Diary Love Andhika

Diary Love Andhika
Diary 58: Isyarat mimpi.


__ADS_3


Kami terus berusaha untuk menyelidiki kasus tentang kecelakaan Aqila.


Satu demi satu bukti kami temukan, dan memang terbukti bahwa memang Kiyara dan sekongkolannya lah (Leon) dalang dibalik semua ini.


Kami menangkap basah mereka berdua di kafe, saat itu Kiyara yang sedang memberikan sejumlah uang kepada Leon karna telah melakukan tugasnya.


Gila, cinta memang gila....


Bisa mengubah seseorang menjadi buas, dalam hitungan detik!


Kami bersama para polisi sudah menangkap Leon yang sudah menjadi buronan itu, dan si Kiyara yang mempunyai akal busuk dibalik semua ini.


Karma itu ada kawan!


///////////////////


Beberapa hari kemudian...


Aku terus mengunjungi Aqila, setiap kali ku membuka pintu kamar pasien Aqila, aku selalu berharap bahwa dia akan menyambut ku dengan senyum hangatnya...


Tapi, dia masih saja tertidur dan tak bangun sedikit pun.


Dia tertidur seperti damai dan tentram, seperti merasa nyaman di tidurnya!


~Rumah Andhika


•Kamar Andhika•


Malam itu setelah usainya kasus Aqila, disisi lain aku merasa lega dan disisi lain juga merasa khawatir, karna dia masih belum bangun juga dari komanya.


Ku tenggelamkan kepalaku di bantal, bersiap untuk tidur.


××××××××××××


"Kak, kakak?" Samar-samar ku mendengar suara seorang wanita memanggil namaku.


"Kak, kakak!, Kak Andhika!"


Tapi anehnya, suara itu terdengar sangat familiar!


Perlahan ku membuka mataku, yang sudah disambut dengan wajah wanita cantik dan senyum manisnya itu.


"AQILA!" Balasku tersentak kaget.


Aqila, bukankah sekarang dia sedang tertidur lemah di rumah sakit, bukankah sekarang dia sedang mengalami koma?


Bagaimana bisa, sekarang dia sedang berdiri tersenyum ceria, layaknya tidak ada apa-apa!


"Aqila, Lo...Lo kok disini sih, bu.. bukannya sekarang Lo lagi dirumah sakit?" Tanyaku bingung.


Aqila merespon dengan menggeleng pelan.

__ADS_1


"Em, kakak Andhika, temenin Aqila yuk!" Ajaknya.


"Temenin kemana?" Tanyaku yang masih bingung.


"Temenin Aqila jalan-jalan di taman bunga, yuk!"


Aku tak bisa berpikir panjang, kepalaku langsung mengangguk saja.


Seperti, aku ingin jalan dan pergi bersamanya.


~Taman bunga.


Ku berjalan bersama dengannya, beriringan mensejajarkan langkah layaknya seorang sepasang kekasih.


Senang, yah diriku merasa sangat senang, tapi entah kenapa jauh didalam lubuk hati gua, ada rasa sedih.


Didalam pikiranku terus bertanya-tanya,


Kenapa Aqila disini?


Kenapa gua bisa jalan sama dia?


Ini dimana?


Dan kenapa, dia....sangat bahagia disini?


Semua pertanyaan itulah yang membuat ku bingung hingga sekarang, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Aqila.


/Dep/ ku memegang tangannya, sehingga membuat langkah Aqila terhenti.


"Aqila, gua mau tanya, Lo...Lo kenapa bisa ada disini, bukannya sekarang Lo lagi di rumah sakit?"


"Aqila masih disana kok kak!"


Batinku sedikit terkejut.


"Mak...maksud Lo apa?" Tanyaku lagi.


"Kakak, makasih yah udah mau jadi kakak nyata Aqila, dan makasih juga, udah mau jadi orang pertama yang mau jadi teman Aqila!" Balas Aqila yang membuatku semakin bingung.


Tapi entah kenapa, dada gua rasanya sesak, sakit, gua rasa itu bukan sebuah ucapan terimakasih, tapi malah sebuah ucapan perpisahan!


"Aqila, Lo ngomong apa?" Tanyaku.


"Aqila ngomong apa yang Aqila bisa, kakak, Aqila pamit yah!"


Pa... pamit?


Aku langsung menggandeng tangannya, menariknya, mengajaknya untuk pergi.


"Gak, gua akan bawa Lo keluar dari sini!" Sahutku tajam.


Tapi Aqila tetap diam, tak mau bergerak, dan perlahan melepaskan genggaman ku.

__ADS_1


"Kakak, ini dunia Aqila, sekarang tempat Aqila disini, bukan disana!"


"Enggak, Aqila, tempat Lo itu disana, bukan disini, inget Aqila Lo gak mau ketemu sama nenek Lo lagi, Lo udah gak sayang sama dia!" Balasku sedikit keras.


Sekali lagi Aqila hanya bisa membalas dengan menggelengkan kepalanya.


"Sayang!, yah Aqila memang sayang sama nenek, tapi /air mata menetes/ mau gimana lagi kak!"


"Aqila sudah bahagia disini, disini gak ada bullyan, disini gak ada kebencian, disini gak ada teroran, dan /menjeda/ disini Aqila bahagia!" Sambung Aqila menengadah menghadap langit keorenan itu sambil tersenyum.


/Tes...tes..tes/ menangis, entah kenapa tiba-tiba gua nangis, kenapa?, kenapa?


Aqila perlahan berjalan mendekati ku.


/Sret/ Aqila menghapus air mata di pipiku dengan tangannya.


"Kakak, laki-laki itu gak boleh nangis?" Ujar Aqila.


Ku pegang tangannya yang masih menempel di pipiku.


"Aqila, jangan pergi, gua mohon!" Pintaku, cairan bening itu tak bisa berhenti untuk keluar dan terus mengalir melewati pipiku.


"Gua mohon jangan pergi!" Pintaku dengan menggenggam erat tangannya yang masih menempel di pipiku.


"Apa Lo gak kasihan sama gua sedikitpun?" Tanyaku.


"/Tersenyum kecil/ Kakak, makasih yah udah nangis buat Aqila, sama makasih buat semuanya, semoga kakak bisa nemuin pasangan yang terbaik disisi kakak!"


Aqila menjinjitkan kakinya, mendekati telingaku dan berbisik.


"Selamat tinggal kakak Andhika!"


××××××××××××


"AQILA!!!!" Aku langsung terbangun dari tidur dengan keringat yang bercucuran.


Tapi masih terasa hangat dipipiku, "Ini seperti nyata!" Ujar ku sambil memegang pipiku itu.


Mati?, apa Aqila beneran bakal mati?


"Enggak, dia gak boleh mati!" Ucapku tak terima sambil meremas dadaku.


"Hiks, hiks, hiks"


Sekali lagi gua nangis, sekali lagi cowo ini nangis.


"Aqila, Lo gak boleh mati!"


///////////////


Assalamualaikum,


Makasih udah mau mampir, jangan lupa untuk like koment dan votenya yah, Karna akan sangat membantu untuk eps selanjutnya.

__ADS_1


Terimakasih 🥰😉😊.


__ADS_2