
Alona berteriak kencang dan histeris setelah mengetahui jika, rahimnya harus diangkat karena, jika tidak maka akan membahayakan dirinya itu. Alona mencabut jarum infus yang menancap di pergelangan tangan kirinya. Dia tidak menerima apabila, dirinya divonis tidak akan pernah memiliki bayi lagi.
Kejadian keguguran kandungannya itu bukan yang pertama kali,tapi hal tersebut untuk yang kedua kalinya bersama mantan kekasih pertamanya itu. Tetapi, kejadian ini adalah yang paling terparah yang dialaminya.
"Saya tidak akan membiarkan Arifah bahagia, ini semua gara-gara dia sehingga aku harus mengalami penderitaan, aku akan balas dendam padamu pelakor!" Geramnya Alona yang membuat beberapa perawat dan dokter yang berusaha untuk menangani kondisinya bergidik ngeri dan saling bertatapan satu sama lainnya.
Sedangkan di tempat lain, beberapa orang yang sedari tadi berjaga di ruang ICU, tersenyum gembira karena Arifah Azizah Oktarani Zainul bangun dari komanya beberapa jam yang lalu. Dia mengerjapkan kedua kelopak matanya itu,seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang bercat serba putih itu.
Air matanya menetes membasahi pipinya itu, karena tanpa bertanya kepada siapapun dia sudah paham dan mengerti dengan apa yang terjadi pada kondisi calon bayinya. Air matanya semakin luruh ketika tangannya mengelus perutnya yang sudah buncit.
"Bayiku," lirihnya Arifah.
Pak Rahmat dan istrinya Bu Hamidah tanpa sengaja melihat hal itu, ikut meneteskan air matanya saking sedih dan pilunya dengan apa yang terjadi pada kehidupannya dan nasib malang calon anaknya itu.
"Kasihan sekali nasibnya Non Arifah yah Pak, padahal tidak sepantasnya mendapatkan perlakuan jahat dan buruk seperti ini, karena dia pewaris tunggal kekayaan Tuan Besar Zainul, sedangkan Tuan Fauzi hanyalah orang yang meneruskan dan menjaga kekayaan itu," ujarnya Bu Hamida.
"Kalau saya yah Bu berada di posisinya Nona Arifah, tidak bakalan memaafkan kelakuan keduanya, saya pasti akan menuntut tanggung jawab dan pembalasan kepada mereka yang menyakitiku dengan sengaja," geramnya Pak Rahmat security rumahnya Arifah yang sudah seperti keluarganya sendiri.
"Benar sekali apa yang Bapak katakan, sepatutnya Non Arifah jangan pernah memberi hati kepada mereka berdua, kalau perlu berikan pelajaran yang setimpal untuk perbuatan jahatnya," kesalnya Bu Hamidah yang tersulut emosinya itu.
"Retno, tolong kamu panggil dokter sama suster ke sini, katakan pada mereka kalau pasien sudah sadarkan diri," pintanya Pak Rahmat yang memerintahkan kepada adiknya itu.
Mbak Retno segera memanggil dokter dan beberapa perawat untuk segera memeriksa kondisinya Arifah setelah hampir sepuluh jam tidak sadarkan diri akibat operasi yang dijalaninya itu. Mbak Retno dan dokter Andini yang berjalan ke arah ruang ICU.
__ADS_1
"Selamat pagi Nyonya Arifah," sapanya Dokter Andini.
"Selamat pagi juga Ibu Dokter," Arifah balik menyapa dokter Andini dengan senyuman tipisnya.
"Kami akan memeriksa Ibu Arifah terlebih dahulu sebelum dipindahkan ke ruang perawatan rawat inap rumah sakit kami," ujarnya Dokter Andini yang sudah menjalankan pekerjaannya memeriksa Arifah.
Pak Rahmat,Bu Hamidah,Mang Deni dan Mbak Retno segera masuk ke ruangan mengikuti langkahnya Bu dokter. Mereka semua berdiri sambil menunggu hasil pemeriksaan lanjutan yang dilakukan oleh dokter Andini.
"Bagaimana dengan keadaanku Dok, kapan aku bisa pulang ke rumah?" Tanyanya Arifah yang berwajah dingin.
Semua orang yang berada di dalam sana saling berpandangan dengan mendengar perkataan dari Arifah yang membuat mereka keheranan. Karena Arifah sama sekali tidak menanyakan perihal kondisi janin yang sempat bersemayam di dalam rahimnya itu.
"Insya Allah… setelah menjalani beberapa tes selanjutnya, kondisi Nyonya stabil barulah bisa pulang ke rumah, apa Nyonya Arifah sudah sangat merindukan rumahnya?" Tanyanya Dokter Andini yang sekedar berbasa-basi semata.
"Pak Rahmat tolong hubungi pengacaranya Papa Pak Daniel karena dia sekarang yang mengurus segala sesuatunya di perusahaan, saya pengen bicara dengan beliau," perintahnya Arifah yang kembali membuat mereka saling melempar pandangan karena cukup bingung dengan sikapnya Arifah.
"Tapi, gimana dengan kondisi rahimku Dok setelah proses kurek dan operasinya, apa masih aku masih ada kemungkinan besar untuk hamil kedepannya?" Tanyanya Arifah yang berusaha menahan embun air matanya yang akan menetes itu.
