DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Asal Usul Yang Sebenarnya


__ADS_3

Sementara sang mantan penasihat sendiri tampak tidak bisa menerimanya. Ia pun dikeluarkan secara paksa dari istana. Ia dendam kepada Ara. Karena menurutnya, semua pemecatan ini dikarenakan Ara. Tanpa sadar dengan kesalahannya yang menghasut raja.


Xi sendiri melihat percakapan itu dari balik dinding istana. Ia pun merasa geram dengan sikap sang mantan penasihat ayahnya yang semena-mena. Xi bergumam dalam hatinya. Ia menaruh kekesalan yang belum sempat dikeluarkan.


Jika tidak melihat sumbangsihmu selama ini, tentunya dapat kupastikan kepalamu itu sudah terpisah jauh dari badanmu. Kau semena-mena memberi nasihat kepada ayahku. Tanpa berpikir jika dirimu yang berada di posisi itu. Kerajaan ini harus segera direnovasi. Baik secara bangunan ataupun budi pekerti. Jangan sampai salah langkah lagi.


Selama ini Xi tidak peduli terhadap struktur pemerintahan negerinya. Tapi sejak melihat Ara akan dieksekusi mati, ia menyadari sesuatu yang salah telah terjadi pada sistem pemerintahan kerajaan ayahnya. Xi pun jadi berniat untuk merubahnya menjadi yang lebih baik lagi. Ia mulai menunjukkan kepeduliannya terhadap istana. Tentunya semua ini tak lain karena Ara semata. Ia ingin membuat Ara merasa nyaman di istananya.


Lantas apakah Ara akan benar-benar merasa nyaman di istana Xi? Dan apakah ia akan menuruti permintaan Tetua Agung untuk belajar mencintai Xi?

__ADS_1


Malam harinya...


Keadaan di istana terasa begitu dingin kala memasuki malam. Sang raja pun diam-diam mencari Ara untuk mengobrol sebentar. Tapi ternyata, sebuah kenyataan membuatnya terperanjat seketika. Yang mana Ara ternyata berada di dalam kamar putranya. Sang raja pun segera menanyakan kepada putranya. Mengapa Ara bisa berada di dalam kamarnya?


"Aku khawatir ada yang mencelakai Ara, Yah. Ruang pengobatan istana itu jauh dari pandangan mataku. Maka dari itu dia kubawa ke kamarku saja." Xi menjelaskan.


Keduanya duduk di pelataran teras kamar Xi, di malam yang dingin ini. Sang raja pun tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.


Xi menunduk. Ia kemudian mengangguk. "Maaf, Yah. Tapi aku sangat khawatir kehilangannya." Xi menuturkan.

__ADS_1


Sang raja tampak menghela napasnya panjang-panjang. "Kakek dan ibumu belum juga pulang ke istana. Dan kini kau sudah membuat ulah. Bagaimana jika mereka datang dan melihatnya?" tanya sang ayah.


Saat itu juga Xi terperanjat hebat. "Apa aku harus segera menikahinya, Yah?" Xi meminta pendapat ayahnya. Raja pun menggelengkan kepalanya, tak percaya.


"Putraku, kau harus ingat jika dia berasal dari Angkasa. Kalian tidak mungkin bersama." Sang ayah mengingatkan.


"Angkasa?!" Saat itu juga Xi merasa ada yang salah. "Ara bukan penduduk asli Angkasa, Yah. Dia seorang pekerja di sana." Xi menjelaskan.


Saat itu juga sang ayah terkejut seketika. "Benar, kah?" Ia tak percaya.

__ADS_1


Xi mengangguk. "Ara bekerja di istana Angkasa sebagai seorang desainer di sana. Yang mana pekerjaannya itu membuatnya dekat dengan para penghuni istana. Angkasa pun sudah menjadi seperti rumahnya. Asal Ara sendiri, aku belum mengetahuinya sampai detik ini. Dia tidak pernah menceritakannya. Saat aku mencari tahunya dari Zu pun, dia tidak mengetahuinya. Tapi yang jelas Ara bukanlah penduduk pribumi negeri itu. Dia bukan berasal dari Angkasa." Xi menerangkannya dengan jelas.


Sang raja tampak mengerti. Sepercik harapan itu pun mulai merekah di hatinya. Ternyata Ara bukanlah penduduk asli Angkasa.


__ADS_2