
Keesokan harinya...
Hari ini adalah hari terakhir kami berkemah, jadi bu guru menyuruh kepada kami semua untuk segera membereskan tenda kemah dan setelah selesai berkumpul membentuk barisan untuk bersiap pulang.
/Dalam barisan/
Diriku terheran melihat Ardy dan Zen tertawa kecil tak henti.
"Eh lu berdua napa sih?," Tanya ku heran.
"Enggaaakkkk, enggak papa kok," Jawab Zen.
"Iyah, gak papa kok Dhik!," Sahut Ardy.
batinku.
"Eh Ar!," Bisik Zen sambil menyenggol Ardy pelan.
"Apa?," Balas Ardy.
"Emang gak papa yah kita share foto canditannya Dhika ke grup kelas?,"
"Udah gak papa, sekali-kali kan,"
"Gue takut nih, entar kalo dia marah gimana?," Khawatir Zen.
"Lu takut amat sih, udah gak papa, Andhika itu anaknya baek kok, pemaaf dia, walau keliatannya serem," Bisik balik Ardy.
"Awas aja yah kalo sampe Andhika marah, lu yang gue salahin!,"
"Loh, kok jadi gue sih?,"
"Yah Lo lah, kan ini ide lo!," Balas Zen.
"Udah diem, dengerin tuh Bu guru ngomong!," Suruh Ardy.
"Alhamdulillah, akhirnya hari berkemah kita sudah selesai, dan sekarang sudah waktunya untuk pulang, tapi!, sebelum kita pulang mungkin ada kata-kata sedikit dari kak Faiz!," Ujar bu guru mempersilahkan.
"Oke anak-anak, gak terasa yah, hari ini kita harus berpisah, tapi saya harap kalian mendapatkan pengalaman, keseruan, dan hal-hal yang baru lainnya dari kakak dan juga selama perkemahan ini,"
"Dan pesan yang bisa kakak sampaikan adalah, semoga kalian anak SMA Garuda Sakti semakin berjaya, jadi anak yang pintar, dan dapat menjadi orang yang berguna bagi semuanya," Sambung kak Faiz.
"Amiiinnnn," Sahut kami semua.
Prok...prok...prok /riuh suara tepuk tangan/
"Makasih kak Faiz, jadi anak-anak karena tadi ibu sudah di telpon kalau busnya sudah sampai, jadi sebelum kita berangkat lebih bagus kalau kita berdoa terlebih dahulu, berdoa mulai!!!," Ujar bu guru.
/Setelah selesai/
Kami semua segera kembali menuju bus kami masing-masing.
(Bus 3)
(Tempat duduk bus, Aqila dan Andhika)
"Aqila mana yah, kok belum masuk ke bus?," Ujar ku bertanya-tanya.
"Semua pada kenapa sih, kok pada ngelihatin gue mulu," Gumamku risih melihat tatapan aneh mereka.
"Hai Andhika imut!," Sapa seorang siswa sambil menepuk pundak ku lalu melanjutkan jalannya.
__ADS_1
Batinku heran.
"Kang tamvan, lu masih punya cemilan gak?," Tanya seorang siswa.
Batinku.
"Ada, emang kenapa?," Tanyaku balik.
"Bagi hijilah!,"
"Oke gue kasih, tapi lu kasih tahu gue dulu, kenapa lu panggil gue kayak gitu tadi?," Tanyaku.
"Emang kenapa?, foto lu emang tamvan kok, eh bentar lu kok gak tahu sih, coba deh lu cek di grup kelas!," Balas seorang siswa tersebut.
Batinku yang makin penasaran.
"Oke, nih!," Ucapku lalu memberikan makanan ringan kepada anak tersebut.
"Makasih kang tamvan ku," Balas siswa tersebut.
"Hm," dehamku.
Aku langsung cepat-cepat mengecek ke grup kelas sesuai perkataannya.
/Tap/ membuka grup kelas.
batinku kaget melihat fotoku yang terpampang di grup kelas.
/Grup kelas 11 B uwuπ€/
π€ Zen: Kang imot and Tamvan cu...
π€ Siswi 1: Kyaaa Andhika gans banget sih!
π€ Siswa 2: Imutnya π.
π€ Siswa 2: Babang aku itu mahπ
π€ Siswa 3: Andhika kasih tips biar bisa jadi coganπ€£
π€ Siswi 3: Gak bakal gua hapus ini mahπ
Batinku kesal dengan kepala yang sudah mengepul asap.
/Memanggil/
β’Zen si pepesπ‘β’
Aku tak pikir panjang dan langsung menelpon Zen.
(Bus 5)
"Eh Zen, lu kok diem bae sih, sini nih banyak musuh, bantuin!," Pinta Ardy yang sedang sibuk main game online dengan Zen.
"Oke-oke gue otw," Balas Zen.
Drrrtt..drrrtt..drrrtt /getar ponsel Zen/
/Panggilan telepon masuk/
β’Andhika ululuπ€Έβ’
__ADS_1
Batin Zen heran.
"Eh Zen tolongin-tolongin, oy, ah, tuh kan gue mati," Decak Ardy.
"Lu kok gak bantuin gue sih?," Tanya Ardy kesal.
"DIEM, nih Andhika telepon gue mulu nih, jarang-jarang tahu dia nyepam telepon ke gua?," Heran Zen.
"Yaudah angkat aja kali!," Suruh Ardy.
"Hmmmm," Deham Zen berpikir.
/Tut/
π Andhika: ZEN, lu ngapa ngirim foto gua ke grup hah, jelasin sekarang!
"Andhika napa sih?," Heran Ardy melihat Zen yang menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Napa-napa, ini semua salah lo tahu gak, Andhika marah nih!," Sahut Zen.
"What dia ngamuk?," Syok Ardy.
π Andhika: WOY, jawab gue, ini pasti kerjaan lu berdua kan???
Sret /Ardy langsung menyahut ponsel itu dari tangan Zen/
π Ardy: Dhika, jangan marah lah!
π Andhika: Diem!
π Ardy: I..ini bukan salah gua kok, ini semua salah Zen, dia yang nyuruh gua semalem!
/Pit/ Zen langsung mencubit paha Ardy.
"Oy sakit!," Ucap Ardy kesakitan sambil mengelus-elus pahanya itu.
"Zen Zen, enak bener yah monyong lu kalau ngomong, mau gue gundulin lu, sini'in ponsel gua!," Ujar Zen yang langsung menyahut ponselnya tersebut.
π Zen: Andhika ku jangan marah dong, lu..lu mau apa deh kita turutin sekarang!
π Andhika: Gua mau, lu hapus semua foto gue yang udah kesebar di masing-masing ponsel semua anak!
π Zen dan Ardy: Haaaahhhhh!!!!!
π Ardy: Yang lain dong Dhik, itu susah banget!
π Andhika: Itu yang gua minta, titik!
/Tut/ Panggilan diakhiri.
"Dhik, Dhik!," Ujar Zen.
"Yaaahh di mati'in Ar, gimana nih?," Gelisah Zen.
"Gimana yah, hmmmmm," Balas Ardy berpikir.
//////////////
Assalamualaikum kak,
Makasih udah mau mampir yah, jangan lupa like koment, dan votenya yah, karena akan sangat membantu untuk eps selanjutnya.
Terimakasih (ββ’α΄β’β)β€
__ADS_1