Diary Love Andhika

Diary Love Andhika
Diary 52: Gagal uwu-uwu an.


__ADS_3


~Sesampainya di rumah Aqila...


"Cepet ketuk gih pintunya!" Suruh Emil.


"Yah lu lah, kan lu cewek!" Sahut Zen.


"Kok gua sih, Ran! ketuk gih, Lo kan temennya!" Balas Emil menyuruh.


"Eeemmmm harus Rani yah?"


"Iyah sayang kamu!" Gombal Ardy.


"Pepet terooosss!!!!" Sindir Zen.


"Udah gua aja, ketuk pintu apa susahnya sih!" Geramku.


"Ehem, calon mantu mau ketuk rumah mertua!!!" Ledek Ardy.


"Yah nih kap, tinggal seperangkat alat sholat nya aja yang kurang!" Tambah Zen memanasi.


Batinku yang hendak mengetuk pintu.


/Tok...tok...tok/ Mengetuk pintu.


"Iyah sebentar!" Sahut nenek Aqila dari dalam, sembari berjalan menuju pintu.


/Kreeekkkk/ membukakan...


"Eehhh ini ada apa?" Tanya nenek Aqila heran melihat kedatangan kami.


"Kami semua datang kesini, mau jenguk Aqila nek!" Jawab Emil sopan.


"Masya Allah, baik banget, yaudah kenapa diluar aja, sini yuk masuk, yuk jangan sungkan-sungkan!" Balas nenek Aqila mempersilahkan kami masuk.


/Di dalam rumah/


~Di depan kamar Aqila.


"Aqila ada di dalam kamar!, yuk masuk!"


/Kreeekkkk/ membuka pintu.


"Aqilaaaa, ada yang mau ketemu kamu nih!" Ujar nenek.


"Siapa nek?" Tanya Aqila yang sedang membaca komik itu.


"Nih, ayo masuk!"


Akhirnya kami semua pun masuk kedalam kamar Aqila, ku memasuki kamar paling akhir, aku bisa melihat raut wajah Aqila yang lumayan kaget melihat kedatanganku. Batin Aqila dengan detakan yang tak karuan.


"Yaudah kalian ngobrol-ngobrol dulu aja, nenek mau ke dapur dulu mau masak, yah!" Pamit nenek Aqila.


"Iyah neh, eh nek bentar!" Panggil Emil yang membuat langkah nenek terhenti.


"Iyah?" Tanya nenek Aqila.


"Kalau sudah selesai, nanti kita boleh pinjem dapurnya gak nek, kita juga udah bawa bahan-bahannya nih nek buat di masak, emmmm boleh kan nek?" Tanya Emil merasa tak enak.


"Owalah, ngapain pakek tunggu nanti, udah sekarang aja, kita masak bareng-bareng yuk!" Ajak nenek Aqila dengan senyum tuanya.


"Beneran nek boleh?" Tanya Emil sekali lagi.


"Iyah boleh, yuk!"


"Yeeyyyy, yuk Ran!" Girang Emil.


"Oke!" Jawab Rani yang hendak beranjak pergi, tapi /dep/ tangannya langsung diraih oleh Aqila.


"Rani, temenin aku disini!" Pinta Aqila memelas.


"Udah gak papa Aqila, disini kan ada kakak trio pangeran ini, gua mau masak bentar oke!" Balas Rani berusaha menyakinkan, lalu beranjak pergi menyusul Emil.


"Eh calon pacar tunggu gue!!!!!" Teriak Ardy yang lalu pergi menyusul ke dapur.


"Yaaaahhh gua ditinggal, kalau udah nemu target aja gencer ngejarnya, dasar Playboy kakap!" Decak Zen kesal.


"Yaudahlah Dhik (menepuk pundak), gua ikut ke dapur dulu yah!" Ujar Zen yang hendak pergi.


"Hm" dehamku.


"Eh kakak Zen mau kemana!" Tanya Aqila.


"Gua mau ke dapur dulu, lu disini aja ma Andhika, tenang dia gak bakal macem-macem kok sama orang sakit, oke, bye!!!!" Pamit Zen yang lalu pergi.


Batinku kesal.


Akhirnya di dalam sana cuma tertinggal aku dan Aqila saja, suasana sangat hening, kami berdua hanya diam tak bersuara sedikitpun.


Aqila tak mau menatapku sedikit pun, pandangannya hanya tertuju kepada sebuah apel yang berada di atas meja.


"Mau makan apel?" Tanyaku.


"Eh, apa kak?" Tanya Aqila linglung.


"Haaahhh (menghela), gua tanya, Lo mau makan apel!"


"Emmm...emmmm!" Deham Aqila mengangguk.

__ADS_1


"Yaudah gua kupasin!"


"Eh gak usah kak!" Larang Aqila.


Aku tak mendengar ucapannya, diriku langsung beranjak dari tempat duduk mengambil sebuah pisau dan sebuah apel di atas meja.


