Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku

Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku
Bab. 53


__ADS_3

"Usianya berapa Mbak?"


"Dua puluh satu tahun tepatnya hari ini," jawab Arifah dengan mantap.


"Apa! 21 tahun!? Buset dah Abang Fajar dapat bronis nih brondong manis sedangkan Abang sudah tuir usianya tiga puluh dua tahun,woo amazing cinta memang gila dan buta," hebohnya Audi.


Setelah mereka menyantap makanan malamnya yang begitu lezat dan nikmat yang pasti harganya mahal, ke enam orang itu berjalan beriringan ke arah tempat parkiran.


"Abang boleh nebeng di mobilnya enggak?" Tanyanya Audina Laila Bashirah.


"Memangnya kenapa meski nebeng sama Abang, Fikri sama Fadil ke msnay? Kok enggak ngikut mobil salah satunya." Tanya Fajar sambil membuka kunci mobilnya.


"Mereka katanya masih punya urusan Abang, terpaksa guwe cari tumpangan kalau begini," kilahnya Audy.


"Fairuz, kamu mau langsung pulang ke apartemen atau masih punya tujuan ke tempat lain?" Fajar menatap ke asisten kepercayaannya sekaligus sahabatnya itu.


Fairuz terlebih dahulu melirik sekilas ke arah perempuan yang menginjak kakinya dengan pentopel sepatunya itu hingga membuat punggung kakinya dibalik sepatunya memerah kebiru-biruan.


"Saya tergantung dari Non Audina saja Bang," balasnya Fairuz.


"Kalau gitu kamu antar pulang Audi selamat sampai di pintu rumah, kau Audi enggak boleh nolak tawaran bantuannya dari Fairus yang walaupun jalan pincang seperti itu, dia tetap berniat dan tulus menolongmu," imbuhnya Fajar.


"Siap Tuan Muda," balasnya Fairuz.


Fairuz sudah berjalan pulang ke dalam mobilnya sedangkan Audi bersungut-sungut disampingnya Arifah calon kakak iparnya itu.

__ADS_1


"Mbak aku ikut bareng kakak saja yah, please! Saya enggak mau pergi sama dengan pria itu!" Tunjuknya Audi yang beralasan menolak tidak ingin ikut pulang bersama dengan Fairus gara-gara ciuman yang dilakukan oleh Fairuz terhadapnya barusan sewaktu mereka berdua di toilet umum.


Rengekan dari Audi sama sekali tidak di gubris oleh kakaknya Fajar," Abang sudah putuskan kamu diantar oleh Fairuz, kalau enggak mau ikut yah udah, kami mau pulang terlebih dahulu, assalamualaikum," ucapnya Fajar sambil berjalan masuk ke dalam mobilnya tanpa peduli dengan rengekan dan permintaan dari adik bungsunya itu.


Arifah memeluk tubuh calon adik iparnya itu," Audi kenapa emang gak mau ikut dengan pak Fairuz, lihat mobilnya bagus, orangnya cakep dan ganteng kamu nolak pulang dengannya sungguh tak masuk akal banget, kalau aku di posisinya kamu tanpa disuruh aku sudah duduk disono sambil pulang ke rumah dengan pria mapan, ganteng dan macho," imbuh Arifah yang tersenyum penuh arti ke arahnya Fairus.


Arifah melerai pelukannya dari tubuhnya Audy, dan berjalan ke arah bagian kanan mobilnya Fajar yang sudah menunggunya sedari tadi dan tidak berhenti untuk menyalakan klakson mobilnya.


Fajar hanya tersenyum penuh maksud ke arah adiknya itu," makanya kalau kalian saling mencintai jangan selalu saling menjaga jarak dan bermusuhan padahal saling suka," ketusnya Fajar.


Fajar sama sekali tidak perduli dengan teriakan dari adiknya itu yang masih berusaha untuk mengemis agar tidak pulang bersama dengan Fairuz, laki-laki yang dicintainya sekaligus dibencinya itu.


"Maafkan Abang dek, ini demi masa depan dan kebahagiaan kalian berdua, kalian itu saling mencintai hanya takut untuk memulai dan menyatakan perasaannya karena Fairuz merasa minder dan tidak pantas untuk menikahimu," gumamnya Fajar.


Fajar dan Arifah sudah pergi jauh meninggalkan kedua orang yang masih sama-sama egois dan keras kepala tanpa ada yang mau ngalah.


Fairus memegangi jari telunjuk Audina," saya memang sengaja melakukannya agar aku bisa berduaan denganmu karena saya pengen bicara banyak denganmu," tuturnya Fauzi yang sudah mendorong tubuhnya Audi dengan perlahan hingga punggungnya Audi terbentur dengan kap mobilnya Fairus.


