
Arifah Azizah Oktarani berpisah dengan kedua sahabatnya itu. Hari ini ia berencana ingin menjalankan rencana selanjutnya. Arifah berjalan masuk ke dalam kamarnya, ia sudah lelah dan butuh istirahat yang cukup untuk hari ini.
"Untuk menghadapi ayah dengan calon istrinya itu pun butuh tenaga yang cukup banyak, jadi waktunya sleeping day," gumamnya Arifah yang langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang king size-nya itu tanpa membersihkan seluruh tubuhnya terlebih dahulu.
Fauzi As'ad Anwar berdiri di balkon kamarnya menatap ke arah pohon yang daunnya bergoyang terkena tiupan angin sore itu.
"Kenapa ya Allah… hatiku akhir-akhir ini bimbang dan ragu untuk menikahi Aqila Sera kekasihku yang sudah hampir lima tahun aku pacari, kenapa bayang-bayang apa yang aku lakukan semalam dengan Arifah hingga detik ini terlintas dibenakku, seharusnya aku tidak melakukan apapun padanya,dia putri dari sahabat sekaligus putri semata wayangnya pria yang berbaik hati menolong dan adik-adikku dari kesengsaraan tetapi, malah aku renggut kehormatannya, ini harus segera dihentikan tidak boleh ada lagi kejadian next untuk kedepannya," gumamnya Fauzi pria 35 tahun itu.
Arifah terbangun dari tidurnya, karena tiba-tiba perutnya keroncongan padahal rencananya dia tidak ingin makan malam malam ini.
"Ish kenapa juga perutku ini harus berdendang disaat mataku masih pengen terpejam," kesalnya Arifah yang berusaha mengerjapkan kedua matanya itu untuk melawan rasa kantuknya yang sulit diatasi.
Arifah hanya membasuh wajahnya dengan air dari kran wastafel kamar mandinya. Cuacanya malam itu cukup dingin, sehingga ia tidak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi. Arifah menuruni undakan tangga satu persatu dengan tatapan matanya yang masih susah untuk melek.
"Sepi amat ini rumah, kemana semua perginya penghuni rumah, apa sudah tidur padahal baru jam sepuluh malam juga," cicitnya Arifah yang berpakaian cukup seksi malam itu.
Arifah hanya memakai celana pendek hingga hampir keseluruhan pahanya terekspos dengan jelas, memakai baju kaos berwarna putih yang kebesaran dari ukuran tubuhnya itu.
"Sepertinya pengaruh hujan deras sehingga mereka cepat molornya," gumamnya Arifah yang terus melangkah kakinya menuju ke arah dapur.
Arifah membuka lemari pendingin lalu meraih beberapa kotak makanan untuk ia hangatkan isinya agar lebih enak untuk disantap hangat-hangat.
"Lumayan masih enak dimakan walaupun harus dipanaskan terlebih dahulu,"
Arifah menikmati makanannya dengan lahapnya, hingga ia sama sekali tidak menyadari jika ada dua orang yang sedang berjalan mengendap-endap di sekitar pintu belakang.
"Jangan ribut, entar Arifah melihat kamu ada di sini," lirihnya Faiz adik pertama ayah angkatnya.
__ADS_1
"Tapi sayang, apa nanti mereka nggak curiga dengan apa yang kita lakukan ini, kamu tahu kan aku akan menikah sekitar dua bulan lebih dari sekarang," pungkas perempuan itu.
Faiz langsung mendorong tubuh kekasihnya hingga punggungnya menyentuh tembok.
"Walaupun kamu akan menikah dengannya, tapi semua yang ada pada dirimu adalah milikku malam ini aku akan mengambil semua yang menjadi hakku sebelum kamu menikah dengannya dan hubungan kita akan terus seperti ini jika kamu jadi menikahinya," cicitnya Faiz sambil mendekap kedua kepalan tangannya sang perempuan.
Perempuan itu menggigit bibir bawahnya agar suaranya tidak kedengaran oleh siapapun malam itu.
"Kita lanjutkan dan kamar, aku ingin kamu hamil jadi kan kamu punya alasan untuk tidak menikah dengannya," ucapnya kemudian menggendong tubuh kekasihnya seperti karung goni.
Hubungan terlarang antara dua anak manusia itu sebenarnya sudah hampir dua tahun terakhir ini. Pria itu menjadi pelampiasan naaafff suuu nyaaa karena, tunangannya selalu menolaknya jika meminta hal tersebut walaupun hanya sekedar ciuman semata saja.
Arifah menaiki tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada," kenapa tadi aku rasa ada seseorang yang berbicara di belakang pintu tapi aku cek enggak ada yah,apa hanya halusinasi aku saja, atau mungkin efek hujan badai malam ini,"
Arifah membuka pintu kamarnya itu dan betapa terkejutnya melihat siapa orang yang sudah duduk di atas ranjangnya.
Arifah segera membuang tatapannya ke arah lain sambil menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya itu.
"Please,ayah cepat pakai baju entar masuk angin!" Jeritnya Arifah yang sama sekali tidak ingin melihat tubuhnya Fauzi As'ad Anwar yang membuat imamnya goyah.
