DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Dihantui


__ADS_3

Sebuah kebenaran tentang Xi akhirnya Ara ketahui hari ini. Dimana sang pangeran merupakan wadah dari siluman ular yang mengikat perjanjian dengan Arthemis. Ara pun tak menyangka jika akan dihadapkan dengan situasi seperti ini. Ia merasa tidak mempunyai jalan lain selain menuruti apa yang dikatakan Tetua Agung. Tapi Ara juga merasa sungkan jika harus berdekatan dengan Xi. Ia tidak ingin berurusan dengan siluman ular itu.


Lantas apakah ada cara lain untuk menyelamatkan Xi dari perjanjian leluhurnya? Mampukah Ara membantu mencarikan jalan keluarnya?


Satu jam kemudian...


Gadis bergaun biru langit itu tampak menyendiri di dalam ruang pengobatan istana. Ia sedang memikirkan bagaimana cara agar bisa menyelamatkan Xi tanpa harus membunuhnya. Karena bagaimana pun kutukan itu sangat menganggu Xi, bahkan mengancam keselamatannya. Maka dari itu Ara mencari cara agar dapat menolongnya. Tapi, di saat ia memikirkan sebuah cara, tiba-tiba saja seekor ular menyelinap masuk ke dalam ruang pengobatan.


Apakah benar tidak ada cara lain? Tapi bukankah semua penyakit itu ada obatnya terkecuali tua dan pikun? Apa aku bisa menggunakan bunga malaikat untuk mengobatinya? Tapi jika memang bisa, pastinya sudah dari dulu dia diobati. Astaga, apa yang harus kulakukan?


Ara berpikir sendiri. Tanpa menyadari jika ular itu bergerak cepat ke arahnya yang sedang duduk di kursi peracikan obat. Hingga akhirnya ular itu pun mendesis di dekat Ara. Ia ingin mematuk Ara. Tapi, saat ingin mematuk, saat itu juga ular tersebut terlempar jauh ke sudut ruangan. Sontak Ara menyadari jika ada yang terlempar ke sana.

__ADS_1


"Ap-apa itu?!"


Lamunan Ara terpecah. Pikirannya buyar seketika. Ia pun melihat apa gerangan yang terlempar itu. Pelan-pelan mendekati sudut ruangan lalu melihat apa yang jatuh. Tapi, saat itu juga...


"Aaaaaaa!!!"


Ara berteriak. Ular itu ternyata melompat ke arah Ara. Sontak Ara melindungi wajahnya segera. Ular itu pun tidak lagi bisa mendekati Ara. Ia langsung keluar ruangan lalu entah ke mana. Prajurit yang berjaga di sekitar ruang pengobatan pun segera menemui Ara.


"Nona, ada apa?!" Tiga orang prajurit masuk ke ruangan pengobatan istana.


"Ular???" Tampak para prajurit itu saling melirik satu sama lain.

__ADS_1


"Cepat cari!"


Mereka pun akhirnya mencari ular tersebut di dalam ruang pengobatan. Sementara Ara sendiri memberanikan diri untuk membuka matanya.


Astaga ... apa ini sebuah pertanda untukku?


Ara bingung sendiri. Ia merasa apa yang dilihatnya itu adalah benar ular. Tapi nyatanya para prajurit tidak menemukan apa-apa di sana. Mereka pun meminta Ara untuk segera keluar dari ruang pengobatan istana.


"Tidak ada, Nona. Kami sudah mencarinya," terang salah satu prajurit.


"Mungkin Nona kelelahan. Lebih baik Nona beristirahat saja," pinta prajurit yang lain.

__ADS_1


"Benar, Nona. Kami khawatir jika Nona di sini malah akan menimbulkan halusinasi. Mari kami antarkan." Prajurit pun mempersilakan Ara untuk kembali ke kamar. Mereka akan mengantarkannya.


Siang ini Ara harus berhadapan dengan seekor ular yang mencoba mencelakainya. Tapi, semesta tak rela jika gadis penjaga pohon surga itu celaka. Hingga akhirnya ular itu pun terpental sendiri saat mencoba mematuk Ara. Alhasil Ara terselamatkan dari mara bahaya. Ara pun lekas kembali ke kamarnya untuk beristirahat segera. Ia akan beristirahat di sana.


__ADS_2