
Arifah terduduk di atas ranjangnya memikirkan tentang perkataan dari suaminya sendiri.
Dia dihadapkan pada pilihan yang sulit, apalagi mengingat selama ini dia bebas berkeliaran ke mana saja yang dia kehendaki, tapi hari ini suaminya harus melarangnya untuk berinteraksi dengan dunia luar dan harus berhenti kuliah.
"Ya Allah… aku harus bagaimana, ayah memberikan aku Pilihan yang sangat sulit, tapi aku tidak mungkin tidak mengiyakan perkataannya karena ini demi masa depan calon anak kami kelak," gumamnya Arifah Azizah Oktarani Zainul.
Mulai malam itu, Arifah menghapus beberapa kontak telpon dari beberapa teman dan sahabatnya itu. Dia juga mengganti nomor whatsapp terbarunya.
"Aku yakin anak itu akan memenuhi semua permintaanku, karena dia sudah bucin akut padaku pasti akan mudah menjawab semuanya sesuai yang aku harapkan," gumamnya Fauzi As'ad Anwar sambil meninggalkan depan kamarnya Arifah anak angkat sekaligus suaminya itu.
Sedangkan di tempat lain, seorang pria yang sudah tua kira-kira berusia lima puluh tahunan sedang memarahi anak bungsunya.
Plak!!
"Dasar bego, otakmu itu kamu simpan di mana ha!! Bodoh banget memilih Faiz Aksan sebagai suamimu dan sekarang sudah hamil anaknya lagi, apa kamu lupa jika Fauzi kakaknya itu pemilik perusahaan sedangkan adiknya hanya kacung pesuruhnya saja!" Hardiknya Pak Wijaya Kusuma papinya Aqila Sera.
Aqila Sera mengelus pipi bekas tamparan dari ayahnya itu yang masih terasa panas dan ngilu itu. Disertai dengan tetesan air matanya yang sedari tadi membasahi pipinya.
"Apapun status dan pekerjaannya Mas Faiz aku lebih memilih dia dibandingkan kakaknya yang ambisius itu,atau papi lebih memilih saya menikah dengan pria yang sama sekali tidak mencintaiku," sarkasnya Aqila Sera yang baru kali ini menentang keputusan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Bu Leni Marlina memeluk tubuh putrinya itu, "Papi restui saja mereka, kasihan putriku sudah hamil, tapi harus mengalami beban pikiran seperti ini, Papi ingat bukan harta yang mengantarkan kita liang lahat tapi, kebaikan dan Ibadah kita di dunia ini," pungkas Bu Leni Marlina.
"Ibu dan anak sama saja, sama-sama tolong nya lebih memilih dan mementingkan perasaan dari pada kenyataan hidup ini begitu kejam jika kita tidak punya apa-apa," ketusnya Pak Wijaya Kusuma sambil berjalan ke arah luar kamar putri semata wayangnya sekaligus anak bungsunya itu.
"Sayang anaknya mami, kamu tidak perlu memasukkan ke hati semua perkataan papimu itu, mami yakin cepat atau lambat hatinya juga akan luluh padamu jika kamu sudah memberikan dia cucu," imbuhnya Bu Leni Marlina.
Aqila Sera membalas pelukan maminya dengan hangat dan penuh haru. Ia bersyukur karena maminya masih memiliki pemikiran yang cukup baik, terbuka luas dan tidak egois untuk memaksakan kehendaknya kepada ketiga anaknya itu.
Beberapa hari kemudian…
Acara pernikahan Aqila Sera, Alifah Arsana Khaerul dengan Fahmi Idris Sardi berlangsung cukup meriah. Mereka memutuskan untuk melaksanakan ijab kabul bersamaan di lokasi yang sama.
Fauzan sebagai dari ketiga adiknya itu, memberikan dan merayakan acara yang cukup mewah. Hingga tak segan-segan ia mengeluarkan banyak dana di hari spesial adik-adiknya itu.
"Aunty hari ini cantik banget, saya yakin sahabatku Fatir Muhammad Iqbal pasti akan klepek-klepek dan tersanjung melihat kecantikan yang dimiliki oleh aunty," pujinya Arifah seraya menyentuh tatanan rambutnya Alifah.
Alifah tersenyum simpul membalas pujian demi pujian yang diucapkan oleh Arifah kakak iparnya itu.
