
Sang penasihat tampak tak percaya jika rajanya akan berkata demikian. Begitu juga dengan prajurit yang membawa Ara. Mereka tampak heran dengan sikap raja. Mengapa bisa berwelas asih kepada Ara. Sebuah asumsi pun muncul di tengah pikiran mereka.
Siapa gadis ini? Kenapa dia bisa membuat raja jadi berwelas asih? Apakah dia anak salah satu dari penyihir negeri ini?
Penasehat raja pun kemudian memerintahkan prajurit untuk membawa Ara ke rumah kecantikan istana. Tampak prajurit itu yang menurutinya. Ara pun lekas dibawa ke rumah kecantikan istana. Ia akan didandani di sana. Sepertinya Raja Arthemis berniat sesuatu kepada Ara. Apakah ia akan menjadikan Ara ratu yang ke dua?
Menjelang sore hari di istana Arthemis...
Gelas-gelas kaca tampak memeriahkan ruangan sang raja yang begitu mewah. Ara pun dihadapkan kepadanya setelah menjalani perawatan di rumah kecantikan istana. Ara dibersihkan, dimandikan dan juga didandani sedemikian rupa. Dan saat dibawa ke hadapan raja, saat itu juga raja terbelalak seketika. Ia seperti melihat bidadari turun dari surga.
"Yang Mulia." Pelayan kecantikan istana datang menghadap raja sambil membawa Ara.
Ayah dari Xi itu baru berkepala lima. Wajahnya juga masih tampak awet muda seperti sepuluh tahun lebih muda dari usianya. Ia adalah perwujudan Xi di masa tua. Dan kini ia tetap tampan walaupun sudah memasuki usia senja. Namun, sepertinya keterkejutan raja bukanlah karena menginginkan Ara untuk menjadi ratunya. Melainkan untuk putranya semata.
__ADS_1
"Biarkan kami bicara di sini," pinta sang raja kepada pelayan yang mengantarkan. Pelayan itupun segera berpamitan. "Silakan duduk, Nona." Raja pun meminta kepada Ara.
Ara hanya diam. Ia kemudian duduk di kursi yang disediakan. Sang raja pun duduk di hadapannya. Gadis bergaun sutera putih itu tampak begitu memukau pandangan raja. Aura kecantikan Ara bersinar terang di hadapannya.
"Bagaimana bisa kau dituduh sebagai seorang pencuri, Nona?" tanya raja kepada Ara.
Tanpa sepengetahuan mereka, penasehat raja menguping pembicaraan itu dari luar ruangan. Ia ingin tahu apa yang terjadi di dalam. Dan juga siapa Ara yang sebenarnya. Mengapa bisa rajanya sampai berlaku baik kepada seorang gadis yang di matanya hanya biasa-biasa saja? Apalagi tertuduh sebagai pencuri oleh rakyatnya. Penasehat itu ingin mengetahui yang sebenar-benarnya.
"Saya ... kedinginan, Yang Mulia. Saya ingin mencari mantel untuk menghangatkan badan. Tapi ada ibu-ibu yang mengira saya pencuri. Sehingga saya pun dihakimi. Mohon belas kasihannya, Yang Mulia," tutur Ara sambil tertunduk di hadapan raja.
"Dari mana kau berasal, Nona? Apakah dari salah satu kota yang ada di negeri ini?" tanya sang raja kembali.
Ara menelan ludahnya. Ia ragu untuk mengataknanya. Ia khawatir akan benar-benar dibunuh di sana.
__ADS_1
"Nona?"
Namun, Sang Raja bertanya kembali padanya. Ara pun seperti tidak mempunyai jalan selain mengatakan yang sebenarnya. Dengan hati harap-harap cemas, ia kemudian berkata jujur kepada raja.
"Saya ... saya dari Angkasa, Yang Mulia."
Saat itu juga bak halilintar menggelegar di atas istana. Raja tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Angkasa???"
Begitu juga dengan penasihat sang raja. Ia tampak terkejut mengetahui asal muasal Ara.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Arthemis kecolongan!"
__ADS_1
Ia pun segera pergi untuk memberi tahu pejabat lainnya. Ia tidak terima jika ada penyusup yang datang ke istana. Tapi Ara bukanlah seorang penyusup. Ia bisa berada di istana karena melarikan diri dari putra mahkota yang menculiknya. Lantas apa yang akan terjadi bilamana fitnah itu diterimanya?