
"Saya ... saya diculik oleh pangeran Xi sehingga bisa sampai ke sini," terang Ara seraya tertunduk.
"Apa?!!" Seketika itu juga seisi ruangan terbelalak tak percaya.
"Nona jangan bicara sembarangan! Tidak mungkin pangeran Yang menculikmu! Kau benar-benar keterlaluan memfitnah pangeran!" Seorang pejabat dari sayap kiri tampak berdiri dari duduknya.
"Tenang. Harap tenang." Raja pun meminta kepada pejabatnya agar tenang. Ia kembali kepada Ara. "Nona, tolong jangan mempersulit keadaan. Katakan yang sejujurnya, bagaimana bisa Nona kemari dan apa tujuan utamanya?" pinta raja lagi.
Jantung Ara mulai berdebar kencang karena kejujurannya tidak dipercayai. Sedangkan apa yang dikatakannya adalah benar. Ara tidak mungkin berbohong hanya untuk menarik simpatik orang.
"Yang Mulia, waktu itu saya ingin mengambil buah surga. Tapi pangeran Xi tiba-tiba datang dan membuat saya tidak sadarkan diri. Dan saat saya terbangun, saya sudah berada di kastilnya." Ara berkata jujur.
"Wanita laknat! Berani-beraninya kau memfitnah pangeran kami!"
__ADS_1
Seseorang dari sayap kiri pun mengeluarkan pedangnya. Sontak Ara ketakutan melihat pedang tajam itu dikeluarkan dari sarungnya. Detak jantung Ara semakin tidak terkendali. Ia amat takut dieksekusi.
"Pejabat Yan, apakah Anda bisa tenang? Jika tidak, silakan keluar," pinta raja kepada pejabatnya.
"Tapi, Yang Mulia--"
"Prajurit!" Raja pun memanggil prajuritnya.
"Tolong antarkan pejabat Yan pulang ke rumahnya. Dia tampaknya sudah lelah," tutur sang raja. Saat itu juga Yan tidak terima.
Baginda mengusirku karena gadis itu? Sialan! Dia memang pembawa petaka ke istana ini!
Ia pun semakin menjadi-jadi. Yan semakin benci terhadap gadis yang datang ke istana ini. Tentunya hal ini pun penasihat raja sadari. Ia tampak tersenyum karena ada seseorang yang satu pendapat dengannya.
__ADS_1
"Yang Mulia, saya rasa hal ini sudah sangat keterlaluan. Nona memfitnah pangeran besar-besaran. Tidak mungkin pangeran melakukan hal itu kepadanya. Pangeran masih berkelana ke berbagai negeri. Itu hanya bisa-bisanya saja, Yang Mulia." Sang penasihat menghasut raja.
Raja tampak memikirkan hal ini. Ia merasa putranya juga tidak mungkin menculik Ara. Tapi ia berpikir lain jika itu ada benarnya, maka hukuman akan berbalik ke putranya. Raja pun harus berhati-hati mengambil keputusan untuk Ara.
"Yang Mulia. Selama ini kita bertindak tegas. Mengapa Yang Mulia kalah terhadap seorang wanita? Pastinya Yang Mulia sebelumnya akan menyayangkan hal ini jika Yang Mulia tidak bisa bertindak tegas."
Salah satu pejabat menyinggung kakek Xi. Ia mengompori raja. Sontak raja pun kesal seketika. Ia akhirnya mengambil keputusan tanpa berpikir lagi.
"Demi nama baik kerajaan, aku akan tetap melaksanakan peraturan leluhur. Prajurit! Tolong bawa Nona ini ke sel ruangan bawah tanah. Persiapkan eksekusi untuknya!" Raja memutuskan.
Saat itu juga Ara tak percaya dengan keputusan sang raja. "Yang Mulia, saya tidak bersalah. Saya menceritakan hal yang sebenarnya. Yang Mulia! Tolong saya! Saya adalah korban penculikan dari putra Anda!"
Ara berteriak histeris. Ia tidak terima eksekusi dari raja. Ia merasa tidak bersalah dalam hal ini. Ia adalah korban dari Xi. Tapi para prajurit itu segera membawanya paksa. Saat itu juga Ara berteriak sekencang-kencangnya. Ia membela dirinya. Namun, teriakannya itu ternyata tidak dihiraukan. Ara dianggap sudah menyalahi aturan. Keputusan eksekusi pun harus diterimanya. Ara akan diungsikan ke sel bawah tanah.
__ADS_1