"Kamu bisa saja, kamu tahu nggak aku sangat bahagia yang akhirnya bisa menikah dengan Mas Fatir, padahal selama ini pikiranku hanya berpusat pada kesedihan karena telah memilih menikah dengan pria yang dijodohkan denganku yang ternyata hanya bisa selingkuh dariku saja," ujarnya Alifah.
__ADS_1
"Kamu perempuan yang baik aunty jadi wajarlah aunty mendapatkan pria yang baik pula," tukasnya Arifah yang raut wajahnya sendu ketika mengingat kembali pernikahannya yang berubah seratus delapan puluh derajat setelah malam itu.
Arifah yang cukup lihai dan juga pintar menyembunyikan perasaannya itu segera menetralkan perasaannya agar tidak ada yang curiga dan mengetahui apa yang terjadi sebenarnya di dalam rumah tangganya itu.
"Makasih banyak cantik, semoga kamu juga segera mendapatkan kebahagiaan yang seperti selama ini kamu inginkan dan impikan,saya yakin Abang Fauzi sangat mencintai dan menyayangi kamu dengan calon penerusnya," ucapnya Alifah.
Berselang beberapa menit kemudian, iringan dan rombongan dari beberapa mobil yang mengantar sang calon mempelai pengantin sudah berjejer di pintu masjid yang sudah mereka pilih dan sepakati sebagai tempat pelaksanaan akad nikah dan ijab kabul ketiga pasangan itu.
Alifah begitu cantik dan elegan dengan kebaya pengantin berwarna gold membungkus tubuh jenjangnya yang sudah berisi itu. Sedangkan Ariestya Fathia Lubis memakai gaun pengantin berwarna peach blossom sesuai dengan keinginannya.
Ariestya juga tampil sangat cantik dan seksi serta elegan pagi itu yang terlihat sangat cantik dengan penampilannya yang lebih baik berbeda dari hari biasanya itu.
Aqila Sera yang diapit oleh kedua orang tuanya dengan gaun pengantin yang menjuntai dii ujungnya memberikan kesan mewah seperti bak putri dari negeri dongeng saja. Arifah turut berbahagia melihat senyuman kebahagiaan dari ketiga pasang calon pengantin itu.
"Ya Allah… tidak terasa akhirnya mereka berada di saat seperti ini, keinginan dan impian mereka hari ini akan terwujud, tapi kenapa aku merasa ada kesedihan dan kegelisahan yang di rasakan oleh hatiku, padahal mereka jelas-jelas berbahagia dengan kehidupan baru mereka yang beberapa bulan belakangan ini mereka selalu hidup dalam kesedihan yang selalu membuat mereka harus lebih berjuang untuk memperjuangkan cinta mereka itu," gumamnya Arifah.
Alifah memegang kedua tangannya Arifah sambil bercerita, "Arifah kamu tahu gak aku sangat bahagia setelah aku bercerai dengan Mas Fadil Ahmad, aku begitu lega karena sudah terbebas dari pernikahan yang mengekang ku, Fatir Muhammad Iqbal begitu gagahnya datang ke rumah menghadap Abang Fauzi aku semakin bahagia dan merasa aku adalah wanita yang paling beruntung dan bahagia mendapatkan pria idaman wanita yang begitu tulus, setia, perhatian, baik hati dan begitu besar cintanya kepadaku," jelasnya Alifah dengan kedua bola matanya berbinar-binar terang saking bahagianya menceritakan kisahnya dan apa yang dialaminya itu.
"Aku turut bahagia aunty cantik, semoga saja kamu dengan Fatir selalu bahagia dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah hingga kakek nenek,tapi aku pasti akan kesepian tanpa aunty cantik yang akan pergi dari sini setelah menikah," tuturnya Arifah Azizah Oktarani dengan sendu.
__ADS_1
Alifah yang melihat teman sekaligus kakak iparnya itu segera memeluk tubuhnya Arifah,"jangan sedih insya Allah… saya akan mampir ke rumah jika ada waktu luang untuk menjengukmu,kamu seperti aku tidak akan pernah kembali lagi saja," tampiknya Alifah.
"Andaikan seperti itu aunty, aku tidak akan sesedih ini, karena ayah sudah pastikan kalian akan pergi jauh dari sini,ke Malaysia Kuala Lumpur daerah yang jauh dari Jakarta," cicitnya Arifah yang sudah menitikkan air matanya itu antara sedih dan bahagia yang dia rasakan.