Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku

Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku
Bab. 41


__ADS_3

"Maaf apa Anda Mr.F?" Tanyanya Arifah yang semakin salah tingkah dan panik jika pria yang terlintas di benak dan pikirannya tidak sesuai dengan ekspektasinya itu.


Pria yang disapa Mr. F segera memalingkan wajahnya ke arah sumber suara dengan memperlihatkan senyuman lebar dan khas nya itu ke hadapannya Arifah. Sedangkan Arifah yang melihat wajah dari pria itu sungguh terkejut melihat siapa pria pemilik nama samaran Mr. F itu.


Tubuhnya terdiam kikuk dan sama sekali tidak menyangka, ketika melihat siapa pria yang bertubuh tinggi tegap dengan memakai jaket tebal berwarna biru tua dengan topi putih menutupi sebagian kepalanya sal senada dengan pakaiannya melilit di lehernya.


"Mas Fajar Arthur Prayoga," cicitnya Arifah.


Fajar harus berpura-pura juga tidak mengenali Arifah teman chattingnya beberapa bulan belakangan ini. Awalnya memang Fajar tidak mengetahui jika pemilik akun Mrs. A adalah Arifah, tetapi karena cukup penasaran akhirnya dia mengerahkan asisten kepercayaannya yaitu Faruk Datuk Kahfi untuk menyelidiki siapa pemilik akun Instagram itu.


Sungguh betapa bahagianya setelah ia mengetahui jika, Arifah adalah perempuan yang beberapa minggu itu sudah menjalin pertemanan dengannya melalui jejaring sosialnya. Fajar segera berdiri lalu menarik kursi untuk Arifah agar segera duduk.


"Maaf saya baru datang soalnya hujan, jadi agak terlambat ke sini," ucapnya Arifah yang menutupi kenyataan yang ada padahal dia bimbang dan ragu untuk datang ke tempat bertemu dengan Fajar.


"Tidak apa-apa kok lagian aku juga baru nyampe," kilahnya Fajar yang berbohong padahal sudah lebih sejam ia menunggu kedatangan Arifah pria yang wajahnya mirip dengan Zayn Malik itu.


"Mau pesan apa?" Tanyanya Fajar yang tatapan matanya terus tertuju pada Arifah yang salah tingkah karena terus ditatap intens oleh Fajar.


"Saya sudah makan,kalau bisa cappucino hangat saja," ujarnya Arifah.


Fajar pun segera memanggil pelayan untuk memesan minuman yang diinginkan oleh Arifah. Fajar benar-benar terpesona melihat penampilan dari Arifah.


Dengan memakai jaket berwarna pink shoft bermotif bulu mengelilingi kera jaketnya itu, celana jeans putih dan dipadukan dengan hijab pashmina sifon pink motif semakin mempercantik penampilan perempuan yang baru genap 21 tahun hari ini.


Satu minggu kedatangannya di London Arifah Azizah Oktarani Zainul memutuskan untuk memakai hijab dalam kesehariannya. Dia berusaha untuk Istikomah dengan pilihannya sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain.


"Kamu sangat cantik memakai hijab," pijitnya Fajar yang to the points tanpa sungkan langsung memuji kecantikan perempuan yang mampu selalu menggetarkan hatinya itu.


Arifah tersedak minuman kopinya hingga terbatuk-batuk dan menyembur keluar mengenai wajahnya Fajar. Arifah bukannya membantu membersihkan bekas semburan kopi diwajahnya Fajar ataupun meminta maaf malah tertawa terbahak-bahak melihat wajahnya Fajar yang sudah kehitaman.

__ADS_1


"Hahaha!" Gelak tawanya terdengar dari bibir mungilnya itu yang membuat Fajar menjadi salah tingkah dibuatnya.


"Pasti wajahku sudah jelek kan? Makanya kamu jadi tertawa seperti itu," ketusnya Fajar yang segera meraih hpnya dan memeriksa wajahnya.


Fajar pun terkejut melihat wajahnya yang sudah nampak kacau balau, bekas siraman air kopi dari bibirnya Arifah membentuk hampir menyerupai kumis dan hidungnya pun penuh dengan sisa bekas kopi.


Arifah segera mengambil tissue basah dari dalam tasnya itu, ia tanpa aba-aba langsung membersihkan seluruh wajahnya Fajar hingga mengkilap dan bercahaya tidak seperti sebelumnya.


"Insya Allah… wajahnya Mas Fajar sudah bersih kok, lagian apapun yang mengenai wajahnya Mas tidak bakalan mengurangi sedikit pun kadar ketampanan Mas Fajar," imbuhnya Arifah seraya tetap membersihkan sisa-sisanya padahal sudah mengkilap.


Fajar menyentuh tangannya Arifah," makasih banyak sudah membantuku untuk membersihkannya, padahal rencananya saya tidak ingin membersihkannya biarkan bersih sendiri terkena angin dan percikan air hujan," ujarnya Fajar.


"Emangnya Mas berencana pengen hujan-hujanan apa!?"


