Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku

Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku
Bab. 32


__ADS_3

Semua orang yang duduk berbincang-bincang membicarakan tentang masalah biaya perawatan dan pengobatan Arifah Azizah Oktarani Zainul yang kebingungan mencari sumber dana.


"Ya Allah… begitu miris dan kasihan nasibnya Non Arifah padahal selama ini ia selalu baik dan hidup berkecukupan tapi, disaat seperti ini malahan kita kesulitan, jadi Mas kita cari dimana lagi uangnya yang tidak sedikit itu," keluhnya Bu Hamidah.


Mereka di depan ICU sambil memperhatikan kondisinya Arifah yang dibantu oleh beberapa peralatan medis.


"Maaf saya akan membantu pelunasan semua biaya perawatan rumah sakitnya Arifah, tapi tolong jangan katakan kepadanya nanti jika aku yang membantu kalian," ujarnya.


Sudah meminta bantuan kepada perusahaan, tapi harus mendapatkan tanda tangan kepada Fauzi As'ad Anwar yang sama sekali tidak berniat untuk melakukan hal itu.


Mang Deni dengan Pak Rahmat sudah meminta belas kasihnya Fauzi, tapi bukannya mendapatkan bantuan melainkan hinaan dan perkataan yang tidak baik saja yang mereka dapatkan. Suara interupsi seseorang mampu membuat senyuman bahagia mengembang di sudut bibir kelima orang itu.


"Syukur Alhamdulillah, makasih banyak Pak atas bantuannya, semoga apa yang sudah Anda berikan untuk Nona kami dibalas berkali-kali lipat pahala oleh Allah SWT,"imbuhnya Pak Rahmat seraya memegang kedua tangannya pria yang sama sekali tidak ingin menyebutkan identitasnya itu.


Bahkan pria tersebut dengan suka rela mendonorkan darahnya untuk Arifah yang tadi ketika dioperasi butuh sekantong darah.


"Iya Tuan, andaikan Anda gak datang tepat waktu entah apa yang akan terjadi pada Nona Arifah, kami sangat senang bisa bertemu dengan orang yang sangat baik hatinya, ikhlas dan tulus membantu kami tanpa pamrih, bahkan memberikan uang itu dengan cuma-cuma," timpalnya Bu Hamidah yang tersenyum penuh kebahagiaan.


Pria itu hanya tersenyum simpul mendengar perkataan dari beberapa orang yang sungguh berterima kasih kepadanya.


"Kedatangan Anda begitu tepat waktu seakan Anda adalah orang yang dikirim oleh Allah SWT sebagai malaikat penyelamat Nona Muda kami, karena kami sudah meminta bantuan kepada suaminya tapi, dasar suami gak tahu diri cuma proses buatnya saja suka tapi, pas istrinya butuh bantuan malah lepas tangan dan hanya memikirkan kondisi istri lainnya yang pelakor itu emang dasar bajingan, lucknut, brengsek semua perkataan hewan penghuni kebun binatang sudah meluncur," cercanya Amelia yang sangat jengkel dengan sikapnya Fauzi sambil menggerakkan giginya itu.


Bu Hamidah segera melototkan matanya ke arah putri tunggalnya itu sambil mencubit lengannya Amelia.


"Auhh! Sakit!" Keluhnya Amelia yang main cerocos saja tanpa filter itu yang tersulut emosinya.

__ADS_1


"Ya Allah… pantesan terkadang aku melihat dari raut wajahnya yang nampak sendu tapi, terkadang segera ia menutupi kesedihannya dengan senyuman manisnya," batinnya Fajar Arthur Prayoga yang menutupi identitasnya dari siapapun.


"Betul sekali apa yang dikatakan Amelia, apa bedanya Aura dengan Arifah mereka berdua sama-sama istrinya sepatutnya mereka juga harus disamakan perhatian dan segala-segalanya, tapi ini malahan tidak adil dan berat sebelah, padahal Fauzi itu hidup dari sejak dulu dari belas kasih dan uluran tangannya kedua orang tuanya Arifah,apa bukan namanya air susu dibalas air tuba kalau gini," sarkasnya Mang Deni.


"Sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu hidup memang seperti ini kadang enggak adil bagi beberapa orang, anggap saja ini pelajaran yang harus kita petik hikmahnya, karena ada ujian ini pasti bermaksud dan bertujuan untuk membuat kita semakin dekat dan berserah diri kepada Allah SWT," imbuhnya Pak Rahmat yang selalu berusaha untuk berfikiran positif.


Seorang dokter dan dua perawat mendatangi mereka berenam. Semua orang yang duduk di depan sekitar area ICU segera berdiri lalu berjalan ke arah kedatangan rombongan tim medis yang menangani kesehatan Arifah.


"Maaf siapa suaminya Nyonya Arifah?" Tanyanya suster.


"Ada apa Sus?" Tanyanya Fajar yang segera maju ke depan.


"Gini Dokter ingin menjelaskan secara rinci dan detail masalah kesehatannya Ibu Arifah,apa Bapak bisa ikut bersama saya?" Pintanya Perawat itu.


Fajar segera berjalan ke arah beberapa suster itu ke arah lokasi ruang praktek dokter khusus spesial kandungan.


Perempuan itu segera mengangkat kepalanya dan betapa terkejutnya melihat siapa pria yang berdiri di depannya itu. Sahabat sekaligus sepupunya sendirlah yang berdiri di depannya.


