Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku

Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku
Bab. 37


__ADS_3

Arifah memutuskan untuk melanjutkan karir pendidikannya di salah satu kampus terbaik di Inggris UK London. Selain melanjutkan pendidikannya, dia juga berniat untuk menjalani terapi penyembuhan rahimnya.


"Aku tidak akan mengijinkan kemalangan, kedukaan,luka lara datang lagi menghampiri hidupmu, aku berjanji akan memberikan kebahagiaan itu padamu jika kamu juga memberikan aku kesempatan untuk melakukannya," cicitnya Fajar Arthur Prayoga pria yang selalu diam-diam membantunya tanpa mengharapkan imbalan apapun,dia hanya berharap senyuman bahagia selalu hadir mewarnai hidupnya Arifah perempuan muda yang otw dua puluh satu tahun itu tahun ini.


Aura jengah melihat tingkah lakunya Fauzi yang kekanak-kanakan itu yang masih tengkurap di atas aspal menunggu Arifah datang untuk menolongnya, tapi kenyataannya itu tidak seperti impiannya. Arifah bukannya menolongnya, malahan hanya memberikan perkataan yang sungguh menohok jantungnya.


"Saya tidak akan menyerah begitu saja,saya akan datang setiap hari ke sini untuk mengemisnya agar Arifah tersentuh dan iba melihatku," gumamnya Fauzi sambil dipapah masuk ke dalam mobilnya.


"Mas Fauzi apa tidak malu bertindak seperti itu? Lihatlah mereka yang melewati tempat ini bukannya iba dan kasihan dengan Mas Fauzi yang nelansa, malahan mereka menggunjing dan menghina Mas Fauzi saja," ketusnya Aura.


"Saya tidak peduli dengan tatapan mencemooh, ataupun semua hinaan yang mereka berikan untukku, karena tujuanku adalah Arifah harus memaafkan diriku dan menerimaku kembali hidup bersamanya, aku tidak mau hidup melarat dan bekerja sebagai karyawan biasa saja,dimana mau aku taruh wajahku jika aku harus bekerja sebagai bawahan yang selalu diperintah kiri kanan seperti kambing congak," dengusnya Fauzi yang sudah duduk di atas jok mobilnya.


Aura menatap jengah ke arah Fauzi pria yang berstatus suaminya itu,"terserah dari Mas saja, saya tidak akan mencampuri urusannya mas lagi, kalau menurutku untuk sementara waktu jangan muncul dulu, tapi mas tetap pada pendiriannya mas,ya sudah silahkan lanjutkan rencananya semoga berhasil," ucapnya Aura yang sudah tidak mau ambil pusing.


Aura hanya berfikir gimana caranya mendapatkan pria kaya sebagai kekasihnya tanpa memutuskan hubungannya dengan Fauzi As'ad Anwar. 


"Kamu sudah jatuh miskin tapi, masih belagu juga, aku yakin jika Arifah sudah membencimu karena perbuatan kita berdua, aku hanya berharap semoga apa yang aku lakukan tidak ketahuan oleh orang lain, jika demi mengusir Arifah dari rumahnya aku mengorbankan calon bayiku, tapi tahu-tahunya malah rahimku yang diangkat, sungguh aku benci dengan keadaan seperti ini, aku tidak menduga jika keberuntungan kali ini berpihak pada Arifah Azizah Oktarani Zainul," umpatnya Aura.


Keesokan harinya, Fauzi kembali ke rumah yang dulu pernah ia huni beberapa tahun belakangan ini. Tetapi, karena perbuatannya sendiri sehingga dia harus angkat dari rumah itu dengan istri sah rasa simpanannya itu.


"Saya tidak boleh gagal hari ini, aku yakin Arifah pasti akan tersentuh hatinya setelah melihatku," gumamnya Fauzi sambil bercermin memperhatikan penampilannya yang tidak seperti biasanya itu.


Aura yang baru selesai mandi melihat suaminya sedang bercermin sambil memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh suaminya itu.


"Mau kemana Mas dengan pakaian dan dandanan seperti ini, jangan bilang Mas mau pergi ngemis di lampu merah," sarkasnya Aura yang melihat suaminya sudah bertingkah aneh.


