
Ara pun menahan dada Xi dengan kedua tangannya agar tidak bersentuhan dengan dadanya. Tapi pemandangan di kolam itu membuat Ara terkesima. Xi bertelanjang dada dengan tubuh yang basah di hadapannya. Menimbulkan sensasi ketertarikan antar lawan jenis yang luar biasa.
Xi tersenyum. Ia memerhatikan bibir peach milik Ara. Ia rengkuh tubuh Ara, seolah tidak ingin dilepaskannya. Sedang Ara masih menahan dada Xi agar tidak bersentuhan dengan dadanya.
Xi menekan pinggul Ara dengan panggulnya. Saat itu juga Ara menyadari apa yang diinginkan Xi darinya. Ara menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau sesuatu terjadi pada dirinya.
"Ara ... jadilah milikku," kata Xi yang membuat Ara terbelalak seketika.
Hangat napas itu mulai Ara rasakan. Xi pun memiringkan kepalanya ke Ara. Ia ingin meraih sesuatu yang Ara miliki. Ara pun tersadar dengan apa yang terjadi. Ia berusaha melepaskan diri. Tapi Xi tidak memberinya kesempatan untuk lari.
Xi mendekap Ara dengan erat. Kedua tangannya melingkar di pinggul Ara seakan tidak mengizinkan untuk Ara bergerak. Hingga akhirnya bibir itu semakin mendekat. Ara pun kelabakan menerimanya. Ia memalingkan wajahnya segera.
Cup.
__ADS_1
Xi akhirnya tidak berhasil mencium bibir Ara. Ia harus puas saat bibirnya mendarat di leher sang gadis. Xi pun tersenyum. Ia merasa ini adalah tanda yang bagus untuknya melangkah ke tahap selanjutnya. Xi pun mulai menciumi leher Ara.
"Pangeran, jangan! Lepaskan aku!"
Ara pun mencoba untuk menolaknya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari Xi. Ia mendorong dada Xi agar menjauh darinya. Tapi Xi menahan tangan Ara. Ia kemudian membalikkan tubuh Ara agar membelakanginya. Xi pun memeluk Ara dari belakang.
"Kau tidak ingin bertatapan muka? Baiklah. Maka dari belakang saja."
Beberapa saat kemudian...
"Ara! Ara!"
Tampak Xi yang mengejar Ara setelah apa yang terjadi di kolam renang. Ara pun berlari cepat menuju kamarnya yang berada di lantai dua kastil ini. Wajahnya merah padam menahan amarah yang sudah ingin meluap ke permukaan. Ia tidak lagi mengindahkan panggilan Xi yang mengejarnya.
__ADS_1
Ara masuk ke kamarnya, menutup pintu lalu menguncinya dari dalam. Ia pun segera mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang hanya terbalut kemben dan leging pendek. Sedang Xi sudah tiba di depan pintu kamarnya. Xi mengetuk-ngetuk pintunya.
"Ara, maafkan aku, Ara! Tolong buka pintunya!" pinta Xi dari luar kamar.
Ara tetap tidak mengindahkan. Rasa sesak begitu menyelimuti dadanya. Ia pun akhirnya menangis setelah merasa kehormatannya dinodai. Bagaimana Xi yang terus menerus menciumnya tanpa peduli dengan penolakan yang ia lakukan. Dan pada akhirnya Xi mendapatkan bibir itu. Ia mencium Ara di dalam kolam dengan hasrat yang memenuhi seluruh tubuh. Ara pun tak berdaya melawannya. Dan kini hanya penyesalan yang tersisa.
Ara terus menangis. Ia menyesali apa yang terjadi. Tapi ia juga tahu jika tidak bisa pulang ke Angkasa sekarang. Ara harus mencari cara untuk menyeberang pulau. Entah bagaimana caranya.
"Ara, tolong buka pintunya, Ara. Aku akan mempertanggungjawaban semuanya." Xi terus mengetuk pintu dari luar.
Xi merasa bersalah. Ia mengusap wajahnya karena telah melakukan hal yang tak pantas kepada Ara. Tapi kejadian itu berlangsung begitu saja. Seperti tidak bisa dicegahnya. Ia hanya mengikuti hasrat yang menuntunnya. Tapi setelah kejadian itu, ia pun tersadarkan jika apa yang dilakukannya adalah salah.
"Ara, buka pintunya!"
__ADS_1