
Siapa yang bisa menebak alur cerita kehidupannya. Tidak ada seorang pun yang mampu mengetahui bakal jadinya akan bagaimana garis tangannya menuntunnya ke arah kanan atau kah kiri.
Arifah segera menyeka sudut bibirnya dengan tissue," siap lahir bathin Pak kita berangkat ke kampus," candanya Arifah yang berdiri sambil meraih handbagnya yang berwarna cokelat kopi susu itu.
Kehidupan harus terus berlanjut, susah senang sedih gembira sudah menjadi hal wajar terjadi di dalam kehidupan seseorang. Tapi, terkadang seseorang lupa daratan jika sudah mendapatkan kenikmatan yang betapa besarnya yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Pencipta kepada setiap insan manusia
Dokter ahli kejiwaan segera bergantian melakukan pemeriksaan terhadap kedua tersangka yaitu Aura Adiva Lukman dengan Fauzi As'ad Anwar.
Dokter saling bertatapan satu dengan yang lainnya ketika tiba gilirannya Aura untuk diperiksa. Mereka saling berpandangan dengan pandangan sulit diartikan.
"Bagaimana dokter apa sudah berhasil mendapatkan hasil dari pemeriksaan kesehatan jiwa dan kedua pasien?" Tanyanya Pak Deni kapten kepolisian yang sejak tadi mengikuti hingga ke RSJ setempat untuk melakukan pemeriksaan terhadap Aura dan Fauzi.
Aura sesekali melirik ke arah polisi dan dokter khusus jiwa itu dengan tatapan matanya yang penuh harap agar rencananya ini berhasil sukses hingga terbebas dari jeratan hukum yang harus mereka jalani.
"Kita bicaranya di luar saja Kapten," imbuhnya dokter Asyifa Latief Khan dokter muda keturunan India Pakistan Indonesia itu.
"Siap dokter Syifa," pungkasnya Kapten Doni.
Mereka sudah sampai di ruangan khusus untuk membicarakan dan mendiskusikan kondisi dari Fauzi dan Aura. Pihak kepolisian terkejut mendengar penuturan dari dokter Asyifa.
"Apa benar yang Anda katakan dokter!?" Tanyanya kap. Doni hanya untuk memastikan saja.
"Benar sekali dan saya tidak mungkin keliru pak jika hanya Fauzi yang mengalami defresi berat dan terpukul serta shock depan kejadian ini, sedangkan istrinya yang ternyata tersangka juga hanya berakting dan berpura-pura stress saja sedangkan kondisi mental dan kejiwaannya sangat normal dan tidak ada masalah apapun pada dirinya," ungkap dokter Asyifa dengan panjang lebar.
"Kalau begitu makasih banyak atas bantuan dan kerjasamanya Dokter,"
"Sama-sama Pak,"
__ADS_1
Beberapa orang polisi segera berjalan kembali ke tempat ruangan pemeriksaan untuk membawa Aura ke penjara khusus wanita.
"Cepat giring Aura Adifa hingga ke sel tahanan, tersangka sudah berusaha untuk mengelabui dan memperdaya kita semua dengan kebohongan aktingnya yang luar biasa agar terbebas dari jeratan hukum," tegasnya Kapten Doni kepada bawahannya itu.
Aura yang mendengar namanya disebut segera berusaha untuk berontak.
"Aku orang gila, aku seharusnya di rawat disini bukan di penjara," teriaknya Aura yang mulai berulah lagi untuk berakting menjadi perempuan gila.
Pak Doni dan timnya hanya tertawa terpingkal-pingkal mendengar perkataan dari Aura.
"Bu mana ada orang gila yang mengatakan dirinya gila, emang dasar pembohong! makanya kalau berbohong itu yang sempurna jangan sampai ketahuan oleh kami dari kepolisian," sarkasnya pak Deni.
"Tolong lepaskan saya Pak, saya mohon kasihanilah saya pak jangan bawa saya ke penjara saya takut tinggal di sana," rengeknya Aura yang sudah bersikap seperti anak kecil saja.
Aura kedua tangannya sudah terborgol, dengan susah payahnya Aura berusaha untuk berontak dan meloloskan diri dari jeratan hukum, tapi usahanya sia-sia saja. Pihak kepolisian membawa Aura kembali ke rutan khusus wanita.
"Bu Aura stop untuk bertingkah karena apapun yang Anda katakan, hukuman atas kejahatan Anda tetap berjalan!" Tegas Pak polisi itu.
Sedangkan Fauzi cukup memprihatinkan kondisi kesehatan jiwa dan raganya itu. Fauzi terus berteriak-teriak memanggil namanya Arifah.
