Diary Love Andhika

Diary Love Andhika
Diary 59: sudah terlambat.


__ADS_3


Drrrtt...drrrtt...drrrtt /getar ponsel Andhika/


β€’Nenek Aqilaβ€’


/Panggilan masuk/


Batinku heran.


/Mengangkat/


πŸ“ž (Andhika): Assalamualaikum nek?


πŸ“ž (Nenek Aqila): waalaikumussalam, nak Andhika hiks hiks hiks!


Batinku kebingungan bercampur rasa takut.


πŸ“ž (Andhika): Nek!, nenek kenapa?, semua....semua baik-baik aja kan nek?


πŸ“ž (Nenek Aqila): Nak Andhika, Aqila...cucu...cucu nenek hiks!



πŸ“ž (Andhika): Aqila....Aqila kenapa nek?


πŸ“ž (Nenek Aqila): Aqila sekarang keadaannya sangat kritis nak, dokter lagi sibuk nanganin Aqila sekarang, nenek takut nak hiks!


Batinku dengan keringat dingin.


πŸ“ž (Andhika): Nenek, nenek gak usah khawatir, Andhika bakal kesana sekarang, tunggu bentar yah nek!


πŸ“ž (Nenek Aqila): Iyah nak!


/Tut/ menutup telepon.


Aku langsung bergegas untuk pergi ke rumah sakit, ku kirimkan pesan singkat ke Zen kalau gua akan pergi kesana buat nemuin Aqila yang keadaannya lagi kritis.


"Andhika, mau kemana malem-malem gini?" Tanya bunda Andhika yang sibuk melihat ku hendak mengeluarkan sepeda motor.


"Andhika ada perlu bentar Bun di rumah sakit, temen Andhika lagi kritis!" Jawabku dengan sibuk memakai jaket kulit coklat milikku.


"Apa?, moga-moga temen kamu gak kenapa-kenapa yah, yaudah cepet berangkat sana!"


"Iyah Bun!" Jawabku sambil menyalami tangan bunda mencium punggung tangannya.


"Hati-hati yah!"


"Iyah Bun!" Balasku sambil sibuk memakai helm.


Brrmmm....brrmm /menyalakan sepeda motor/


Aku langsung berangkat menaiki sepeda motor dengan kecepatan tinggi.


~Sesampainya di rumah sakit.


Aku langsung bergegas memasuki rumah sakit, berlari sekencang-kencangnya menuju kamar pasien Aqila.

__ADS_1


****************


Sesampainya disana, aku hanya bisa melihat nenek Aqila sedang jalan mondar-mandir kesana kemari, gelisah akan keadaan cucunya.


"Nenek!" Panggilku menghampiri.


"Nak Andhika!" Balas nenek Aqila yang langsung memegang tangan kananku.


Aku bisa merasakan tangannya yang bergemetar, dan keringat dingin, mata nenek Aqila juga sembab akibat menangis.


"Nenek, gimana keadaan Aqila?" Tanyaku khawatir.


"Aqila masih ditangani dokter, nenek....nenek gak tahu nak!" Balas nenek Aqila.


"Yaudah, nenek mendingan duduk dulu aja yah, tenangin pikiran nenek dulu, kita sama-sama berdoa, semoga Aqila baik-baik aja!" Ucapku mencoba menenangkan.


Setengah jam...


Satu jam...


Hingga satu setengah jam dokter masih belum keluar, kami terus berdoa berharap semoga Aqila baik-baik saja dan segera sadar.


Hingga.....


/Kreeekkkk/ pintu terbuka.


Aku dan nenek Aqila langsung berdiri bergegas menghampiri dokter.


"Dok!, bagaimana keadaan cucu saya dok?" Tanya nenek Aqila khawatir.


"Cu...cucu nenek!" Balas dokter ragu.


"Hmmmmm!" Deham dokter dengan raut wajah sedih.


Aku mulai geram dengan dokter yang lama untuk memberikan jawaban, bola mataku ku alihkan kedalam kamar pasien Aqila.


Mataku terbelalak melihat wajah Aqila yang sudah tertutup kain putih.


"DOK!, kenapa wajah Aqila ditutup kain putih dok, itu...itu maksutnya apa!" Tanyaku sedikit keras.


"/Menghela/ kami, sudah berusaha semampunya nek!" Jawab dokter merasa tak enak.


"Mak....maksud dokter apa!" Tanya nenek Aqila dengan linang air mata.


"Cucu nenek, maksut saya Aqila, dia....dia sudah meninggal!" Jawab dokter yang seketika membuat diriku mematung.


Mati!


APA MATI!!!


Aku tak menghiraukan apa yang dokter katakan, gua langsung masuk kedalam kamar pasien Aqila, diriku memegang pundaknya menggoyang-goyangkan badannya, mencoba tuk membangunkan dirinya.


"Aqila....Aqila bangun!" Panggilku terus menerus.


Gua tahu dia udah mati.


Denyut nadi Aqila udah gak berdetak lagi, tapi entah kenapa, tangan dan mulut gua gak bisa berhenti buat ngebangunin dia.

__ADS_1


Seperti, gua gak terima kalau dia mati!


Batinku menyesal.


"Udah nak udah!" Sahut nenek Aqila mencoba menenangkan diriku.


"Permisi, tolong keluar sebentar yah, kami harus mengurus ini sebentar!" Suruh suster.


Aku dan nenek Aqila keluar dari ruangan seperti yang dikatakan suster, tapi hati gua rasanya berat, tangan gua pengen terus genggam jemari Aqila, badan gua pengen terus ada disampingnya, suara gua pengen terus gua keluarin nyebut namanya berharap dia bangun.


Gua, pengen terus ada disisinya untuk yang terakhir kalinya!


~Di luar kamar pasien.


"Hosh hosh, Andhikaaaa maap gua telat!" Teriak Zen berlari menghampiri dengan dibelakang disusul Ardy.


"Haaaahh haaahhh, gimana...gimana keadaannya Aqila?" Tanya Zen ngos-ngosan.


"Yah nih, gimana keadaannya?" Sahut Ardy ngos-ngosan.


"Mati!" Jawabku dengan tatapan kosong.


"Apa?" Tanya Zen pengok.


"Mati!, Aqila mati!"


"APA!!!" Jawab Zen dan Ardy dengan mata terbelalak.


Mati!


Sekarang dia sudah gak ada lagi!


Gua nyesel!, seharusnya dimimpi tadi gua paksa dia buat kembali sama gua!


Takdir?


Apa ini takdir?, Kenapa takdir gak mau nyatuin gua sama Aqila?


Terlambat!


Semua sudah terlambat, terlambat buat ngungkapin semua isi hati gua ke dia!


Aqila, gua sayang sama lo!


Aqila, gua cinta sama lo!


Gua mau hubungan kita lebih darikata kakak dan adik!


Terlambat, semua udah terlambat!


Benci!, Gua benci sama semua ini!


/////////////////


Assalamualaikum, halo semua


Sampai disini dulu yah episodenya.

__ADS_1


Makasih udah mau mampir, jangan lupa untuk like koment dan votenya yah, Karna akan sangat membantu untuk eps selanjutnya.


Terimakasih πŸ₯°πŸ˜‰πŸ˜Š.


__ADS_2