
Air matanya jatuh membasahi pipinya itu, semakin berusaha ia kuat dan tegar semakin sakit hatinya bagaikan tercabik-cabik sembilu tajam menusuk seluruh jantungnya.
"Aku harus kuat demi calon buah cinta kami, aku harus bertahan andai mungkin aku tidak hamil aku sudah pergi jauh dari sini," gumamnya Arifah Azizah Oktarani Zainul yang melangkahkan kakinya menuju lantai dua rumahnya tempat kamarnya berada.
Arifah terduduk di atas ranjangnya sambil merenungi nasib rumah tangganya.
"Kenapa harus di rumahku mereka berbuat seperti itu, malah dengan santainya berbuat bejat di depan mataku, kalau mau selingkuh di luar sana banyak hotel atau di apartemen saja, aku tidak masalah ya Allah… asalkan bukan di depan mataku," ratapnya tubuhnya beringsut ke arah bawah dengan linangan air matanya yang terus menerus menetes membasahi wajahnya itu.
Arifah menekuk kedua lututnya itu dalam tangisannya. Air matanya bukannya berhenti malah semakin mengalir deras saja. Jika, ia harus kembali mengingat masa-masa indahnya yang selama ini mereka lewati.
Arifah tertidur dengan melipat kedua kakinya di balik selimutnya itu. Tetesan bening air matanya masih tersisa di sekitar pelupuk matanya itu. Fauzi dan istri pertamanya itu bukannya peduli sedikit saja dengan kondisinya Arifah tapi, sedikitpun tidak ada rasa iba mereka.
Hari-hari terus berlalu, tidak terasa sudah jalan enam bulan perutnya Arifah. Pergerakannya terbatas sehingga memutuskan untuk menyudahi kursus memasaknya. Arifah bersyukur karena, dari pelatihan tersebut, ia sudah mampu dan mahir serta terampil memasak beberapa jenis macam masakan yang setiap hari ia masak untuk suaminya. Arifah bingung dengan statusnya sendiri, apakah dia yang pelakor atau perempuan itu.
Sejak kedatangan Aura di dalam rumahnya, Fauzi semakin menjauh dari sisinya hingga seolah tidak tergapai lagi. Hidup seatap tapi,jiwa dan raganya untuk wanita lain.
Arifah berjalan ke arah dapur, dengan memegangi perut buncitnya itu," kenapa nendang sayang, apa kamu lapar atau haus, tunggu yah bunda buatkan untuk kamu susu, mungkin masih ada kue sisa kemarin yang sudah aku buat," Gumamnya Arifah yang berjalan ke arah dapur karena perutnya tiba-tiba lapar padahal baru jam empat subuh.
"Ck… CK… kasihan sekali nasibmu awalnya sangat dimanjakan dengan disayangi sekarang malah dibuang bagaikan barang rongsokan saja," sarkasnya Aura yang berjalan menuruni tangga pula di belakangnya Arifah.
Arifah hanya menolehkan kepalanya ke arah sumber suara tanpa ada niatan untuk menggubris ataupun membalas perkataan dari istri lain suaminya itu.
__ADS_1
"Kamu mungkin belum tahu jika, Mas Fauzi As'ad Anwar itu sudah menikah denganku jauh-jauh hari sebelum menikahimu, kamu perlu tahu perjodohannya dengan Aqila Sera Wijaya beberapa bulan lalu itu hanya alibi dan hanya rencana doang saja agar kamu dan yang lainnya tidak mencurigai hubungan kami berdua dua tahun belakangan ini dan juga untuk mengambil alih seluruh kekayaanmu menjadi miliknya Mas Fauzi," ungkapnya Aura.
Aura yang hanya memakai pakaian yang sangat seksi itu berdiri di depan Arifah yang tidak menduga dan menyangka jika, Fauzi dengan teganya melakukan semua ini padanya.
"Kalau alasannya hanya karena harta kenapa meski melakukan kebohongan besar ini, padahal aku akan dengan ikhlas menyerahkan semua harta kekayaanku padanya dengan suka rela," tampiknya Arifah.
Aura berjalan memutari tubuhnya Arifah yang bergetar hebat dalam tangisnya," hahaha aku sangat puas dan bahagia melihat kau terpuruk seperti ini, kamu perlu mengetahui jika semua ini adalah rencanaku sendiri yang menganjurkan kepada mas Fauzi untuk mengambil alih semua hartamu menjadi milik ayah angkatmu itu, saking cintanya padaku kekasihnya saat masa putih abu-abu hingga tidak bisa menolak permintaanku ini, Mas Fauzi awalnya tidak ingin melihat kamu tersiksa dan menderita, tapi saya yang sangat ingin melihatmu hancur berkeping-keping hingga kamu tidak mampu berpijak dengan kedua kakimu itu,"cibirnya Aura yang mengatakan alasan Fauzi berkhianat padanya.
