
Arifah berdiri di depan cermin riasnya," sampai kapan seperti ini terus, kenapa aku juga gak hamil-hamil juga, katanya di luar sana banyak perempuan yang hanya sekali dua kali saja mereka positif sedangkan aku kagak tekdung juga, apa aku harus memeriksakan kondisi kesehatanku ke dokter saja sambil konsultasi gitu yah," gumam Arifah yang menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin.
Hubungan seperti itu terus hampir setiap hari mereka lakoni. Hingga seolah hubungan mereka sulit untuk terpisahkan, tapi Fauzi As'ad Anwar tidak bisa memutuskan rencana pertunangannya hanya sepihak saja tanpa alasan yang jelas dan masuk akal.
Hubungan terlarang terjalin secara rahasia tanpa ada yang mengetahui hubungan mereka selain adik bungsunya Fauzi yaitu Faiz Akhsan Khaerul yang mengetahui dengan pasti dan jelas hubungan mereka.
Satu bulan kemudian, Arifah hari ini berniat berangkat ke kampusnya. Tetapi, tubuhnya tidak fit seperti sebelumnya. Kepalanya terasa pusing, bangun untuk duduk saja sangat sulit untuk ia lakukan. Tidak ada nafsu makannya hingga nyeri ulu hatinya ia rasakan.
"Abang apa Arifah enggak turun sarapan bareng kita?" Tanyanya Alifah Arsana yang celingak-celinguk mencari keberadaan anak angkat dari kakak sulungnya itu.
Faiz Aksan dan Fahmi Idris menatap ke arah Fauzi As'ad Anwar kakak sulungnya itu. Fauzi menghentikan kegiatannya itu sehingga sendok dan garpu menggantung di depan bibirnya.
"Abang juga gak tahu karena, biasanya jam segini sudah bangun kalau ada jam kuliahnya,bibi Sumi tolong cek di kamarnya Non Arifah apa yang terjadi padanya sampai-sampai ia melupakan sarapan paginya," perintahnya Fauzi yang melanjutkan makannya.
"Apa Arifah sakit? Karena enggak biasanya seperti ini," tebaknya Fahmi Idris.
"Jangan asal nebak, kamu buruan makan apa enggak mau ke kantor?" Cercanya Faiz yang menatap tajam ke arah adiknya.
Fahmi hanya mengangkat bahunya tanda tidak akan berbicara lagi," aku tahu apa yang kalian lakukan, sama-sama berani berbuat tapi, tidak berani menyatakan sejujurnya di depan orang lain, cikk."
"Baik Tuan, saya akan periksa kondisinya Non Muda," balasnya Bibi Sumi.
Tapi, baru selangkah kakinya menapaki undakan tangga, Bu Sumi segera berhenti karena, Arifah sudah nampak kelihatan batang hidungnya.
"Eehh Non Muda, Tuan Besar Fauzi nyariin Nona," imbuhnya Bi Sumi asisten rumah tangganya yang paling setia dan terlama pengabdiannya itu di dalam keluarga Anwar Sahid Ibrahim.
__ADS_1
"Ada apa kenapa meski mencariku, tumben banget ayah mencari ku, apa karena sudah menyelesaikan urusan rencana pernikahannya, sehingga punya waktu luang untuk menanyakan kabarku," ketusnya Arifah.
Fauzi menatap intens ke arah anak angkatnya sekaligus kekasih rahasianya itu sekaligus selingkuhannya.
"Apa ada yang salah jika, seorang ayah bertanya kepada putrinya? Menurut ayah itu hal yang wajar saja," imbuhnya Fauzi.
Arifah langsung bertepuk tangan mendengar perkataan dari Fauzi pria yang sangat ia cintai itu," hahaha,luar biasa sama sekali tidak ada yang salah ayah angkatku jika, kau adalah ayah kandungku tapi kamu itu hanya adik angkat dari mendiang kedua orang tuaku, jadi jangan berpura-pura lupa dengan status kita yang sebenarnya, aku pengen mual mendengarnya jika pak Fauzi yang terhormat mengingatkan statusku yang sebenarnya di dalam rumahku sendiri," sarkasnya Arifah Azizah Oktarani Zainul.
Arifah berjalan sempoyongan ke arah luar,ia sama sekali tidak menggubris teriakan dan perkataan dari semua orang yang berada di depan meja makan.
"Arifah stop! Tolong dengarkan ayah!" Teriaknya Fauzi.
Alifah segera berjalan ke arah luar untuk mencegah abangnya agar emosinya Fauzi segera reda. Karena jika, tidak, akan menimbulkan keributan sehingga mampu membuat semua orang-orang akan mengetahui apa yang terjadi di dalam rumahnya yang biasanya asem-asem ayem saja.
"Abang stop! Jangan seperti ini tidak perlu mengejar Arifah aku sangat hafal dengan karakternya,saya yakin jika sudah tenang ia pasti pulang," bujuknya Alifah Arsana Khaerul adik ketiganya Fauzi yang beda bapak.
