DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Penjelasan


__ADS_3

"Mereka semua tidak tahu siapa gadis itu, Putraku. Tenangkanlah dirimu," pinta sang raja dari jauh. Tampak Xi yang berusaha sekuat mungkin untuk mengatur ulang napasnya. Amarahnya sudah bergemuruh di hati.


"Kalian semua bisa keluar dari ruangan ini. Aku ingin bicara pada putraku," pinta raja kepada semua orang yang ada di dalam ruangan.


"Baik, Yang Mulia."


Mereka pun satu per satu keluar dari ruangan itu. Baik para pejabat maupun prajurit yang telah berusaha mencegah Xi agar tidak bertindak anarkis. Dan kini hanya ada raja dan putra tunggalnya di dalam ruangan pejabat istana.


"Masukkan kembali pedangmu, Putraku." Raja meminta kepada putranya.

__ADS_1


Xi tampak menurut kepada ayahnya. Ia pun memasukkan kembali pedangnya dengan hati yang kesal. Sedang sang ayah duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Ia pun meminta putranya untuk duduk bersamanya.


"Duduklah," pinta sang raja kepada putranya. Raja pun tampak menuangkan segelas air untuk Xi.


Kericuhan yang terjadi di ruang para pejabat istana itu tentu saja membuat raja harus turun tangan dan melihat langsung apa yang sedang terjadi. Yang mana ia ketahui jika putranya lah yang membuat keributan di sana. Raja pun segera menuju ruangan untuk menghentikannya. Waktu istirahatnya pun harus tertunda sejenak karena ulah sang putra. Xi pun menyadari kehadiran ayahnya segera. Ia menghentikannya.


Xi adalah seorang anak yang penurut. Namun, ia tidak bisa mengendalikan emosi saat pikirannya kalut. Xi seorang pria yang mudah tersentuh hatinya. Tapi ia juga mempunyai ambisi yang besar dalam dirinya. Katakanlah jika Xi mempunyai kepribadian ganda. Kadang baik, kadang juga tidak mengenal belas kasihan. Tergantung bagaimana situasi di sekelilingnya saat itu. Dan Raja memaklumi sifat putranya.


Xi menoleh. "Jadi Ayah sekarang sudah tahu siapa Ara?" tanya Xi yang masih terus mencoba menyetabilkan emosinya.

__ADS_1


Raja mengangguk. Pria bermahkota emas itu kini telah mengetahui siapa Ara. "Sebelumnya ayah sudah mencoba bicara padanya. Tapi pembicaraan kami terputus saat mengetahui dia berasal dari Angkasa. Kau tahu sendiri bagaimana hubungan kedua negeri. Sehingga ayah segera menjaga jarak darinya. Ayah tidak ingin para pejabat istana berpeasangka yang tidak-tidak." Ayahnya menuturkan.


Xi terdiam. Ia tampak memaklumi hal ini.


"Masalahnya, setelah ayah tahu siapa gadis itu, ada sesuatu yang ayah khawatirkan. Ternyata putra mahkota dari Asia amat menginginkannya. Dia ingin menjemput Ara segera," kata Raja lagi.


"Ayah memberi tahu jika Ara ada di sini?" Xi pun segera menanyakannya.


Sang ayah menggelengkan kepalanya. "Belum." Saat itu juga hati Xi sedikit lega. "Ayah masih berpikir untuk membalas pesan itu. Karena ayah lihat kau seperti sungguh-sungguh terhadap gadis itu. Apakah ini akhir dari pengembaraanmu?" tanya raja kepada putranya.

__ADS_1


Xi terdiam. Ia merenungi maksud dari kata-kata ayahnya. Ia akhirnya mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Xi pun tampak ragu untuk mengatakannya. Tapi sang raja tampak setia menunggu jawaban putranya. Hingga akhirnya Xi pun mengatakan isi hatinya tentang Ara.


"Dia ... dia gadis yang mencuri perhatianku. Dia gadis yang kusukai saat ini, Yah." Xi memulai perkataannya.


__ADS_2