DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Pesan Penting


__ADS_3

Mungkin aku sudah mati sekarang. Dan nyatanya aku hanya sendiri di sini.


Ara merasa dirinya telah meninggalkan dunia. Dan kini ia sendirian di atas hamparan luas bunga keabadian. Tidak ada Rain, tidak ada Cloud dan tidak ada juga Zu di sana. Pada akhirnya ia hanya sendirian tanpa ada yang menemaninya. Ara pun hanya bisa meratapi.


Terkadang apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Begitulah yang Ara rasakan saat ini. Dimana kebahagiaan yang ia nantikan itu tidak bisa juga ia dapatkan. Ara harus terpenjara dan menjadi tawanan banyak pangeran yang menyukainya. Sedang hati Ara sendiri hanya untuk kedua pangeran Angkasa. Terlebih Rain yang bertahta.


Ayah, Ibu, Ara rindu. Ara ingin pulang saja ke bumi dan mengakhiri semua petualangan ini. Apa yang Ara alami seakan tidak pernah ada habisnya. Ara juga tidak bisa memilih hingga membuat pangeran yang Ara cintai mengikhlaskan Ara bersama kakaknya. Dan kini hanya penyesalan yang Ara dapatkan. Ara ingin mengakhiri semuanya.


Begitulah kata hati sang gadis penjaga pohon surga. Ia merasa kesepian saat ini. Ia hanya sendiri ditemani semilir angin yang berembus pelan ke arahnya. Ia ingin kembali ke buminya. Tapi ia juga menyadari jika hal itu tidak mungkin terjadi. Portal belum kembali terbuka dan ia tidak berada di Angkasa. Ara harus mengalami kenyataan pahit dalam hidupnya. Daya tarik yang ada pada dirinya ternyata tidak membuatnya bahagia. Ara ingin biasa-biasa saja.

__ADS_1


"Dewi .... "


Tak lama kemudian seorang kakek tua pun memanggilnya. Kakek berjubah putih dengan janggut dan rambut yang sudah beruban. Ara pun segera berdiri saat menyadari ada yang memanggilnya. Ia pun segera mencari ke asal suara. Ia temukan Tetua Agung yang ada di sana.


"Kakek, apa kau datang hanya untuk memberi kabar buruk untukku?" tanya Ara segera.


Ara menundukkan kepalanya. "Sampai kapan aku begini, Kek? Tidak bisakah aku kembali ke bumiku saja? Aku ingin hidup biasa-biasa saja di sana. Di sini terlalu merepotkan. Belum lagi menyakitkan." Ara mengungkapkan keluh kesahnya.


Tetua Agung tersenyum kembali. "Bila kau menyerah, maka ceritamu akan berakhir, Dewi. Bertahanlah. Tak lama lagi kebahagiaan itu akan datang. Tapi, kau memang harus melalui masa-masa yang menyulitkan dulu. Anggap saja sebagai pembelajaran agar tidak mengulanginya di masa depan," tutur Tetua Agung kepada Ara.

__ADS_1


Ara merasa lemas. "Apa yang harus kulakukan saat ini? Aku sudah lelah dan hanya ingin mengikuti perintah saja." Ara tampak pasrah.


Tetua Agung tersenyum lalu memberikan sesuatu kepada Ara. "Ini, pakailah. Di setiap kali berdekatan dengan pangeran Arthemis, kau harus memakainya. Dia bukanlah manusia biasa seperti pangeran dari Angkasa atau Asia. Dia terlahir dengan kutukan yang ada di dalam tubuhnya. Wewangian itu dapat membuat apa yang di dalam tubuhnya tidak menyukaimu. Sehingga bilamana dia berontak, dia tidak akan sampai melukaimu." Tetua Agung menjelaskan.


Ara pun melihat apa yang diberikan Tetua Agung kepadanya. Ternyata berbentuk seperti roll parfum yang ada di dunianya.


"Lalu apa yang harus kulakukan lagi, Kek?" tanya Ara yang pasrah.


Tetua Agung memegang tongkatnya lalu menghentakkannya ke bumi. Saat itu juga Ara jadi bisa melihat Xi yang tengah menemani raganya di sana. Ara pun tak percaya melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2