Diary Love Andhika

Diary Love Andhika
Diary 56: Jangan pergi.


__ADS_3


Tak lama kemudian, akhirnya ambulans pun datang dengan di belakang disusul Zen yang menaiki sepeda motornya.


Mereka langsung membawa Aqila yang sudah tak sadarkan diri itu, Zen dan Tasya ikut menyusul ambulans menuju rumah sakit.


~Rumah sakit kota Aron.


Aqila langsung dibawa ke ruang ICU, dokter menyuruh Zen dan Tasya untuk menunggu di luar, mereka merasa panik dan sangat khawatir akan keadaan Aqila.


"Gimana nih kak, Aqila....Aqila?" Panik Tasya sambil menggigiti jarinya itu.


"Udah tenang, Aqila...Aqila gak papa kok!" Jawab Zen mencoba menenangkan.


"Oh yah kak, gimana....gimana kak Andhika, kakak udah beritahu dia belum?"


"Oh yah gua lupa!, bentar gua telpon dia dulu!" Balas Zen yang langsung lekas mengambil ponselnya, mencari-cari nama Andhika di kontaknya, dan langsung menelpon lelaki tersebut.


/Mengangkat/


📞 (Zen): Woy bro!


📞 (Andhika): biasakan salam!


📞 (Zen): Oh yah lupa, ulang-ulang!


📞 (Andhika): hm!


📞 (Zen): Assalamualaikum Andhika ku!


"Woy lu yang bener dong, lagi suasana kayak gini masih sempet-sempetnya kalian homo, hiks hiks hiks!" Tegur Tasya kesal sambil menangis.


Umpatku dalam hati.


"Iyah-iyah maap!" Khilaf Zen.


📞 (Andhika): Tasya lagi sama lo, dia nangis, kenapa?


📞 (Zen): Lu, lu mendingan cepet ke rumah sakit sekarang deh!


📞 (Andhika): Emang siapa yang sakit?


📞 (Zen): Aqila!

__ADS_1


📞 (Andhika): Aqila.....Aqila sakit?


📞 (Zen): Enggak!, dia gak sakit, tapi dia kecelakaan!, Aqila sedang dirawat di ruang ICU sekarang!


📞 (Andhika): APA!!!, gak!, Lo....Lo kalau bercanda gak usah bawa-bawa beginian dong!


📞 (Zen): Andhika, gua emang suka bercanda orangnya, tapi kalau tentang nyawa orang, gua gak berani!


Batinku kaget dengan mata yang terbelalak, mendengar apa yang Zen katakan di telepon.


📞 (Zen): Gua mau lu datang kesini sekarang!, Oke!


/Tut/ menutup.


Ku genggam ponsel ku erat-erat merasa tak percaya atas apa yang ku dengar tadi.


Aku langsung mengambil jaket dan kunci motorku, bergegas menuju rumah sakit seperti alamat yang sudah Zen kirimkan kepada ku.


Ku kendarai sepeda motorku dengan kecepatan tinggi, "Aqila moga lu baik-baik aja!", sebaris kalimat itulah yang terus gua ulang.


~Sesampainya di rumah sakit.


"Hosh..hosh..hosh," diriku langsung bergegas masuk kedalam dengan berlari, menuju ruang ICU dimana tempat Aqila dirawat.


Ku menoleh ke arah sumber suara, lalu bergegas berlari menghampiri Zen.


"Aqila....Aqila mana?, gimana keadaannya!" Tanyaku panik dengan napas yang ngos-ngosan.


"Dhik!" Zen memberi kode dengan jari telunjuknya, menunjuk ke arah seorang wanita tua yang sedang duduk di kursi sambil memegangi sebuah bingkai foto.


"Pssttt itu neneknya Aqila, ngapa lu ajak kesini juga!" Bisikku kesal.


"Bukan gua yang ngajak, nenek Aqila dateng sendiri, kayaknya dia dapet kabar ini dari orang lain!" Bisik balik Zen menjelaskan.


"Yaudah Aqila mana?" Tanyaku.


"Dia masih di dalem, dari tadi belum ada kabar!" Jawab Zen.


Batinku.


Mataku terus tertuju kepada nenek Aqila, aku kasihan melihat keadaannya, gua tahu! dia pasti sangat khawatir akan keadaan cucunya.


/Menghampiri/

__ADS_1


Aku mencoba mendekati nenek Aqila, lalu jongkok didepannya, mata nenek Aqila terlihat kosong, dia hanya menatap bingkai foto itu terus-menerus.


Sebuah bingkai yang berisikan foto keluarga mereka, keluarga yang lengkap!


"Nenek!" Panggil ku pelan.


"Nak Andhika!"


"Iyah nek?" Jawabku sopan.


"Cucu nenek Aqila gak kenapa-kenapa kan?" Tanya nenek dengan satu tetes air mata jatuh di sebuah bingkai foto tersebut.


"Tenang nek, Aqila pasti baik-baik aja kok nek, dia pasti sembuh!" Balasku berusaha tuk menenangkan.


"Yakin? Aqila cucu nenek satu-satunya, nenek gak mau kehilangan dia, lebih baik nenek yang kecelakaan tadi jangan cucu nenek!"


"Nenek! Nenek gak boleh bicara seperti itu, Aqila....Aqila gak papa kok nek, kita lebih baik berdoa aja yah nek yah, semoga Aqila baik-baik aja!" Pintaku.


Aku tahu, nenek pasti akan sangat khawatir akan keadaan Aqila.


Disaat-saat seperti ini kita pasti akan sangat takut dan cemas, takut kalau dia akan pergi, takut dia akan menghilang, dan takut dia tidak akan bersama kita lagi!


Aqila!, Gua mohon jangan pergi, urusan kita belum selesai, masih ada seuntai kata yang ingin gua omongin ke Lo, kata yang gua pendam selama ini!


Tuhan, beri hamba mu in kesempatan!


/Kreeekkkk/ pintu ICU terbuka.


Kami semua langsung bergegas menghampiri dokter yang keluar dari ruangan tersebut, berharap dokter itu keluar dengan kabar yang kami inginkan.


"Gimana keadaan Aqila dok?" Tanyaku khawatir.


Dokter itu menghela lalu menggeleng pelan.


"Dia!"


/////////////////////


Assalamualaikum,


Hallo semua, makasih udah mau mampir, jangan lupa like koment dan votenya yah, Karna akan sangat membantu untuk eps selanjutnya.


Terimakasih 🥰😉😊.

__ADS_1


__ADS_2