DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Bingung


__ADS_3

Ara memutuskan untuk bersantai sejenak di gazebo depan istana. Ia ingin melihat-lihat pemandangan taman yang begitu memanjakan mata. Bunga berwarna-warni tampak menghiasi sekelilingnya. Gemercik air kolam yang ada di gazebo pun seakan menambah ketenangan batinnya. Ara mulai merasa betah di istana. Ia terhanyut dengan lingkungan dan cita rasa yang dimiliki negeri ini.


"Dia pasti sangat sulit untuk menanggung sendirian kutukan itu."


Ara pun menyadari dengan apa yang dilihatnya di pundak Xi tadi. Yang mana ia melihat gambar ular hitam di pundak Xi. Ara pun merasa prihatin dengan apa yang menimpa Xi. Ia jadi ingin membantu Xi agar terlepas dari kutukan itu. Tapi Ara sendiri juga tidak tahu bagaimana caranya. Ia masih terlalu awam untuk mengetahui hal-hal seperti itu.


"Ara, kau tadi mencariku?"


Tak lama berselang Xi pun datang. Sontak Ara terkejut karena apa yang sedang dipikirkannya kini telah berada di hadapannya. Ara pun menggeser tempat duduknya.


"Pangeran?" Ara mempersilakan Xi duduk di dekatnya.


"Aku sedang latihan tadi. Dan kata prajurit kau menungguku. Apakah itu benar?" tanya Xi ke Ara.

__ADS_1


Ara merasa bingung untuk menjawabnya. Haruskah jujur jika ia hanya ingin tahu saja? Ataukah berbohong jika ia menunggu Xi agar dapat menyenangkan hati pangeran Arthemis ini?


"Aku terpukau dengan latihanmu, Pangeran." Pada akhirnya Ara berkata seperti itu kepada Xi.


"Terpukau?" Xi merasa bingung.


Ara menganggukkan kepalanya. "Aku malu untuk mengatakan yang sesungguhnya. Tapi yang jelas bentuk tubuhmu saat latihan itu sungguh memesona," terang Ara kemudian.


Ara ....


"Pangeran, kue ini enak sekali. Apakah memang khas dari negeri ini?" tanya Ara lalu mengambil satu kue pie kecil yang ada di atas meja gazebo.


"Oh, itu. Itu hanya iseng saja awalnya. Tapi malah banyak yang menyukainya," terang Xi.

__ADS_1


"Maksudnya?" Ara pun tak mengerti dengan maksud ucapan Xi.


Xi tersenyum ia menatap Ara dalam sekali. Ara pun bahkan bisa melihat pantulan dirinya di bola mata Xi yang hitam. Saat itu juga keadaan sekitar terasa sepi sekali. Hanya detak jantung keduanya saja yang terdengar.


Pangeran ....


Ara ....


Xi kemudian memberanikan diri untuk memegang tangan Ara. Perlahan-lahan ia pun menggapainya. "Bisakah pura-pura menjadi kekasihku agar itu terjadi sungguhan?" tanya Xi yang membuat detak jantung Ara begitu keras.


Dia ... dia sampai seperti ini?


Hati Ara pun merasa terenyuh dengan permintaan Xi. Ia tidak tahu harus berkata apa manakala Xi sampai memohon kepadanya. Ara tahu benar jika tidak ada satu pun pria yang mau diduakan kekasihnya. Maka dari itu sebisa mungkin ia menetapkan hati hanya untuk seorang saja. Tapi mendengar ucapan Xi bagai sebuah permohonan untuknya. Xi meminta Ara untuk pura-pura menjadi kekasihnya agar hal itu bisa segera terwujudkan. Ara pun merasa kasihan.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang membuat dia menyukaiku?


Lantas Ara pun menarik napas dalam-dalam untuk menormalkan detak jantungnya. Sebisa mungkin ia bersikap biasa saja di saat Xi kembali meminta hatinya. Walaupun secara tidak langsung, tapi cukup membuat hati Ara terenyuh. Ara merasa kasihan dengan pangeran yang ada di hadapannya. Ia merasa bingung untuk mengambil langkah apa.


__ADS_2