupannya.


"Selamat tinggal kenangan dan masa lalu, aku tidak akan pernah melihat kebelakang lagi, cukup sudah derita yang selama ini aku alami dalam hidupku, semoga di negara tujuanku aku bisa mendapatkan ketenangan sehingga tujuanku segera tercapai," lirih Arifah.


Rasa sakit hati,kecewa,sedih dan kemarahannya menjadi satu bagian di dalam lubuk hati yang terdalam sehingga mampu membakar semangat juangnya untuk semakin memperbaiki diri dan kehidupannya serta semakin arif, bijaksana dan dewasa di usianya yang baru 20 tahun lebih itu.


Tidak jauh dari tempat itu, seorang pria yang memakai kacamata hitam dan memakai topi lebih mirip artis Korea Selatan yang datang ke Indonesia dengan penyamarannya. Sejak tadi mengamati interaksi yang dilakukan oleh Arifah bersama seluruh pegawainya yang sangat berjasa dalam kehidupannya itu.


"Aku tidak akan mengijinkan kemalangan, kedukaan,luka lara datang lagi menghampiri hidupmu, aku berjanji akan memberikan kebahagiaan itu padamu jika kamu juga memberikan aku kesempatan untuk melakukannya," cicitnya Fajar Arthur Prayoga pria yang selalu diam-diam membantunya tanpa mengharapkan imbalan apapun,dia hanya berharap senyuman bahagia selalu hadir mewarnai hidupnya Arifah perempuan muda yang otw dua puluh satu tahun itu tahun ini.

__ADS_1


__ADS_2