"Insya Allah… Nyonya Arifah masih bisa hamil lagi asalkan rutin meminum obat dan bersabar, itu saja kok karena Alhamdulillah tidak ada kerusakan ataupun masalah setelah operasi tersebut, tapi maafkanlah kami yang sudah berusaha semaksimal mungkin,tapi Tuhan berkehendak lain calon bayinya tidak bisa diselamatkan lagi," ungkap Dokter Andini.
"Tidak apa-apa dokter tidak perlu merasa bersalah seperti itu juga, karena ini semua sudah takdir dari Allah SWT, aku harus menerimanya walaupun sangat berat," pungkasnya Arifah yang berusaha untuk tegar menghadapi ujian dalam hidupnya itu.
Dokter Andini melanjutkan pemeriksaannya dan memerintahkan kepada beberapa perawat laki-laki untuk memindahkan Arifah keruangan perawatan VVIP.
__ADS_1
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam ruangan inapnya Arifah. Mamg Deni, Retno, Pak Rahmat beserta istrinya sudah duduk di atas sofa buludru yang tersedia di dalam ruangan itu.
Pak Daniel Radcliffe Wong sudah datang sesuai dengan permintaan dari Arifah sendiri. Mereka berdua sudah berbincang-bincang serius mengenai langkah apa yang akan ditempuh oleh Arifah kedepannya.
"Saya sudah tidak punya alasan untuk mempertahankan pernikahanku ini, jadi aku mohon kepada Pak Daniel untuk mengurus perceraianku dengan Fauzi As'ad Anwar dan tolong atur keberangkatan aku ke London UK Inggris karena aku akan melanjutkan pendidikanku yang sempat tertunda, satu hal lagi copot jabatan Pak Fauzi sebagai presiden direktur dan untuk sementara waktu angkat saja Pak Dimas anak buah kepercayaannya Papa, setelah aku kembali ke Indonesia Jakarta aku yang akan mengurus perusahaan Papa dan mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku," tegasnya Arifah.
"Baik Nona Arifah perintah Anda pasti akan saya laksanakan, Anda tidak perlu repot-repot mengurus perceraiannya Anda karena, Anda hanya nikah siri jadi cukup Pak Fauzi mengatakan kata talak sudah sah kalian berpisah, tetapi jika Fauzi tidak mau melakukan hal itu maka saya tetap akan mengajukan ke pengadilan agama untuk proses dan tahapan perceraian Nona," imbuhnya Pak Daniel.
Arifah tersenyum tipis," saya serahkan semuanya pada Anda pak Daniel ingat setelah saya sembuh total, tolong atut keberangkatan aku dengan baik dan usahakan jangan sampai ada yang mengetahui akan hal ini cukup kalian yang berada di sini yang mengetahui akan rencanaku, Mang Deni Mbak Retno tolong pulang ke rumah dan lempar keluar semua barang-barang milik Pak Fauzi dengan istrinya tanpa tersisa sedikitpun, saya tidak ingin melihat ada bekas mereka di rumahku!" Perintah Arifah.
"Kalau begitu saya permisi Non, assalamualaikum," ucap salamnya Pak Daniel.
"Waalaikum salam, makasih banyak atas bantuannya dan kerjasamanya Pak Daniel," ucapnya Arifah yang berusaha untuk duduk di headboard ranjangnya itu.
Pak Daniel hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Arifah. Keadaan di dalam sana cukup hening tanpa ada yang berbicara sedikit pun. Sedangkan Mang Deni dan Mbak Retno sudah pergi dari sana.
Arifah menatap intens ke arah Pak Rahmat, "Pak Rahmat tolong pulang ke rumah, jual semua perabot rumah yang ada dalam di sana tanpa terkecuali dan ganti juga semua cat temboknya dari dalam hingga luar, saya ingin rumah itu sudah berubah sesuai dengan keinginanku sebelum aku kembali," pintanya Arifah yang membuat pasangan suami istri itu cukup terkejut dan saling beradu pandang.
"Saya akan mengerjakan apapun yang Anda perintahkan dan akan selesai sebelum Anda pulang," jawab Pak Rahmat yang segera menjalankan amanah dari nona mudanya itu.
Ruangan itu sudah sepi karena, hanya Bu Hamidah yang tersisa didalam sana.
"Ya Allah… akhirnya Nona Muda memperlihatkan kekuatan dan kekuasaannya, aku hanya berharap kedepannya Nona Arifah akan menemukan kebahagiaannya setelah beberapa bulan mengalami kesulitan hidup yang membuatnya terguncang," batinnya Bu Hamidah.
__ADS_1
Arifah mengelus perutnya yang sudah datar," anakku maafkan bunda yang tidak bisa menjaga dan mempertahankanmu, tapi mungkin ini yang terbaik untukmu Nak, semoga kamu bisa tenang dan bahagia di sana, Bunda akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, karena ayahmu sama sekali tidak pernah mengharapkan kehadiranmu sehingga Allah SWT mungkin mengambilmu untuk pergi jauh dari sisinya Bunda Nak," ratapnya Arifah yang menitikkan air matanya itu.
Bu Hamidah ikut terisak melihat kondisi dari Arifah yang akhirnya memperlihatkan sisi lemahnya di hadapan Bu Hamidah seorang.