Ku kupas kulit apel tersebut sedikit demi sedikit, tapi entah kenapa diriku tak bisa fokus, dalam pikiranku masih terbayang akan kejadian kemarin, entah kenapa diriku merasa bersalah, Batinku menyalahkan diriku sendiri.


Hingga tak sadar, /Sret/ pisau tersebut menyayat jariku, hingga mengeluarkan darah.


"Ssshhhh!!!" Desisku kesakitan.


"Kak Andhika!!!!" Kaget Aqila yang langsung mengusap darahku menggunakan selimutnya.


"Bentar kak tunggu disini!" Suruh Aqila panik, dia langsung beranjak dari kasurnya, walau kepalanya masih terasa pusing, tapi dia bersikukuh untuk mengambil kotak obat.


~Setelah selesai....


Aqila langsung mengobati lukaku, sesekali aku mencuri pandang untuk melihat wajah manisnya.


"Kan Aqila udah bilang gak usah!" Ucap Aqila sedikit kesal.


"Sakit gak?" Tanya Aqila.


"Yah emang sakit, tapi gak papa lah!" Jawabku yang membuat Aqila sedikit bingung.


"Gak papa gimana, ini berdarah kak!"


"Gak papa kok, lebih baik luka daripada terus-terusan di cuekin sama lu, dicuekin itu juga sakit loh cuman gak berdarah tapi nusuk!" Lirihku.


"Hmp, udah kak udah, Aqila....Aqila udah selesai ngobatinnya!!!" Malu Aqila yang langsung cepat-cepat menyingkirkan tangannya.


Batinku tersenyum.


"Oh yah, gimana keadaan Lo sekarang?" Tanya ku.


"U...udah baikan kok kak!" Jawab Aqila gugup.


"Iyakah!" Diriku yang tak percaya akan ucapan Aqila itu, kuputuskan untuk mengangkat tanganku untuk menempelkannya di dahi Aqila, mengecek apakah masih demam atau tidak.


Tanganku mulai terangkat, Aqila yang menyadari hal itu, dia mulai menutup matanya rapat-rapat dengan detakan jantungnya yang berdegup kencang.


Aqila mulai merasakan tanganku yang semakin mendekat di dahinya, pikiran dan hati Aqila campur aduk, ia mulai berpikir aneh-aneh, dirinya berpikir kalau tangan ku yang hangat itu menempel di dahinya maka demam nya itu akan langsung hilang begitu saja.


Bagaikan obat yang amat ampuh, tanganku mulai mendekat, mulai mendekat....


"AQILA UWOEEEEE!!!!!" Teriak Emil sambil menggebrak pintu dengan membawa sepiring nasi goreng di tangannya.


Diriku yang mendengar suara itu langsung cepat-cepat kuturunkan tanganku, ku urungkan niatku itu. Begitupun juga dengan Aqila, yang awalnya dia terpejam erat menanti akan datangnya tanganku tuk menempel di dahinya, matanya langsung terbelalak kaget mendengar suara Emil.


Batinku kesal.


"Ini, gua masakin nasi goreng buat Lo, makan gih!" Suruh Emil sambil menyodorkan sepiring nasi goreng tersebut, yang di belakang disusul kedatangan Rani, Ardy, dan Zen.


"Jangan Aqila, rasanya itu......"


"Diem!!!!" Emil langsung memotong omongan Ardy yang hendak memberitahu kan sesuatu.


"Udah Aqila makan aja, gak usah dengerin syaiton nirojim itu!" Suruh Emil.


"I...Iyah kak!" Jawab Aqila ragu.


Aqila menatap sepiring nasi goreng itu lekat-lekat, dia mulai merasakan aura-aura aneh yang keluar dari nasi goreng itu.


Batin Aqila bingung, ia ragu untuk membuka mulutnya, memasukkan sesendok nasi goreng itu.


Tapi ia juga merasa kasihan, ia tak ingin membuat Emil kecewa, yang sudah menunggunya sedari tadi untuk mendengar ungkapan rasa atas makanan yang ia buat.


Batin Aqila yang berusaha membuang-buang semua pikiran jahat yang memenuhi pikirannya.


Sesuap nasi masuk kedalam mulut Aqila.


"Nyam!" Mengunyah.


/Menelan/


"Gimana Aqila?" Tanya Emil penasaran.


"Hihihi!" Tawa pelan Aqila.


"Lah kok malah ketawa sih?" Ujar Emil bingung.


"Kak Emil pengen kawin yah, kok asin banget nasi gorengnya!"


"Tuh kaaannnn, gua gak pingin kawin woy, daritadi ngapa sih pada bilang makanan gua asin, nasi goreng gua enak loh!" Balas Emil tak terima.


"Semua?, maksudnya kak?" Tanya balik Aqila.


"Yah semua!"


~Sesaat sebelumnya, di dapur...


"Niiihhhh, nasi goreng ala Emil udah jadi!!!" Ujar Emil sambil merasa puas akan hasilnya.


