
Keesokan harinya...
Kami semua memutuskan untuk masak bersama menggunakan api unggun.
"Eh Ar napa mata lo, mirip panda," ledek Zen.
Sejak pulang dari sungai Ardy tak dapat tidur sedikitpun, di pikirannya masih terngiang sosok itu.
"Berisik lu," Sahut Ardy kesal.
"Ish gitu amat jadi orang," Balas Zen.
"Eh Dhik, kayunya kayaknya udah mo abis nih, kita cari kayu yuk!!!," Ajak Zen.
"Hm," Dehamku.
"Eh hati-hati loh, di dalem sana ada kuntilanak," Ujar Ardy dengan nada menakuti.
"Mana ada setan di pagi buta gini," Sahut Zen.
"Ada kok, coba tanya ke Andhika!!!," Balas Ardy.
"Emang iyah Dhik?," Tanya Zen.
"Au, kemarin perasaan gue gak lihat apa-apa," Jawabku.
"Tuh gak ada," Ujar Zen.
"Yaudah lah, yok Dhik!!," Sambung Zen.
"Oke," Balasku.
"Ya iyalah, mana Andhika bisa tahu, orang tadi malem aja jalannya kayak mayat idup," Gerutu Ardy.
batin Ardy.
///////////////
Waktu terus berlalu hingga malam pun datang....
__ADS_1
[Di area api unggun]
batin Zen yang merindukan kucingnya.
Sedangkan di rumah Zen, tepatnya di kamarnya...
"Meow meow meow meow," Ujar oyen.
Terjemahan kucing: mumpung si tuan lagi pergi, enak nih tidur di kasur, empuk lagi.
"Meow meow meow meow, meow meow,"
Terjemahan kucing: Tiap hari tidur di lantai mulu, sekali-kali lah jadi raja, biar si tuan di hutan kedinginan end ketakutan, oyen disini jadi raja bentar.
[Di area perkemahan]
"Hallo anak-anak semua, malam ini kita gak akan cerita pasal cerita seram lagi, karna hari ini kakak akan memberikan sebuah tantangan kepada kalian," Ujar kak Faiz.
"Apa kak???," Tanya salah satu anak.
"Tantangan kali ini adalah, mencari jejak," Sambung kak Faiz antusias.
"Ar, lu ngapain sih," senggolku heran.
"Jangan dong kak, di dalem sana ada kuntilanak entar kalo ketemu gimana, tantangan mencari cicak aja yah!," Sambung Ardy.
"Iiiiuuwwww, lo aja kali,"
"Yah kita ma ogah," Geli semua anak perempuan.
"Udah-udah, Ardy tenang yah, di hutan gak ada apa-apa kok," Ujar kak Faiz.
batin Ardy kesal.
batin Emil dengan melirik jahat ke arah Aqila.
"Baiklah semuanya, kakak sudah buat daftar anaknya, masing-masing dua anak, dan kalian akan berbekalan senter dan yang paling penting adalah keberanian, dua bekal ini yang akan mampu membawa kalian keluar dari dalam sana," Ujar kak Faiz menjelaskan.
"Entar kalo baterai senternya abis gimana?," Tanya Ardy.
batin ku.
__ADS_1
"Tenang, kakak udah ganti baru kok baterainya, jadi gak usah takut," Balas kak Faiz.
"Didalam hutan sana kakak udah kasih tanda-tanda disetiap titik, jadi kalian tinggal mengikuti, oke daripada kelamaan, kakak panggil tiga tim dulu yah,"
"Tim pertama Siska dan Rani, tim kedua Laura dan Lia, tim ketiga Aqila dan Emil," Sambung kak Faiz.
Aku langsung kaget, mendengar Aqila satu tim dengan Emil.
"Yang sudah dipanggil silahkan maju kedepan!!!," Suruh kak Faiz.
Setelah selesai...
Batin Aqila.
Aku terus menatap tajam ke arah Emil seakan memberi peringatan kepadanya.
Emil yang sedari tadi tersenyum jahat ke arah Aqila, lalu ia menyadari tatapanku dan langsung mengganti senyumannya itu dengan senyum manis memegang lembut tangan Aqila layaknya tidak ada apa-apa.
"Aqila, entar kalo kamu takut tenang aja yah, ada aku kok," Ujar Emil tersenyum manis.
"I...iyah kak," Jawab Aqila.
batin Aqila merasa ganjal.
"Kita nanti pasti bisa oke," Ujar Emil yang masih terpampang senyum manis itu.
batin Emil.
"Eh tumben Emil deket gitu ke Aqila?," Bisik Zen.
"Hm," Dehamku.
batinku setengah khawatir.
//////////////
Assalamualaikum,
Hallo semua, makasih udah mau mampir, jangan lupa like coment dan vote nya yah, karna akan sangat membantu untuk eps selanjutnya.
Terimakasih (◍•ᴗ•◍)❤
__ADS_1