
"Waaahhh, tim Andhika udah kembali, selamaattt," Ujar kak Faiz menyambut kedatangan kami bertiga.
"Gimana didalam sana seru, menakutkan, atau ada kejutan lain?," Tanya kak Faiz.
"Gak ada apa-apa kok kak, semuanya biasa aja," Jawab Ardy sambil melipat kedua tangannya.
"Iyah kak, biasa aja nih," Sahut Zen.
batin ku heran melihat kelakuan mereka.
"Eemmmm, terus habis ini kita ngapain kak?," Tanya ku.
"Gimana yah, kita semua masih nungguin satu tim nih, gak balik-balik daritadi," Jawab kak Faiz.
"Tim?, tim yang mana kak?," Tanyaku lagi.
"Tim tiga, Emil sama Aqila, hmmmm kita tunggu sebentar lagi yah!!!," Balas kak Faiz.
"Kok belum balik sih, bukannya mereka itu tim ketiga yah, harusnya kan dari awal tadi udah balik," Heran Ardy.
"Dhik?," Panggil Zen.
"Yah, moga aja mereka gak tersesat," Balasku.
batin ku heran.
Sedangkan didalam hutan sana...
Di dekat jurang....
"Gi...gimana nih, gue harus ngapain, ck Aqila pake nyemplung ke jurang lagi," Panik Emil.
batin Emil.
"Yah...gu..gue harus segera pergi dari sini, biar entar kalo seumpama ada yang nemuin gue, gue tinggal bilang aja ke mereka kalau gue tersesat, yah..yah," Ujar Emil yang lalu berlari pergi.
Sedangkan di area perkemahan...
"Kak ini udah lima belas menit lebih, sebaiknya kita pergi nyari kedalem!," Pintaku.
"Baik, semuanya kita sama-sama nyari Emil sama Aqila yah!!!," Suruh kak Faiz.
"Oke kak," Jawab kami semua serentak.
Di dalam hutan sana...
"Aqilaaaa!!!,"
__ADS_1
"Emiiillll!!!,"
"Oooyyyy kalian dimana!!!????,"
Kami semua terus mencari di dalam sana, berusaha menemukan mereka berdua.
"Hah, ini udah jauh, kenapa masih belum ketemu juga sih?," Ujarku kebingungan.
Sedangkan dari arah lain....
Wuusshh...wuusshh...wwuussshh
Emil berlari begitu cepat, berusaha mencari jalan kembali ke area perkemahan.
/Buk/ menabrak...
"Aawww," Rintih Emil kesakitan, sambil mengelus-ngelus kepalanya sehabis menabrak punggungku.
/Sret/ Berbalik.
Ku arahkan senterku ke arahnya...
"Aawwww, hey, silau kali," Ujar Emil sembari menutupi matanya.
"E..emil!!!," Ujarku kaget.
"Andhika, aku takut,"
"I...iyah iyah, sekarang lo udah aman, gak papa," Ujar ku yang berusaha menenangkan.
"Oh yah, lo darimana aja, sama....dimana Aqila?," Tanyaku.
batin Emil.
"Gu...gue gak tahu, ta...tadi kita tersesat te..terus ke pisah, jadi gak tahu deh sekarang Aqila kemana," Jawab Emil.
"Gitu?," Sahutku.
"I...iyah, tapi untungnya sekarang gue bisa ketemu sama lo," Sambung Emil dengan mempererat pelukannya.
"Lu bohong!!!," Ujarku dengan nada tajam, melepaskan pelukannya.
"Bo...bohong, gu..gue jujur kok," Ujar Emil terbata.
"Iyakah?, kalau lo jujur kenapa nada suara lo harus takut setiap gue tanya soal Aqila, dan di hutan ini, tanda yang dikasih sama kak Faiz juga lumayan jelas, jadi gak mungkin buat kita semua tersesat,"
"Jadi sekali lagi gue tanya, dimana Aqila?," Sambungku dengan nada serius.
batin Emil gelisah.
__ADS_1
"Gu...gue beneran gak tahu," Jawab Emil.
"Haaahhh, gue tanya sekali lagi, dimana Aqila,"
"Gue gak tahu Dhika, ketimbang bingung nyariin Aqila lebih baik kita kembali ke perkemahan, inget gue ini abis tersesat abis ketakutan, dan lo malah mikirin Aqila sih,"
"Gue cari sendiri, dan kalo lo mau balik, jalan aja kesana ikutin tuh tanda, pasti lo bisa balik," Balasku yang hendak pergi.
"AQILA JATUH KE JURANG!!!!," Teriak Emil sambil menangis.
Seketika langkahku terhenti...
"Apa...apa lo bilang!!!!," Tanyaku kaget.
"Yah...di..dia jatuh ke jurang hiks, i...ini semua salah gue, gue seharusnya nolong dia waktu itu," Ujar Emil.
"A...apa, kalian ngapain kesana hah, kenapa gak ngikutin tanda?," Ujarku dengan nada kesal memegang erat pundak Emil.
"Ta...tadi,"
Akhirnya Emil menceritakan semua kejadian tadi disaat dia sedang bersama Aqila.
"APA LO UDAH GILA, kenapa lo gak nolongin dia?," Ujarku semakin kesal.
"Gu...gue ngelakuin ini semua demi kita Andhika, demi kita," Balas Emil.
"Demi apa, dia itu masih kecil Emil, dan lo itu sebagai kakak kelas seharusnya lo itu bisa jagain dia,"
"INI SEMUA GUE LAKUIN KARNA GUE SUKA SAMA LO DHIKA!!!, hiks, gu...gue itu suka sama lo, dan...dan gue pikir dengan hilangnya Aqila, gue bisa deket sama lo lagi kayak dulu,"
batinku tertegun.
"Tapi gue gak pernah suka sama lo," Sahutku tajam.
"Apa?," Ujar Emil tertegun.
"Sebaiknya gue pergi nyari Aqila (berbalik), inget, kalau sampe terjadi sesuatu ke Aqila, lo yang harus bertanggung jawab!!!," Lirih ku tajam, yang lalu berlari menuju area dekat jurang tersebut.
"Haha...hahaha, hiks hiks, hiks," Tangis Emil.
batin Emil.
////////////////
Assalamualaikum kak,
Makasih udah mau mampir yah, jangan lupa like, koment dan votenya, karena akan sangat membantu untuk eps selanjutnya.
Terima kasih (◍•ᴗ•◍)❤
__ADS_1