"Arifah Azizah Oktarani Zainul maafkan ayah Nak, ayah tidak bermaksud untuk membunuh anak dalam kandunganmu, aku mohon maafkan saya istriku," teriaknya Fauzi yang terus berulang kali berteriak dengan perkataan seperti itu.
Dokter Asyifa Latief Khan menyeka air matanya yang menetes membasahi pipinya itu. Dia tidak menyangka jika,pria yang sempat membuatnya dulu jatuh cinta tenyata kehidupannya berakhir tragis yaitu harus hidup sebagai penghuni rumah sakit jiwa.
"Mas Fauzi, aku tidak menyangka kehidupan Mas akan seperti ini padahal setahu saya usaha milik Abang Zainul sukses Mas kelola dengan baik,kenapa harus berakhir seperti ini, saya cukup sedih melihat kondisi mas, tapi aku berjanji akan membantu Mas Fauzi agar segera sembuh total," gumamnya Dokter Shifa.
Satu tahun kemudian…
__ADS_1
Sedangkan di London UK Inggris…
Seorang perempuan muda yang cantik diusianya yang baru genap dua puluh satu tahun hari ini mengalami kebimbangan dan keraguan. Arifah mendapatkan kenalan sekaligus teman curhat melalui sosmednya jejaring sosial pertemanan.
Kemarin tepatnya hari minggu mereka sudah berjanji untuk bertemu, tapi satu dan lain hal yang membuatnya harus tidak hadir. Arifah berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.
"Pasti dia sudah tidak ingin menemuiku hari ini karena, kemarin aku sudah membatalkan secara sepihak janji temu kami, apa saya batalkan saja yah? Tapi kalau diperhatikan batalkan entar dikira saya perempuan yang suka bohong dan ingkar janji malah," cicitnya Arifah yang kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya itu.
"Kalau menurut saya sih Non ke sana saja, kasihan temannya loh sudah dua hari gagal mulu ketemunya, kalau pun dia sudah pulang itu sudah kehendak Allah SWT yang paling penting Non Arifah harus ke sana bertemu dengannya," usulnya Bu Hamidah yang ikut menimpali sikap uring-uringannya Arifah Nona mudanya itu.
"Baiklah kalau begitu saya jalan dulu yah Bi, assalamualaikum," ucapnya Arifah yang berpamitan kepada Bibi Hamida.
"Waalaikum salam warahmatullahi wa barakatuh, hati-hati di jalan Non," Ujarnya Bu Hamidah yang sedikit berteriak karena Arifah semakin menjauh dari tempatnya berdiri.
Arifah hari ini kebetulan tidak memiliki jadwal kuliah di kampusnya sehingga mudah untuk menemui Pria yang sudah berjanji untuk bertemu dengannya sehari yang lalu.
"Semoga saja dia belum pergi dari kafe, Mr. F siapa sebenarnya kau, kenapa membuatku semakin penasaran saja kita sudah lebih setahun kenalannya, saling curhat tapi aku belum pernah melihat wajahmu, apa dia benar seorang pria atau kah seorang perempuan yang menyamar sebagai Mr. F," cicitnya Arifah seraya mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang saja.
Hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit, dia sudah sampai di depan kafe tempat pertemuannya dengan sahabat pena lewat jejaring sosialnya itu. Mereka belum pernah berbicara langsung hanya lewat chat email yang mereka bagikan satu sama lainnya. Arifah berjalan ke arah meja yang sudah dipastikan nomornya sesuai dengan keinginannya Mr F itu.
Dengan langkah kakinya yang cukup berat dia langkahkan, Arifah dilanda kebimbangan dan ragu. Entah kenapa perasaan grogi, nerves, salah tingkah datang menghantui hati dan benaknya itu.
Hingga langkah kakinya menuntunnya ke depan meja bernomor 21 itu dan sudah duduk seorang pria yang memakai topi berwarna putih gading menikmati makanan dan minuman yang tersaji di hadapannya itu sambil memainkan gadgetnya.
"Maaf apa Anda Mr.F?" Tanyanya Arifah yang semakin salah tingkah dan panik jika pria yang terlintas di benak dan pikirannya tidak sesuai dengan ekspektasinya itu.
Pria yang disapa Mr. F segera memalingkan wajahnya ke arah sumber suara dengan memperlihatkan senyuman lebar dan khas nya itu ke hadapannya Arifah. Sedangkan Arifah yang melihat wajah dari pria itu sungguh terkejut melihat siapa pria pemilik nama samaran Mr. F itu.
__ADS_1
"Abang Fajar Arthur Prayoga" lirih Arifah yang sama sekali tidak menyangka jika pria itu adalah kenalan lamanya sewaktu di Indonesia.