Alifah,Faiz dan Fauzi sama-sama saling bungkam dan terdiam seribu bahasa. Mereka sibuk memikirkan benar salahnya apa yang dikatakan oleh Fahmi.
"Sebaiknya aku ke kosan gadisku sebelum berangkat ke kantor,masih banyak punya banyak waktu," gumamnya Fahmi Idris yang siap tempur melakukan pendekatan kepada perempuan yang sudah ia rebut ciuman pertamanya.
Arifah terus mengemudikan mobilnya hingga ke suatu taman. Ia menyentuhkan kepalanya ke setir mobilnya.
"Sial!! Kenapa aku sudah bersamanya dan melakukan hubungan itu hingga dua bulan lebih tanpa pengaman, tapi kenapa aku belum hamil juga!" Jerit Arifah di dalam mobilnya seraya memukul setir mobilnya itu.
Arifah pagi ini merasakan keanehan pada kondisi tubuhnya itu. Ia sudah senang karena, mengira dirinya sudah hamil dan itu salah satu cara yang tepat untuk memaksa ayah angkatnya menikahinya.
__ADS_1
"Aku sudah menempuh berbagai cara untuk membuat aku hamil, tetapi hari ini bukannya hamil aku malah datang tamu bulanan, padahal tersisa tiga minggu lagi ayah akan menikahi Aqila Sera Syamil Wijaya, cara yang diberikan oleh Ariestya Fathia Lubis dengan Fatir Muhammad Iqbal,tapi semuanya gagal padahal ada teman yang katanya hanya sekali doang langsung jadi tokcer amat yah, tapi saya bukan hanya sekali atau dua kali tapi sudah banyak kali bahkan hubungan kami seperti suami istri sah saja," batinnya Arifah yang menjerit tidak terima dengan keadaannya.
Arifah sudah melakukan tes berulang kali hingga hampir semua merk testpack ia beli untuk dipakai tapi, hasilnya negatif selalu garis satu. Hingga menjelang shalat isya Arifah baru pulang ke rumahnya. Tanpa berbicara sepatah katapun,ia masuk ke dalam dapur untuk mengisi kampung tengahnya yang perutnya sudah berteriak ingin diisi makanan.
Arifah bertemu dengan beberapa orang, tapi sama sekali tidak menggubris ataupun menyapa orang yang ia temani berpapasan dengannya itu. Arifah berniat membuang sampah sisa makanannya yang tidak habis ia makan.
"Kenapa masakannya Mbak Siti nggak enak yah hari terasa hambar banget enggak pakai penyedap rasa sedikitpun juga," umpatnya Arifah.
Kakinya menekan bagian bawahnya tong sampah hingga beberapa sampah tercecer ke atas lantai.
"Ya elah kenapa juga sampahnya bukannya masuk malah keluar lagi," ketusnya Arifah yang mulai ingin memungut satu persatu sampahnya hingga tangannya tanpa sengaja menyentuh kantong kresek yang didalamnya terdapat testpack yang bertuliskan keterangan garis dua positif.
Arifah jongkok di depan tempat sampah tersebut kemudian memungut benda itu," inikan tes kehamilan, siapa yang punya dan hasilnya juga positif, aahh masa bodoh dengan siapa pemiliknya yang paling penting aku bisa pakai untuk memaksa ayah untuk menikahiku masalah lainnya urusan belakangan, yang paling terpenting ayah menikahiku walaupun hanya nikah siri saja," cicitnya Arifah yang mendapatkan ide yang bagus dan angin segar bagi perkembangan hubungan keduanya.
Arifah segera berlari ke atas lantai dua tempat kamarnya berada, tapi bukannya ia berniat untuk ke kamarnya tapi malah ke ruang kerja ayah angkatnya itu. Arifah tak bosan-bosannya tersenyum bahagia, karena sudah punya taktik yang tepat dan senjata pamungkas untuk menjebak ayah angkatnya itu.
"Ayah apa ada di dalam?" Tanyanya Arifah sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan pribadinya Fauzi.
Hingga sudut bibirnya terangkat ke atas karena ia gembira melihat ayah angkatnya sedang duduk di depan laptopnya itu.
"Ayah hiks…hiks…"
Suara tangisannya Arifah begitu jelas terdengar hingga indera pendengarannya Fauzi. Fauzi segera berdiri dari duduknya langsung berhamburan memeluk tubuh kekasih gelapnya itu.
"Arifah putrinya ayah apa yang terjadi padamu Nak?' Tanyanya Fauzi yang sudah nampak khawatir pada anak angkatnya itu.
__ADS_1
Arifah memaksa air matanya menetes agar terlihat tangisannya itu alami,"A-ku hamil anak ayah," ucapnya Arifah yang semakin mengeraskan suara tangisannya itu.
Jedar… ketar ketir perasaannya Fauzi, bagaikan petir di siang bolong berita fakta kehamilan Arifah sangat membuatnya terkejut dan apa yang diinginkannya selama ini berhasil juga.