"Kalau kamu tidak keberatan, saya pengen hujan-hujan bersamamu," ucapnya Fajar yang tersenyum penuh bahagia.


Arifah hendak menarik tangannya dari genggaman Fajar, tapi segera dicegah oleh Fajar.


Raut wajahnya Arifah merona memerah seperti buah tomat matang. Arifah tidak menyangka jika akan diperlakukan seperti ini hingga ia menjadi salah tingkah dan malu-malu karena banyaknya pengunjung kafe siang itu.


"Apa kamu bisa temani aku ke bioskop untuk nonton film baru tayang perdana hari ini?" Harapnya Fajar.


"Nonton film!?" Ucapnya Arifah yang histeris dan gembira mendengar ajakan tawaran untuk nonton bareng.


"Yes of course… apa kamu mau menemaniku?" Tanyanya sekali lagi Fajar.


"Tentu aku setuju pake banget untuk temani Mas Fajar," ucapnya eksaitik sambil bangkit dari duduknya itu seraya menarik tangannya Fajar untuk berjalan ke arah luar kafe.


Fajar hanya tersenyum diperlakukan seperti itu oleh wanita yang dicintainya sejak kurang lebih satu tahun lalu yang saat itu masih berstatus istri siri dari Fauzi As'ad Anwar ayah angkatnya itu.

__ADS_1


Arifah menolehkan kepalanya ke arah belakang, "Mas apa ke mall pakai mobilku atau mobilnya Mas Fajar saja?" Tanyanya Arifah yang menghentikan langkahnya sementara waktu.


"Kita pakai mobilmu saja karena,di London aku sama sekali belum punya mobil maklum baru datang menginjakkan kaki disini soalnya," kilahnya Fajar.


"Iya juga yah, kalau begitu pakai mobilku saja, tapi aku yang nyetir yah Mas," usulnya Arifah.


"Tidak masalah, kalau aku yang kemudikan mobilnya entar kita bukannya sampai di Mall malah muter-muter cari jalan berakhir dengan kesasar, apa kamu mau seperti itu?"


"Enggak lah Mas, bikin capek tahu kalau harus kesasar," tampiknya Arifah yang kembali tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan tertata rapih itu.


"Mas gimana dengan kerjaannya di Jakarta, lancar kan?" Tanyanya Arifah yang sekedar berbasa-basi itu.


"Alhamdulillah semuanya lancar,atasanku sudah tidak pernah ngomel-ngomel lagi, selama ia berkenalan dengan seorang perempuan yang sangat cantik baik hati dan sholehah sehingga pekerjaan semakin lancar tanpa ocehan atasan kami itu," jelasnya Fajar.


"Woooo itu amazing banget lah, perempuan itu beruntung banget karena sifat dan tingkah lakunya mampu merubah seorang pria jutek dan arogan menjadi ramah dan baik hati serta peduli dengan sekitarnya," pungkasnya Arifah.


Fajar menatap intens ke arah Arifah, "Iya pria itu beruntung banget bisa bertemu dengan gadis sebaik dia, bahkan pria itu menjadi egois tidak ingin melihat wanita nya itu tersenyum kepada pria lain dan juga berdekatan dengan pria yang sama sekali tidak dikenalnya," jelasnya Fajar yang sebenarnya mengungkapkan tentang perasaan dan apa yang dialaminya itu.


"Prianya sayang banget kalau seperti itu Mas, jadi pengen ketemu dan berkenalan bahkan kalau bisa aku juga mau banget dapat pria seperti itu," imbuhnya Arifah dengan tangannya dan matanya masih fokus menatap ke arah jalan raya yang dilaluinya dibawah guyuran air hujan siang itu.


"Kamu pasti bakal bertemu dengan pria dengan karakter seperti itu tidak lama lagi, aku doakan kamu segera punya kekasih,katanya kamu selalu kesepian kalau weekend kan?" Tebaknya Fajar yang masih ingat dengan beberapa chatingnya bersama dengan Arifah sebelum mereka bertemu.


"Kekasih, hatiku sudah beku dan tidak berniat dalam waktu dekat ini menjalin hubungan dengan laki-laki manapun," tampiknya Arifah.


"Kalau suami mungkin gimana?" Ujarnya Fajar.


Arifah langsung menatap tajam ke arah Fajar," apalagi suami, aku masih trauma dengan mantan suamiku,apa Mas lupa jika aku ini seorang janda di usiaku yang baru 21 tahun," tukasnya Arifah.


Fajar tersenyum penuh arti," saya akan mengobati dan menutupi hingga menghilangkan rasa trauma itu dari dalam hidupmu," batinnya Fajar.

__ADS_1


Berselang beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Arifah sudah sampai di Mall paling terbesar dan terlengkap di UK Inggris. Arifah kembali berjalan ke arah dalam Mall itu dengan menggandeng tangannya Fajar dengan penuh posesif seperti seorang kakak kepada adiknya itu yang melindunginya dengan baik.


__ADS_2