DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Menerima Salah


__ADS_3

Dalam rasa kalut yang diselimuti penyesalan akhirnya membuat Xi nekat untuk mendobrak pintunya. Dan dalam beberapa kali dobrakan, akhirnya pintu kamar Ara mampu terbuka. Di saat itulah Ara terkejut dengan kedatangan Xi lagi. Ia begitu takut setakut-takunya. Ara pun segera berlari ke luar teras kastilnya.


"Pergi! Aku tidak mau melihatmu lagi!" Ara pun marah melihat Xi.


"Ara ... aku bisa jelaskan ini semua. Tolong beri aku kesempatan." Xi bicara pelan-pelan.


"Jangan melangkah. Jika kau melangkah, aku akan terjun ke bawah!" Ara pun memundurkan langkah kakinya. Ia sudah di ujung rasa was-wasnya.


Xi menelan ludah. Apa yang diharapkannya ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan. Xi pikir setelah apa yang terjadi di kolam bisa membuat Ara terikat dengannya. Tapi nyatanya Ara malah ketakutan.

__ADS_1


"Baik. Baik. Aku akan pergi. Tapi tolong jangan bertindak gegabah." Xi pun khawatir Ara benar-benar meloncat dari teras lantai dua kamarnya.


"Pergi!!!" Ara pun berteriak lagi.


Kali ini Xi dibuat tak berdaya. Ia pun tidak berani melangkahkan kaki untuk mendekati Ara. Pada akhirnya Xi mengalah. Ia keluar kamar, menutup pintu yang sudah tidak bisa terkunci lagi. Xi pun kembali ke kamarnya.


Setengah jam kemudian...


Xi meminta pelayan untuk melakukan perawatan tubuh terhadap Ara. Ia juga meminta Ara diantarkan setelahnya. Dan ia juga yang meminta pelayan agar menceburkan Ara ke kolam. Semua itu tak lain agar ia bisa berduaan dengan Ara. Xi sudah tidak dapat lagi menahan dirinya. Tapi karena kejadian itu jugalah yang membuatnya tak lagi bisa menemui Ara.

__ADS_1


Dia marah padaku. Dia marah besar. Dan kini tidak mau bertemu lagi denganku. Apa yang harus kulakukan?


Hangat napas itu, bibir lembut itu, kulit yang putih bersih dan kenyal membuat Xi terlena dengan semuanya. Ia tidak mampu menahan gejolak api yang ada di tubuhnya. Xi pun terus menciumi Ara. Menikmati setiap inchi dari permukaan kulit yang lembut itu. Tanpa peduli lagi terhadap penolakan yang Ara berikan padanya.


Desah indah bercampur dengan raut wajah imut itu ingin selalu ia lihat. Xi kecanduan akan Ara. Ia bingung untuk mengartikan hatinya. Benarkah ini cinta? Atau sekedar nafsu belaka? Selama ini Xi memang dekat dengan banyak wanita. Tapi ciumannya hanya jatuh ke Ara. Daya tarik Ara begitu besar hingga mencengkeramnya sampai tidak lagi memberi kebebasan untuk bernapas. Ara bagaikan udara yang selalu ia butuhkan di setiap detiknya.


Kini pangeran Arthemis itu melamun di dalam kamarnya. Kakinya ingin melangkah untuk menemui Ara. Tapi otaknya mengingatkan jika hal itu tidak mungkin ia lakukan. Ara saat ini sedang marah semarah-marahnya. Xi pun tidak mungkin memaksakan kehendak agar menerimanya. Ia hanya bisa menunggu dan terus menunggu sampai amarah itu mereda.


Sementara itu...

__ADS_1


Pencarian akan Ara terus dilakukan. Tapi sayang seribu kali sayang, Ara tidak juga ditemukan. Para prajurit, pelayan, bahkan pejabat tinggi istana ikut mencarinya. Bahkan sang Raja Angkasa yang baru pun jika tidak dilarang ibunya akan ikut mencari di mana keberadaan Ara. Semuanya tampak mencemaskan Ara. Tak terkecuali Raja Sky sendiri. Tapi sepertinya hal itu tidak terjadi pada ratu. Ratu tampak senang Ara tidak berada di istana.


"Ara, aku datang untuk menjemputmu."


__ADS_2