"Mbak Andini," beonya Fajar.


"Fajar, kok kamu ke sini, tadi aku suruh suami dari perempuan yang barusan mengalami kematian pada bayinya yang berusia delapan bulan, kenapa malah kau yang datang kemari," sanggahnya Dokter yang bername tag Andini Amrita Rusman.


Fajar lupa dan tidak sempat membaca nama yang tertulis di papan tulis terpasang di pintu masuk ruangan tersebut sehingga sama sekali tidak menyadari bahwa saudaranya sendiri yang menangani Arifah.


"Aku menggantikan posisi suami teman yang kebetulan tidak ada di sini," kilahnya Fajar yang menutupi kenyataan yang ada.

__ADS_1


"Maafkan kami yang sudah berusaha untuk menolong calon bayinya, tapi karena benturan yang sangat keras sehingga janin itu tidak bisa kami selamatkan lagi dan sudah meninggal kemungkinan besarnya ketika dalam perjalanan ke rumah sakit, tapi satu hal yang patut disyukuri karena rahim dan yang lainnya dalam keadaan yang baik-baik saja, insya Allah… kelak masih bisa hamil lagi." Ungkap Bu dokter Andini.


"Amin ya rabbal alamin, Alhamdulillah kalau seperti itu, pasti Arifah akan sangat kehilangan bayinya jika sudah sadar dari pengaruh obat anestesi nya itu," imbuh Fajar.


"Sepertinya perempuan ini, bukan hanya sekedar teman saja bagimu Fajar, aku perhatikan kamu sangat peduli terhadapnya, Ingat jangan sampai kamu jadi menikahinya perebut istri orang,kamu harus sadar dengan status kalian berdua, ingat jangan sekali-kali menjadi pebinor, karena tidak ada dalam sejarah kehidupan keluarga besar Prayoga yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga laki-laki lain," tukasnya Andini.


"Insha Allah… enggak lah Mbak aku hanya kasihan kepada perempuan ini yang ditelantarkan dan dicampakkan oleh suaminya dan dijebak dengan cara pernikahan padahal dia dijadikan istri kedua yang dia sangka dia satu-satunya istri suaminya itu." Jelas Fajar.


Perbincangan mereka selesai di situ saja, tapi Andini terus menerus mencari tahu siapa perempuan yang dimaksudkan oleh Fajar adik sepupunya itu dari pihak papinya


"Kenapa aku merasa bahagia setelah mendengar jika Arifah kehilangan bayinya, pikiranku sudah salah dan keliru ya Allah.. maafkanlah aku jika aku harus berfikir seperti itu," bathinnya Fajar sambil berjalan ke arah ruang ICu.


Langkah kakinya terhenti sesaat setelah berada di luar salah satu kamar perawatan seorang pasien yang baru tersadar dari habis operasinya itu.


"Pergi!! Jangan mendekat,kalian semua bego, kenapa bisa kalian mengangkat rahimku tanpa meminta persetujuan dari ku ha!! Apa hak kalian!" Teriaknya seseorang perempuan yang berteriak histeris dan mengamuk setelah mengetahui jika, dirinya tidak akan bisa hamil lagi karena rahimnya rusak ketika dia terjatuh ke atas lantai.


Beberapa perawat dan dokter berusaha berlindung dari amukan itu. Fajar tanpa sengaja melihat dan juga mendengar kejadian itu karena, kebetulan pintu ruangan itu terbuka lebar.


"Dimana Mas Fauzi, dimana suamiku berada, kenapa dia tidak ada di sini?!" pekik Aura yang sudah seperti orang kehilangan akal sehatnya sembari melepaskan selang infus nya yang terpasang di tangan kirinya.


"Nyonya Aura Afyda Lukman, tolong jangan bertindak seperti ini, bersabarlah karena jika rahimnya Nyonya Aura tidak diangkat secepatnya malah akan membuat anda terkena penyakit yang berbahaya bisa mengancam keselamatan dan nyawanya Anda, lagian ini semua sudah menjadi keputusan dari suami Anda sendiri Pak Fauzy yang sudah setuju dengan tindakan yang kami tempuh," ungkapnya Dokter Kania rekan kerjanya Andini yang menangani kesehatannya Aura setelah operasi.


"Suami Nyonya sepertinya sedang sibuk mengurus segala administranya Nyonya, jadi kami harap dan mohon sangat bersabarlah dan tenanglah," bujuknya perawat itu sambil mengobati tangannya Aura yang berdarah dengan susah payah.


"Karma is real saudara, kamu sudah menyakiti hati seorang perempuan lain yang sama sekali tidak berdosa dan bersalah padamu, hanya waktu dan keadaan yang memaksa kalian harus hidup seperti ini, tapi aku yakin dengan sangat kamu tidak mengalami penderitaan ini jika kamu itu baik," cicitnya Fajar yang segera berlalu dari hadapan kamar inap VVIP itu.

__ADS_1


Saya hanya berharap Arifah jika sadar nanti tidak akan mengalami guncangan yang cukup hebat seperti wanita tadi, semoga saja arifah bisa kuat menjalani sunatullahnya Allah SWT yang membuatnya harus mengalami kenyataan pahit ini," gumam Fajar.


__ADS_2