
Raja menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tampak mengusap wajahnya. Tak percaya dengan apa yang didengar dari sesepuh istana.
Jadi dia adalah gadis yang diramalkan itu? Dia sudah datang?
Entah mengapa raja mulai gelisah saat mendengar jika Ara adalah titisan dewi penjaga pohon surga. Raut wajahnya berubah cemas, keringat dingin pun mulai bercucuran dari dahinya. Sang raja tampak memedam rasa kekhawatiran yang begitu besar.
"Aku tidak tahu harus berkata apa jika dia adalah gadis yang dimaksud. Aku benar-benar tak menyangka. Aku merasa bersalah," terang raja kepada sesepuh istana.
"Yang Mulia, sepertinya kita bisa mengakhiri semua kegelapan yang ada di negeri ini. Kita bisa memulai hidup baru yang lebih baik lagi. Tentunya dengan bantuan nona itu. Tapi, saya rasa setiap langkah memang mempunyai risiko tersendiri," tutur sesepuh istana.
__ADS_1
"Maksud Sesepuh?" Raja pun segera menanyakannya.
Sesepuh istana tampak mengembuskan napasnya sebelum bicara pada raja. "Pangeran Xi bisa terbebas dari kutukan itu. Tentunya dengan bantuan nona sendiri. Tapi, ada dua kemungkinan jika hal itu dilakukan. Yang pertama mati karena dikendalikan kutukan atau nona yang membunuh kutukan itu sendiri. Saya rasa setiap langkah berisiko tinggi." Sesepuh istana menjelaskan.
Raja beranjak berdiri. Ia tampak enggan menerima kenyataan ini. Ia terlihat pusing sekali.
"Aku tidak tahu siapa yang harus disalahkan jika sudah seperti ini. Aku tidak mungkin menyalahkan Baginda sebelumnya. Apa yang terjadi sudah terlalu sulit untuk dikendalikan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan." Raja tampak bingung mengambil langkah yang pasti.
Sementara itu...
__ADS_1
Xi tampak tersadar dari hal yang dialaminya. Ia pun menyebut nama Ara agar menemaninya. Hingga akhirnya Ara pun duduk menunggu di sisinya. Ia kemudian mengusap keringat di dahi Xi. Saat itu juga usapan Ara terasa begitu bermakna untuknya. Xi mampu membuka kedua mata dan melihat yang Ara tersenyum di sisinya.
Kala cinta datang menggoda, memaksa setiap insan untuk segera memilikinya. Tak lagi memandang kasta, harta, ataupun jabatan semata. Begitu juga dengan yang dialami Xi saat ini. Ia tidak lagi peduli siapa dirinya, siapa Ara. Yang ia tahu hanya rasa nyaman saat bersama Ara. Dan rasa nyaman itu tidak bisa dibelinya. Xi ingin Ara selalu menemaninya.
Ara sendiri mulai khawatir saat bersentuhan dengan Xi. Ia khawatir sesuatu di dalam tubuh Xi itu berontak dan berulah lagi. Mengacaukan keadaan istana sehingga butuh dibacakan mantra lagi. Ara tak mengerti mantra apa yang dimaksud. Tapi sepertinya ia akan mengetahui jawabnya. Ara akan menanyakan langsung pada Xi. Ia ingin tahu dari mulut Xi sendiri.
"Pangeran, bagaimana keadaanmu?" tanya Ara sambil mengambil kompresan dari dahi Xi.
"Ara ...," Suara Xi pun terdengar lemah sekali. "Ara, tetaplah di sini," pinta Xi.
__ADS_1
Pangeran ....
Saat itu juga Ara merasa kasihan. Ia tidak tega mendengar permohonan Xi kepadanya.