"A-pa yang ka-mu la-ku-kan?" Tanyanya Audi yang sudah gemetaran dan ketakutan serta panik karena takut Fairuz nekat berbuat aneh-aneh padanya lagi.


Fairuz mengulurkan tangannya ke arah wajahnya Audy,"Saya tidak ingin apa-apa kok, hanya mau ambil ini dirambutmu, ini coba kamu lihat," ucapnya Fairuz sambil memperlihatkan sebuah kertas yang terbang terbawa angin hingga mengenai rambut panjangnya yang terikat seperti seekor kuda saja.


Audi sudah salah paham pada pria dewasa yang berbeda usia dengannya itu.


"Saya kira mau ngapain," dengusnya Audi.

__ADS_1


"Emangnya kau pikir aku mau ngapain saja di tempat umum seperti ini?" Tanyanya Fairus sambil tersenyum tipis.


"Enggak apa-apa kok,saya tidak mikir yang aneh-aneh dan macam-macam, situ saja yang pikirannya lain-lain," kilahnya Audy.


Fairus kemudian duduk di atas jok mobilnya itu dengan entengnya tanpa peduli dengan tatapan dan ucapan sinisnya Audi.


Sedangkan di tempat lain, Arifah Azizah Oktarani Zainul sudah sampai di depan rumahnya diantar dengan selamat oleh calon suaminya itu. Selama dalam perjalanan, Arifah kebanyakan diam saja dan berbicara seperlunya saja sesuai pertanyaan dari Fajar. Dia turun dari mobilnya dengan berjalan tergesa-gesa ke arah pintu rumahnya itu.


"Maaf Mas aku masih tidak terima dengan apa yang dilakukan Mas sewaktu di toko emas, oke saya memakai cincin ini hanya saja saya tidak ingin membuat semua orang menganggap aku mempermainkan dan banyak drama untuk melaksanakan acara pernikahan kita esok pagi," terangnya Arifah sambil membuka pintu mobilnya.


"Arifah, kamu belum memaafkan mas rupanya, apakah sesulit itu untuk memaafkan mas sampai-sampai sekarang kamu masih benci dan marah padaku?" Fajar berusaha untuk mengejar Arifah yang sudah berjalan menjauh dari mobil terparkir tepat di depan pintu masuk rumahnya Arifah.


Fajar menarik tangannya Arifah," please! Maafkan Mas,saya tidak bermaksud sama sekali untuk nyakitin hatimu saya hanya bercanda kok," sanggahnya Fajar.


"Tuan Muda Fajar Arthur Prayoga jangan samakan semua perempuan, kami itu berbeda-beda bukan berarti kami sama dan menyukai candaannya mas yang terlalu berlebih-lebihan, kalau mau bercanda sah-sah dan boleh saja tapi, jangan mengatakan hal yang bisa buat seseorang marah dan jengkel dengan sikapnya Mas, saya sangat berbeda dengan mereka," Arifah menghempaskan tangannya Fajar.


Arifah membuka pintu rumahnya dan betapa terkejutnya melihat beberapa orang yang sudah berdiri di depan pintu menyambut kedatangannya. Arifah menitipkan air matanya melihat siapa yang berada di depannya itu.


Ada Fatir Muhammad Iqbal dengan istrinya Alifah Andara Stania bersama babynya yang baru beberapa bulan itu. Ariestya Fathia Lubis bersama suaminya Fahmi Idris Sardi. Sera Aqila Wijaya bersama dengan suaminya adik kedua dari Fauzi As'ad Anwar yang bernama Faiz Arfat. Mang Joko, Kang Deni, Kakang Udin juga datang bersama dengan Bu Hamidah dan suaminya Pak Rahmat Hidayat serta anak-anaknya.


Hanya minus Fauzi saja diantara rombongan mereka. Arifah semakin mengeraskan tangisannya, karena semua orang yang hadir di dalam rumahnya adalah orang-orang penting dalam kehidupannya selama ini. Yang perempuan langsung berhamburan memeluk tubuhnya Arifah yang bergetar hebat dalam tangisnya itu.


"Arif, kangen banget," ucap Ariestya yang sudah memeluk tubuh sahabat terbaiknya itu.


"Abang Aries saya juga kangen banget loh sama kamu," lirihnya Arifah yang semakin meneteskan air matanya saking sedih, gembira dan terharunya itu melihat kehadiran orang-orang yang begitu baik dan care dalam hidupnya selama ini sebelum Fauzi memutuskan akses, kontak dan komunikasi dengan Arifah.

__ADS_1


"Non Arifah semakin cantik saja yah Bu," cicitnya Amelia anak sulungnya Pak Rahmat.


"Benar sekali apa yang kamu katakan Nak, selama Non muda memakai hijab semakin cantik pula penampilan dan hatinya itu," imbuhnya Bu Hamida.


__ADS_2