"Percuma kalo kelihatannya enak, tapi kalau rasanya gitu!" Lirih Ardy.


"Maksut Lo makanan gua rasanya gak enak!" Kesal Emil.


"Gua mana tahu, makanya kasih kita icip, biar kita tahu itu makanannya enak apa enggak!" Balas Ardy.

__ADS_1


"Oke, icip aja, nih!!!!" Ujar Emil.


Akhirnya mereka pun mencicipi hasil masakan Emil.


"Gimana?, pasti enak kan!" Ucap Emil begitu percaya diri.


"Hmp, lu kasih garem berapa, asin banget!" Decak Ardy.


"Lu mau racunin orang yah!" Umpat Zen.


"Kakak Emil pengen kawin yah!" Goda Rani.


"Hah kawin?, mana ada!" Jawab Emil terkejut.


"Owh, lu pengen kawin, sini biar gua jadi calon imamnya!" Gombal Ardy.


"Diem lu buaya 🐊!" Kesal Emil.


"Enak aja panggil gua buaya, emang buaya gak ada yang betina apa!" Sindir Ardy.


"Gua bukan pakgirl!" Bantah Emil.


"Iyakah?"


"Bucin teroossss!!!!" Sindir Zen.


"Iri bilang boss!!!" Sindir balik Ardy.


"Gak ada boss yang iri sama karyawannya, lagian ngapa gua harus iri, orang gua udah punya!" Jawab Zen dengan alasan yang logis.


"Nyesel gua gak ajak si Tasya, jadi gak bisa uwu-uwu an kan!" Sesal Zen.


"Apaan sih, gaje banget dah, udahlah gua mau ke kamar Aqila, mau kasih ini ke dia!" Ujar Emil yang hendak pergi.


"Makanan asin gitu mau di kasih orang sakit, bukan sembuh malah makin nambah penyakit!" Ledek Ardy.


"Yap bener, mending buang aja!" Tambah Zen.


"Cakepppp!!!!" Sahut Ardy.


"Yoi!" Balas Zen.


"Lu berdua hargai dikit kek gua masak, lagian ini gak asin kok, lidah lu berdua aja yang kemasukan aer selaut makanya asin!" Kesal Emil yang tidak mempedulikan ledekan mereka berdua, dan langsung berjalan menuju kamar Aqila.


////////////////


"Owh gitu kak" Ujar Aqila setelah mendengar cerita panjang kali lebar.


"He em!" Jawab Emil dengan bibir manyunnya.


"Tapi rasa nasi goreng kak Emil gak seburuk itu kok, enak!" Sahut Aqila.


"Beneran!" Jawab Emil berusaha memastikan, ia merasa bahwa mentari telah keluar dari tempat persembunyiannya setelah gelapnya malam.


"Iyah kak!"


"Huwaaaa, makasih yah Aqila, tuh apa gua bilang, makanan gua itu enak, lidah lu berdua aja yang bermasalah!" Balas Emil dengan menunjuk ke arah Zen dan Ardy.


"Dia gak ngerasa apa kalau Aqila cuma kepaksa ngomong gitu!" Bisik pelan Zen ke Ardy.


"Iyah bener lu, gua jadi kasihan sama dia, wajah cantik tapi orangnya gampang di bohongin!" Bisik balik Ardy.


"Yoi!"


//////////////////


Waktu terus berlalu, hingga kami semua memutuskan untuk pulang....


"Aqila, kita pulang dulu yah!" Pamit Ardy.


"Iyah kak, makasih yah semuanya udah sempetin kesini buat jenguk Aqila!" Ucap Aqila senang.


"Iyah, tenang aja kok Aqila, besok temen kita satu kelas bakal kesini buat jenguk juga kok!" Sahut Rani.


"Oke!"


"Yaudah, papay Aqila!!!" Pamit kami semua.


Satu persatu dari kami keluar dari kamar Aqila, dan kini giliran ku, tapi....


"Kak Andhika!" Panggil Aqila.


"Iyah!" Langkahku terhenti di depan pintu lalu menoleh ke arahnya.


"Aqila mau nanya, ap...apa bener kak Andhika suka sama Aqila?" Tanya Aqila gugup.


"/Tersenyum kecil/ melihat kelakuan gua selama ini ke Lo, menurut lu gimana?" Ku putar balikkan sendiri pertanyaan itu ke Aqila, lalu pergi keluar.


"Yah, hati Aqila mengatakan kalau kak Andhika, suka sama Aqila!" Gumam Aqila sambil memegang dadanya yang berdetak tak karuan.


~Diluar kamar Aqila.


Batinku tersenyum kecil.


///////////////


Assalamualaikum,


Hallo semua, makasih udah mau mampir, jangan lupa like koment dan votenya yah, karna akan sangat membantu untuk eps selanjutnya.

__ADS_1


Terima kasih 🥳🥰😉.


__ADS_2