Fauzi tersenyum lebar ke arah istri sah rasa pelakor itu," saya sengaja berpakaian lusuh seperti ini agar Arifah kasihan padaku sehingga dia memanggilku kembali untuk tinggal bersamanya di rumah megah itu," jelasnya Fauzi.

__ADS_1


Aura tak lagi menanggapi perkataannya Fauzi, dia hanya fokus mencari target pria yang mampu membuatnya hidup kaya lagi seperti beberapa tahun belakangan ini.


"Aku yakin penampilanku ini akan membuat Arifah tersentuh hatinya sehingga mau tidak mau menarik gugatan cerainya, aku harus berpura-pura menjadi korban disini dan sudah menyesali perbuatanku, setelah ia terperdaya dan termakan hasutan serta aktingku barulah aku bertindak untuk merebut semua yang selama ini menjadi milikku," gumam Fauzi yang sangat percaya diri dengan rencananya itu tanpa mencari tahu apa yang sudah terjadi dengan Arifah setelah memutuskan untuk bercerai dan menendangnya dari rumah peninggalan kedua orang tuanya.


Fauzi turun dari mobilnya yang sengaja dia parkir di tempat yang sedikit jauh dari tempatnya Arifah. Ia sengaja melakukan hal itu untuk menarik simpatik semua orang terutama Arifah mantan anak asuhnya sekaligus mantan istrinya itu. Mang Hendra yang melihat kedatangan Fauzi segera mengeluarkan jurus andalannya itu untuk menjatuhkan Fauzi.


"Ya Allah… kenapa masih pagi-pagi sekali, sudah ada pengemis di depan pagar?" Sarkasnya Mang Hendra.


Fauzi yang mendengar perkataan dari security baru di rumahnya Arifah membuatnya emosi jiwa raganya. Tapi, sekuat tenaga ia harus meredam amarahnya itu, agar tidak membuat penyamarannya terbongkar.


"Oke silahkan kamu hina saya, tapi saya akan berusaha untuk membuat Arifah jatuh cinta padaku lagi dan tersentuh hatinya," batinnya Fauzi.


"Dasar pria bego bukannya melanjutkan hidupnya dengan bekerja keras untuk memperbaiki hidupnya malah harus datang setiap hari ke sini membuat onar," cibirnya Mang Hendra.


Fauzi pun angkat bicara," aku kesini bukan untuk mendengar celoteh mu, aku kesini untuk bertemu dengan Arifah anak angkatku, jadi kamu lebih baik diam saja tidak perlu menggonggong," balasnya Fauzi.


Mang Hendra tertawa terpingkal-pingkal mendengar perkataan dari mulutnya Fauzi, "Hahaha terserahlah mau ngomong apa, mau tungguin Nona Arifah saya tidak akan menghalangi ataupun mencegah mantan Tuan Besar Fauzi As'ad Anwar sampai jamuran atau sampai lumutan juga enggak masalah kok, kalau gitu aku ucapkan met menunggu apa yang Anda tunggu," ujarnya Kang Hendra yang bertugas menjaga keamanan rumahnya Arifah yang sudah tidak seperti beberapa hari sebelumnya.


Sudah waktunya adzan Dzuhur tetapi, Arifah belum keluar juga dan keadaan rumahnya seperti tak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam sana. Fauzi sudah mondar mandir kesana kemari di depan pagar pintu utama.


"Apa jangan-jangan Arifah sudah berangkat ke kampusnya yah,l lebih pagi yah? ini kan sudah pukul jam dua belas lewat tapi Arifah belum keluar juga," cicitnya Fauzi.


Mang Hendra diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Fauzi dan mengabadikan momen tersebut ke dalam galery hpnya.


"Aku rekam loh, jadi hari-hari aku punya tontonan gratis untuk menghibur diriku sendiri yang kesepian menjaga rumahnya Non Arifah ini," cicit Mang Hendra.


Hingga beberapa jam sudah berlalu, satupun orang tidak berjalan melewati pagar besi bercat hijau itu. Ada rasa bosan dan lelah yang datang menggerogoti tubuhnya Fauzi. Tapi, ia tetap optimis jika Arifah akan menemuinya di tempat itu.

