Diary Love Andhika

Diary Love Andhika
Diary 13 : Pembullyan.


__ADS_3


"Apa balikan?, apa gue gak salah denger?," Tanya Zen dengan raut wajah kesal.


"Iyah, balikan," Jawab Zhiyan.


"Saat gue ngelihat lo pegangan tangan sama jalan berduaan sama tuh cowok, apa lo gak pernah mikirin sedikitpun soal perasaan gue, dan sedangkan sekarang.....lo dengan gampangnya minta balikan,"


"Haaahhh (menghela berat), gue kecewa berat sama lo," Sambung Zen yang lalu pergi begitu saja.


"Zeeennn tungguuuu!!!," teriak Zhiyan.


"Dhik, Dhika, tolong bantuin gue, plisss," mohon Zhiyan.


"Gue gak tertarik," Balasku dengan raut wajah datar.


Ku tinggalkan Zhiyan dan segera menyusul Zen yang sudah lumayan jauh.....


Zen hanya diam sepanjang jalan, menatap sedih ke bawah.


batinku.


"WOOOYYY,"


"ASTAGFIRULLAH," Kaget Zen.


"Ish, lo gak ada kerjaan banget sih, untung gak copot jantung gua,"


"Siapa suruh ngelamun," Sahutku.


"Haaahhh (menghela berat), gua cuman butuh waktu aja kok,"


"Udahlah lah bro (merangkul pundak Zen), mana Zen gue yang jail hah," hibur ku.


"Iyah (tersenyum), gue harus move on,"


"Naahhh gitu dong, yuk balik, kayaknya udah ditungguin sama anak-anak,"


"Oke,"


/////////////


Akhirnya kami kembali ke tempat semula di rumah baca kami, dekat taman kota.


Para anak perempuan sudah kembali terlebih dahulu ke sekolah, dan sedangkan kami anak laki-laki, mengurus sisanya.


[Setelah semuanya selesai]


Di sekolah SMA Garuda Sakti.


"Haahhh akhirnya beres juga," Ucap Zen dengan meregangkan kedua tangannya.


"Hm,"


"Hahahaha," Terdengar suara gelak tawa.


"Eh berhenti, lo gak denger suara orang ketawa?," Tanya Zen.

__ADS_1


"Hm,"


"Yaelah cuma hm, yuk cari asal suara itu, detektif Zen dan Andhika berangkat,"


batinku.


Akhirnya kami berduapun mencari asal suara tersebut, Yaaahhh walaupun gue kepaksa_-.


[Kebun sekolah]


"Gue rasa tuh suara dari sini deh,"


"Yakin darimana lu," Sahutku.


"Sssttt diem, eh tuh liat, itu... Aqila sama gengnya Emil kan (menunjuk),"


batinku kaget.


///////////


"Eh Aqila, udah mulai sok lu yah, mentang-mentang kemarin habis di bela sama Andhika," bentak Emil.


"Mak....maksut kak Emil apa?," Tanya Aqila ketakutan.


"DIEM LO,"


"Guys, kalian tahu kan harus ngapain,"


"Iya dong," Sahut kedua teman Emil serentak.


"Ka...kakak mau apa?," Tanya Aqila yang semakin takut, hingga ia mundur beberapa langkah dan tersandung.


"Aqila, lihat nih,"


/Pak/ Emil melempari Aqila dengan telur dan tepat terkena di kepala Aqila.


"Kalian ngapa diem, ayo lanjutin, kita kasih pelajaran buat dia," Ucap Emil.


"Oke,"


/pak/pak/pak/ Seluruh baju dan rambut Aqila kotor terkena telur tersebut.


Aqila tidak bisa melawan karna dia tahu dia hanya gadis mata empat yang tak berdaya.


batin Aqila dengan deras air mata.


"BERHENTI," Bentakku.


"A....Andhika," Sahut Emil kaget.


"Eh ada Andhika, kabur-kabur,"


Mereka lari terbirit-birit setelah melihat kedatanganku.


"Lo gak papa," Tanya Zen dengan mengulur tangan bantuan.


Aqila (bediri)

__ADS_1


"Eng...enggak papa kok kak," Jawab Aqila tertunduk.


"GAK PAPA GIMANA, lu tadi itu dibully habis-habisan tahu gak, kan gue udah bilang lo itu punya harga diri punya hak buat ngelawan mereka," Ucapku dengan nada tinggi.


"Ta...tapi kak,"


"TAPI APA, lu takut, buat apa lo takut sama mereka, kalau lo takut lo bakal makin ditindas tahu nggak," Sambungku.


"Udah dhik udah," Tenang Zen.


"Kak Andhika (suara pelan), KAK ANDHIKA TAHU APA TENTANG AQILA (nada tinggi disertai deras air mata),"


"Kak Andhika itu enak, punya banyak teman disukai banyak orang, bahkan punya sahabat, lalu Aqila....(terisak) Aqila cuma gadis lemah, bahkan cuma demi nyari temen, harga diri Aqila aja gak Aqila pikirin,"


batinku.


"Kakak gampang nyuruh Aqila buat ngelakuin ini itu, tapi....tapi Aqila bisa apa, tolong kak, kalau seandainya Aqila dibully lagi kak Andhika gak usah nolongin, karna Aqila tahu, rasanya juga sama aja, sama-sama sakit,"


"Permisi," Sambung Aqila yang lalu pergi meninggalkan kami berdua.


"Bro, kayaknya lo udah keterlaluan deh tadi," Ucap Zen.


batinku.


"Woy, kacang_-,"


"Hm,"


"Yaelah cuma hm lagi, Dhik gak papa lo dingin tapi jangan gitu juga,"


"Maksutnya?," Tanyaku.


"Aiiihhh, jujur, gue itu lebih suka lo yang dulu, yang ceria, murah senyum, gak dingin bin cuek gini,"


"Jadi?,"


"Jadiii, lo besok minta maap ke Aqila, dengan gaya Andhika yang ceria dan murah senyum, bukan dingin bin cuek oke, sehariii aja,"


"Hmmmm,"


"Yah, mau yah, lo tahu gak, dia tuh kasihan tahu, yaaahhh walaupun gue gak terlalu sering ketemu sama dia, tapi yang gue liat-liat dia tuh butuh temen, tapi cara dapetinnya itu salah,"


"Haaahhh, dan lo malah ngebentak dia tadi, makanya gue mau lo besok jadi Andhika yang dulu yah,"


batinku.


"Gue masih butuh waktu," Jawabku yang lalu pergi begitu saja.


"Eeettt dah, ditinggal lagi,"


//////////


batin Aqila yang masih menangis.


///////////


Assalamualaikum,

__ADS_1


Hallo semua, makasih udah mau mampir jangan lupa like, koment, dan votenya, agar memberi semangat saya dalam membaut eps selanjutnya.


Terima kasih(◍•ᴗ•◍)❤


__ADS_2