"Itu tidak mungkin! Kamu pasti hanya berbohong dan membual saja, ayah tidak mungkin melakukan semua itu padaku!" Teriak Arifah yang emosinya sudah mulai terpancing juga.
Arifah mengepalkan tangannya dengan sekuat tenaganya itu,ia baru ingin maju melayangkan tamparannya ke arah perempuan lucknut itu, tapi suaminya Fauzi segera datang.
Aura semakin memperlihatkan dan mempertontonkan kemesraannya itu di depan kedua matanya Arifah. Fauzi pun sama sekali tidak peduli dengan kehadiran Arifah di sana. Baginya Arifah itu hanya pembantu saja.
Aura berbalik badan dan berhadapan dengan Fauzi," sayang aku lapar, eehh bukan aku tapi calon bayi kita lapar makanya aku ke dapur tapi, kebetulan Arifah ada di dapur makanya aku minta tolong sama dia untuk membuatkan aku makanan,apa Mas marah atau keberatan jika aku meminta kepada Arifah untuk dibuatkan nasi goreng seafood hari ini? Ini keinginan calon anaknya Mas loh bukan karena aku sendiri yang pengen," ucapnya Aura dengan penuh kemanjaan sambil menautkan kedua tangannya di atas lehernya Fauzi.
Sedangkan Fauzi malah membalas dengan penuh kemesraan sikapnya Aura dengan memeluk secara posesif pinggangnya Aura tanpa mempedulikan sedikitpun perasannya Arifah.
Fauzi mengatur anak rambutnya Aura dengan penuh kasih sayang dan kelembutan," silahkan katakan padanya apa saja yang kamu inginkan sayang tidak perlu sungkan atau pun ragu karena, dia itu pembantu di rumah ini, sedangkan kamu adalah istri sahku satu-satunya," cibirnya Fauzi yang menatap jengah merendahkan ke arahnya Arifah.
"Aku tidak boleh marah dan terpancing emosiku hanya mendengar kebenaran yang sungguh membuatku sedih dan hancur, demi buah cintaku aku harus kuat menghadapi perlakuan mereka," batinnya Arifah.
__ADS_1
Jedar der…
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, perkataan dari mulutnya Fauzi pria yang berstatus suaminya itu membuatnya tersadar dengan posisinya sebenarnya di dalam hidup dan hatinya Arifah.
"Katakan saja Mama atau aku panggil Mbak atau apa Ini?" Ketusnya Arifah yang sebenarnya lapar hingga nafsu makannya hilang menguap ke udara saking terkejutnya melihat kenyataan pahit yang ada di depan matanya.
"Kamu panggil Mbak saja itu lebih bagus dan pantas dibandingkan dengan sebutan yang lain, karena bagaimanapun aku adalah istri pertama sekaligus istri sah dari suami kita," tampiknya Aura.
Fauzi hanya tertawa penuh kemenangan melihat keterpurukan dan kehancuran dari anak angkatnya itu.
"Tolong buatkan istriku nasi goreng seafood secepatnya, kalau sudah selesai antarkan ke dalam kamarku, karena aku ingin menghangatkan tubuh istriku yang kedinginan," ucapnya Fauzi seraya menggendong tubuhnya Aura naik ke atas undakan tangga.
Arifah hanya sanggup untuk terdiam membisu dan air matanya menjadi saksi bisu kesedihannya itu.
"Aku masih bertahan di rumah ini karena, anakku ingat itu jika anakku sudah lahir aku akan pergi dari sini, tapi jangan harap kalian dengan mudah dan bebas menikmati kekayaanku, untungnya beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Paman William Henry untuk mengubah beberapa surat wasiat dari papa yang mengatakan ayah bisa menikmati seratus persen hartaku jika aku memiliki anak darinya dan anakku sudah berusia delapan belas tahun, tidak semudah itu furgoso untuk menikmati semua kekayaanku yang sama sekali tidak ada hak kalian di dalamnya," umpatnya Arifah.
Arifah segera memasak makanan untuk madunya itu, keadaannya sungguh ironis status pelakor yang selama ini begitu ia benci ternyata status itu malah melekat di tubuhnya.
"Saya bukan wanita lemah yang mudah kalian tindas begitu saja, saya akan cari waktu yang baik untuk membalas dendam perlakuan kalian ini!" Geramnya Arifah seraya memasak nasi goreng seafood untuk Aura.
Arifah menambahkan sedikit obat pencahar ke dalam nasi goreng itu," berhasil atau tidaknya tergantung dari kondisi tubuhnya Mbak A-u-r-a," ucapnya yang mengeja nama perempuan tidak tahu diri itu harus jadi benalu di dalam rumahnya.
__ADS_1