
"Em, Pangeran. Sampai kapan kau akan menghindar seperti itu?" tanya Ara kemudian.
"Hah? Benar, kah?" Xi pun tampak tak menyadari apa yang dilakukannya.
Ara tersenyum. Ia tahu jika Xi ingin menjaga jarak darinya. Tapi perkataan Tetua Agung itu seolah memintanya untuk bersikap terbuka kepada Xi.
"Baiklah jika ingin menghindar lagi. Aku kembali saja ke kamar," ancam Ara.
"Ara!"
Saat itu juga Xi memegang tangan Ara. Ia menahan Ara agar tidak pergi darinya. Ara pun menyadari jika sesungguhnya Xi ingin dekat dengannya. Tapi karena kejadian kemarin, membuat Xi berubah. Lantas Ara pun berbalik menghadap Xi.
"Pangeran?" Ara menunggu Xi bicara.
Xi terdiam di tempatnya. Ia melepaskan tangannya dari Ara. Ia merasa bingung harus bicara apa. Ia takut salah kata dan membuat Ara ketakutan lagi padanya. Sisi lain dari dirinya harus ia kubur dalam-dalam. Dan kini yang ada di hadapan Ara adalah Xi yang lainnya. Dalam raga yang sama mempunyai kepribadian yang berbeda.
__ADS_1
"Ara, kenapa ... kau bangun? Apakah tidurmu tidak nyenyak?" Xi mencoba mengajukan pertanyaan kepada Ara. Ia bingung harus bicara apa.
Ara mengangguk. "Aku rasa ingin berjalan-nalan sebentar." Ara mengungkapkan.
"Eh?!" Xi pun terkejut.
"Itu juga kalau Pangeran Xi tidak keberatan." Ara tetap sopan dan hormat kepada pria yang ada di hadapannya.
Xi akhirnya tersenyum. Ia merasa senang karena Ara tidak menunjukkan raut wajah yang marah padanya. "Tapi cuaca sedang dingin. Apa tidak apa berjalan-jalan di malam yang selarut ini?" Xi mencoba memastikan lagi.
Saat itu juga Xi jadi mengerti. Ia kemudian mempersilan Ara untuk berjalan duluan di depan.
"Mari."
Xi akan menemani Ara berjalan-jalan malam ini. Di tengah pergantian hari yang dingin dan sunyi. Ara pun menerimanya dengan senang hati.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian...
Istana tampak sepi, hanya para prajurit yang berjaga saja yang masih hilir mudik memeriksa keamanan istana. Ara dan Xi pun tampak berjalan bersama menyusuri koridor istana. Tampak Xi yang menjaga jaraknya dari Ara. Ara pun tertawa sendiri melihatnya. Xi kini telah berubah. Ia tidak seagresif sebelumnya. Yang mana membuat Ara bertanya-tanya, yang mana sifat Xi sebenarnya?
Kini gadis penjaga pohon surga itu tampak melihat-lihat sekitaran kawasan koridor istana yang menuju ke teras depan. Xi pun mencuri pandang ke Ara. Sesekali ia memerhatikan Ara saat Ara tidak melihatnya. Tapi hal itu ternyata disadari oleh Ara. Ara kemudian memulai percakapannya sambil berjalan bersama.
"Aku ... tidak tahu sebelumnya jika kau adalah putra mahkota dari Arthemis, Pangeran." Ara mengungkapkan.
Xi terdiam. Ia mendengarkan Ara.
"Aku hanya mendengar tentang dirimu saja. Tapi tidak tahu jika pria yang kutemui di danau angsa putih itu adalah dirimu. Yang aku herankan, bagaimana bisa kau ke sana? Bukankah Angkasa telah memperkuat sistem keamanannya?" Ara mencoba menyelidikinya pelan-pelan.
Xi tersenyum. Ia merasa malu. "Prajurit perbatasan juga tidak tahu jika aku adalah pangeran Arthemis. Sama sepertimu." Xi menjelaskan.
Saat itu juga Ara mengangguk. Ia menyadari ketidaktahuan bisa menyebabkan hal yang fatal terjadi.
__ADS_1
"Sebenarnya kedatanganku ke Angkasa karena ingin mencicipi buah surga itu. Katanya buah itu dapat menetralkan seseorang dari sihir. Aku pun begitu penasaran sekali. Tapi selama ini buah itu tidak bisa dipetik selain jatuh dari pohonnya sendiri. Sampai akhirnya kudengar ada seorang gadis yang bisa memetik buah itu langsung dari pohonnya."