__ADS_1


"Saya yakin Arifah berada di dalam kamarnya sambil melihat dan memperhatikan apa yang aku lakukan untuknya, aku tidak boleh menyerah sedikitpun jika ingin kembali hidup mewah tidak perlu repot-repot bekerja banting tulang segala untuk menghidupi kehidupanku," lirih Fauzi.


Panas terik sore itu sama sekali tidak menyurutkan semangatnya Fauzi untuk berhenti dari kegiatannya yaitu menunggu kedatangan Arifah yang itu tidak mungkin bisa terjadi padanya hingga kapan pun karena Arifah hari ini sudah sampai di  London UK Inggris dengan selamat bersama pak Rahmat Husein dan istrinya Bu Hamidah Indah Sari.


"Emang dasar pria bego dan tolol sudah jelas-jelas Non Arifah sudah pergi dari sini, tapi masih saja menunggu, tapi tak masalah menunggu saja hingga capek atau kalau perlu sampai jadi patung seperti patung maling Kundang suami durhaka," cibir mang Hendra dengan menatap sinis kearahnya Fauzi.


Suara anjing menggonggong sudah terdengar pertanda sudah tengah malam, tapi kondisi rumah itu masih seperti sebelumnya tetap tenang seolah tidak ada tanda-tanda jika ada penghuni rumah itu.


Dengan berat hati, Fauzi harus kembali dengan tangan kosong tanpa mendapatkan hasil seperti yang sudah dia lakukan sebelumnya. Hatinya sedih dan kecewa karena, orang yang sudah seharian dia tunggu kehadirannya dari sejak pagi pukul tujuh sampai jam sebelas malam, tapi Arifah sama sekali tidak memperlihatkan dirinya di hadapan Fauzi.


"Saya akan datang besok pagi lagi,saya yakin besok pasti Arifah sudah mau menemuiku setelah melihat kesungguhan dan keseriusan ku untuk meminta maaf, jika bukan karena hartanya aku tidak akan sudi bersikap seperti ini merendahkan harga diriku untuk mengemis belas kasihnya," kesalnya Fauzi.


Besok pagi, Fauzi kembali datang mendatangi rumah itu seperti biasanya dan sebelumnya itu, Fauzi berpenampilan lusuh bahkan lebih parah dari kemarin sekarang malah seperti pengemis betulan. Mang Hendra Gunawan kembali tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lakunya orang tolol yang terlalu sombong dan percaya dirinya melebihi ambang batas kewajaran.


Fauzi kembali sedih dan kecewa dengan hasil yang dia dapatkan hari itu. Hingga satu bulan hal itu ia lakoni, tanpa ada rasa lelah dalam dirinya. Bukannya introspeksi diri dan menyadari kesalahannya tetapi, malah semakin membuat ulah saja.


Fauzi pun akhirnya tersadar bahwa Arifah sudah pergi jauh dari sisi hidupnya dengan mengambil kesimpulan, setelah melihat kondisi kediaman megahnya Arifah.


Tiga bulan kemudian…


Aura Adifa yang sedang berjalan santai ke luar dari sebuah mall ternama dan terbesar di Ibu kota Jakarta. Aura baru saja berbelanja menghabiskan beberapa tabungannya hasil uang yang disembunyikan selama ini menjadi istrinya Fauzi.


"Lumayanlah bisa belanja banyak, untung hari ini banyak barang bagus yang harganya tidak terlalu mahal," gumam Aura sambil memeriksa beberapa belanjaannya dengan tetap berjalan.


Hingga langkah kakinya terhenti setelah mendengar sapaan seseorang dari arah belakang.


"Aura Adifa," teriak orang yang sudah berdiri di belakangnya.

__ADS_1


Aura refleks menolehkan kepalanya ke sumber suara tersebut. Matanya melotot dan membelalak saking terkejutnya melihat beberapa orang berpakaian seragam polisi sudah berdiri di depannya dengan tatapan tajamnya.


"Maaf Anda harus ikut kami ke kantor polisi," ucap dengan tegas seorang polisi diantara mereka.


__ADS_2