DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Mencari Jejak


__ADS_3

"Semoga besok pagi surat ini sudah bisa sampai ke Arthemis."


Zu menandatangani surat itu. Ia kemudian menggulung surat tersebut lalu dimasukkan ke dalam tabung kecil yang ada di kaki burung. Zu pun menyebutkan nama tempat dengan bahasa khusus ke burung tersebut. Tampak burung itu yang seperti mengerti perkataan Zu.


Zu kemudian mencium kepala burung itu lalu menerbangkannya. Burung pengantar pesan pun segera terbang ke angkasa dengan membawa surat darinya. Zu berharap bisa mendapatkan kabar secepatnya. Ia berharap bisa menemukan Ara segera. Ia tidak ingin Ara sampai kenapa-kenapa.


Lain Zu, lain juga dengan Ara. Gadis rebutan para pangeran kerajaan itu tampak duduk bersembunyi di dalam peti kemas bekas bahan makanan yang diantar. Sayup-sayup terdengar suara kapal sudah mendarat di pelabuhan. Ara pun menunggu keadaan sepi untuk keluar dari tempat persembunyian. Ia ternyata telah berhasil melarikan diri dari kastil Xi. Tentunya tanpa sepengetahuan Xi sendiri.


Pada akhirnya peti kemas tempatnya bersembunyi diangkat lalu dimasukkan ke dalam kereta kuda yang besar. Ara pun menyadari jika situasi sudah mulai aman. Ia membuka peti tersebut dari dalam. Dan terlihatlah pemandangan pelabuhan yang begitu ramai. Kereta kuda itu pun mulai dilajukan. Entah akan dibawa ke mana, Ara mengikut saja. Ia berharap bisa bertemu dengan orang baik lalu membawanya kembali pulang ke Angkasa. Tapi apakah semua itu bisa?

__ADS_1


Satu jam kemudian...


Ara tiba di balai kota sebuah negeri yang bercuaca dingin. Ara pun mulai merasa kedinginan karena cuaca sekitar kurang bersahabat dengannya. Ara membutuhkan mantel tebal untuk melindungi tubuhnya. Ia pun mencoba keluar dari peti tempatnya bersembunyi. Namun sayang, Ara kepergok oleh seorang ibu-ibu yang melihatnya keluar dari peti. Lantas saja ibu-ibu itupun berteriak dan menuduh Ara pencuri.


"Pencuri! Ada pencuri!"


"Tuan, tolong lepaskan aku. Aku bukan orang jahat. Aku hanya ingin mencari mantel."


Kedua tangan Ara dipegangi. Ia lalu dibawa masuk ke sebuah ruangan yang ada di balai kota. Ia kemudian dikurung di sana sampai prajurit yang berjaga datang. Hari Ara pun dimulai di negeri yang dingin ini. Di Arthemis, di sebuah negeri yang diselimuti oleh aura mistis. Lalu mampukah Ara meloloskan diri dari sana?

__ADS_1


Dua puluh menit kemudian di balai kota...


"Kau masih tidak ingin mengaku dari mana asalmu, Nona? Maka jangan salahkan kami jika membawamu ke istana!"


Begitulah yang dikatakan oleh prajurit penjaga balai kota. Sesaat setelah ia datang, Ara segera diinterogasi tentang siapa dan dari mana asalnya. Tentu saja Ara tidak mau menceritakan dari mana asalnya karena ia khawatir akan dibunuh di sana. Sedang tujuan awalnya hanya ingin kembali ke Angkasa. Ara ingin mengakhiri ini semua.


"Bawa dia ke istana! Wanita ini tidak bisa diajak bekerja sama!"


Pada akhirnya Ara pun dipaksa untuk masuk ke kereta kuda. Ia dikunci dari luar lalu segera dibawa menuju istana. Ara tampak diam tak bicara. Ia menahan rasa takut di hatinya. Ia amat takut dengan apa yang akan terjadi nanti. Rasanya ingin menangis saja dan berteriak sekencang-kencangnya. Tapi, Ara tahu jika hal itu tidak ada gunanya. Satu-satunya cara adalah mencari pertolongan agar bisa kembali ke Angkasa. Tapi kepada siapa?

__ADS_1


__ADS_2