
Malam harinya...
Langit cerah berbintang dengan awan putih yang berarak di angkasa. Tampak sang rembulan tertutupi awan putih yang melintasinya. Menambah keindahan malam negeri berlambang gunung kristal ini. Yang mana salju kapan saja bisa datang.
Di sana, di depan teras kamar Ara, tampak Xi yang sudah menghidangkan santap malam untuk sang gadis pujaan. Ia memasaknya sendiri selepas kembali dari air terjun. Dan kini ia tengah menunggu Ara keluar dari kamarnya. Tak berapa lama Ara pun datang.
"Maaf membuat lama menunggu." Ara kemudian duduk di hadapan Xi.
Xi tersenyum. "Tidak apa, Ara. Jangankan hanya satu jam, seribu tahun pun aku akan menunggumu." Xi menggombali Ara.
Ara tertawa. Ia kemudian melihat hidangan yang telah disajikan.
"Aku memasaknya sendiri dari rempah-rempah khas pegunungan Arthemis. Cicipilah. Dengan senang hati aku akan menunggu tanggapannya," kata Xi lalu mengambilkan Ara udang asam manis yang ia buat sendiri.
Ara mengangguk. Ia kemudian mencicipi udang asam manis buatan Xi. Saat itu juga ia mengernyitkan dahi.
"Bagaimana?" tanya Xi ke Ara.
__ADS_1
"Em ...," Ara terlihat ragu menjawabnya. "Sedikit asin. Apakah memang seperti ini rasanya?" tanya Ara yang khawatir menyinggung Xi.
"Benar, kah?!" Xi pun tak percaya. Ia langsung menyicipinya sendiri. Dan ternyata... "Astaga!" Ia pun segera meneguk air minumnya.
"Pangeran? Kau baik-baik saja?" tanya Ara segera.
"Em, ya." Xi pun menyeka mulutnya dengan tisu yang ada di meja. "Em, maaf, Ara. Sepertinya aku terlalu banyak menambahkan saos tiram. Lain kali tidak lagi." Xi berjanji.
Ara tertawa. "Aku tahu kenapa rasanya bisa asin." Ara mencoba menghibur Xi.
"Kenapa?" tanya Xi kembali.
Saat itu juga Xi jadi malu sendiri. Ia kemudian mengangguk. "Itu benar. Tapi mungkin juga kebetulan." Xi mengakuinya.
Ara tersenyum. "Lain kali panggil aku saja jika ingin memasak. Aku akan menemaninya," tutur Ara.
"Benar, kah?" Xi semringah mendengarnya.
__ADS_1
Ara mengangguk. Keduanya kemudian tertawa bersama lalu melanjutkan santap malamnya. Tampak Ara yang keibuan di depan Xi. Ia seperti tak malu-malu lagi untuk bercengkrama dengan pangeran dari Negeri Arthemis itu. Sedang Xi merasa hatinya berbunga-bunga saat ini. Bak taman bunga yang sedang bermekaran indah. Xi bahagia bersama Ara. Ia ingin kebahagiaan ini selamanya.
Sementara itu...
Bulan malam ini menjadi saksi seorang putra mahkota yang sedang duduk sendiri di pelataran teras atap kediamannya. Ialah Rain yang sedang duduk menekuk kedua lututnya sambil memandangi rembulan yang ada di sana. Ia pun mencoba menggapainya. Tapi rasanya itu mustahil dilakukannya. Karena nyatanya Rain tidak akan bisa menggapainya.
Saat ini hatinya begitu sedih. Sosok gadis yang biasanya menemani hari-harinya tidak lagi berada di sisi. Rain pun hanya bisa memejamkan mata untuk mengingat semua kenangannya bersama Ara. Tanpa sadar tetes demi tetes air mata itu membasahi pipinya. Rain menangis saat teringat dengan Ara.
Sebagai seorang putra mahkota, Rain tidak bisa bergerak semaunya. Dan sebagai panglima istana, ia tidak bisa seenaknya memberi perintah. Rain harus mendiskusikannya terlebih dahulu dengan kakaknya. Karena nyatanya kini tahta tertinggi ada di kakaknya. Sang ayah telah memercayakan keduanya untuk mengatur negeri ini. Mereka pun harus saling bahu membahu menyejahterakan negeri. Tidak boleh mementingkan ego sendiri. Semua harus memikirkan kesejahteraan dan keamanan rakyatnya.
"Ara, aku ... merindukanmu."
Itulah yang Rain ucapkan saat memejamkan matanya mengingat Ara. Hangat tubuh sang gadis coba ia rasakan kembali. Bagaimana Ara yang manja, bagaimana Ara yang bertingkah lucu di hadapannya. Rain pun merindukan itu semua. Ia tidak bisa hidup tanpa gadisnya.
.........
...Rain...
__ADS_1