Fauzi sebenarnya awalnya ingin melanjutkan pekerjaannya malam ini, karena besok ada meeting penting yang harus ia ikuti dan hadiri. Tetapi, hati, akal dan pikirannya tidak sejalan dengan anggota tubuhnya itu.
Fauzi melangkahkan kakinya menuju Arifah awalnya, tapi tangannya menarik pintu tesebut untuk segera menutupnya rapat-rapat dan tidak lupa menguncinya juga.
Fauzi mendekatkan wajahnya ke telinganya Arifah yang tidak terlindung oleh anak rambutnya, karena Arifah mengikat tinggi rambut bergelombangnya seperti ekor kuda itu.
"Saya ingin melewati malam ini bersamamu sebelum ayah lanjut bekerja," bisiknya Fauzi yang hembusan nafasnya seolah menggelitik leher jenjang putihnya Arifah hingga tubuhnya gemetaran merinding ngeri sedap.
__ADS_1
"Apa yang ayah inginkan?" Tanyanya Arifah yang nyalinya menciut tidak seperti sehari sebelumnya yang sangat berani menggoda pria yang berstatus ayah angkatnya itu.
Arifah memundurkan langkahnya beberapa langkah ke belakang hingga, punggungnya menabrak pintu.
"A-yah a-pa yang ingin kamu lakukan?" Tanyanya Arifah yang mulai panik dan tidak tahu harus berbuat pada situasi seperti itu.
Fauzi tersenyum penuh maksud," kenapa baru sekarang kamu sekarang seperti ini, apa sudah takut padahal kemarin kamu yang duluan selalu mancing untuk ayah segera menyeeeeennntuhmu," ucapnya Fauzi dengan suara seraknya tepat di lehernya Arifah.
"Ayah aku…. Hemph,"
Ucapannya Arifah terpotong karena Fauzi sudah membekap mulutnya Arifah dengan mulutnya. Fauzi memegang tengkuk lehernya Arifah anak angkatnya itu. Hingga Arifah tak mampu lagi bergerak,mau tidak mau harus mengikuti irama suasana yang diciptakan oleh pria dewasa yang haus akan belaian seorang perempuan tapi, entah kenapa enggan untuk melakukannya dengan kekasihnya sekaligus calon istrinya itu.
Fauzi selalu menolak jika,Aqila Sera Wijaya meminta padanya walau hanya sekedar kissing sekilas lalu saja. Sekujur tubuhnya Arifah merinding memikirkan pengalaman pertamanya yang sungguh menguras emosi, tenaga dan keringat itu.
"Kenapa ayah bersikap seperti ini,apa pengaruh obat peee raaang saaang yang aku berikan kemarin terlalu banyak melebihi dosis yang dianjurkan?" Batinnya Arifah yang sejujurnya sangat takut jika kejadian kemarin akan kembali terulang dengan season keduanya.
"Kamu cukup ikuti ayah apa yang ayah lakukan nak, kamu hanya cukup patuh pada permainannya ayah dan ayah janji tidak akan menyakitimu,ayah akan membuat kamu bisa hamil penerus keluarga besar Anwar," cicitnya Fauzi yang membuat Arifah tersentak kaget mendengar penuturan dari mulut ayah angkatnya yang sama sekali tidak pernah ia anggap ayah itu.
Tanpa terasa seluruh kain dan benang yang melindungi kulit mereka sudah terlempar dan berserakan di atas lantai keramik malam itu. Fauzi benar apa yang Ia katakan, ia memperlakukan Arifah begitu lembutnya hingga Arifah yang memimpin jalannya kegiatan mereka berdua.
Sedangkan dalam kamar sebelah tepatnya di kamar adiknya Fauzi yaitu Faiz Idris kegiatan serupa juga terjadi. Dengan tujuan yang sama, dan rasa yang sama pula hingga suara yang sungguh meresahkan siapapun yang mendengarnya pasti akan terganggu.
Untungnya malam itu hujan turun cukup lebat mengguyur seluruh ibu kota Jakarta hingga seakan-akan semakin menambah keromantisan kedua pasangan yang kelak akan menentukan nasib mereka masing-masing.
"Aku sangat mencintaimu Fariz Idris tapi, aku tidak mungkin melanggar janjiku pada kedua orang tuaku untuk menikahinya, biarlah hidup seperti ini takdir cinta harus begini ada kau dan dia bukan aku yang mau," Lirihnya wanita yang berada di bawah kungkungannya Fariz pria berusia 28 tahun itu yang bekerja sebagai menejer pemasaran di perusahaannya ke-dua orang tuanya Fatir Muhammad Iqbal.
Arifah mengalungkan kedua tangannya ke lehernya Fauzi pria yang sangat ia cintai walaupun mereka terpaut usia kurang lebih lima belas tahun itu.
__ADS_1
"Ayah aku sangat mencintaimu, aku lebih baik pilih mati dari pada harus melihatmu hidup dengan perempuan lain," ujarnya Arifah sebelum matanya terpejam menuju buaian mimpi indahnya.